Ali bin Mahdi


Ayahnya berasal dari kampung di daerah Zabid, tempat orang-orang shalih. Di tempat itu Ali tumbuh dan berkembang. Semasa hidupnya dia memilih kehidupan zuhud. Dia pernah menunaikan ibadah haji dan bertemu dengan banyak ulama, maka ia pun memperoleh ilmu dari mereka, kemudian dia mulai memberi nasihat. Dia tidak menyukai tentara.
Dia adalah ulama yang fashih, bersih wajahnya, tinggi postur tubuhnya, bersuara indah, banyak hafalannya, menjalani kehidupan sufi, memiliki tempat tidur yang tidak bagus, selalu ditimpa musibah, berbicara sesuai dengan bisikan hati nuraninya sehingga dapat menyentuh orang. Dia setiap hari memberikan nasihat dan dia suka melakukan hal tersebut.
Umarah Al Yamani berkata, “Aku pernah bersamanya selama satu tahun, aku meninggalkan pelajaranku dan mulai disibukkan dengan ibadah. Kemudian ayahku mengembalikanku lagi ke sekolah. Aku terus mengunjunginya sebulan sekali. Dan ketika keadaannya menjadi gawat, akhirnya aku meninggalkannya.”
Sejak tahun 530 H, dia terus memberikan ceramah berisi nasihat dan peringatan di kampung halamannya. Dia berdalil dengan cara yang baik. Tuannya Ummu Fatik telah membebaskannya dan seluruh kerabatnya dari membayar pajak hartanya. Mereka menjadi kaya hingga mampu mengumpulkan empat puluh ribu bala tentara untuk berperang. Dia ikut berperang dan berkata, “Sekarang sudah tiba waktunya, permasalahan sudah mendekat, seolah-olah apa yang aku katakan, kalian dapat menyaksikannya sendiri.” Kemudian dia bergerak menuju negeri Khaulan?, menyerang dan menawan, membunuh banyak manusia. Aku berjumpa dengannya ketika seseorang sedang menyeru pada sekelompok pasukan untuk mengerahkan tentara. Dia berpaling dan  kemudian merencanakan untuk membunuh menteri dari keluarga Fatik. Dia merangkak ke tempat Zabid, namun kuluarga Fatik dapat membunuhnya dan di tubuhnya terdapat lebih dari tujuh puluh luka. Dalam peperangan itu banyak yang terbunuh dari kedua belah pihak. Kemudian Fatik dibunuh oleh Mutawalli Zabid. Akhirnya kekuasaan diambil alih oleh Ibnu Mahdi pada bulan Rajab tahun 554 H.
Dia tidak sempat menikmati kekuasaan, dan mati terbunuh setelah berkuasa selama tiga bulan. Kekuasaan akhirnya dilanjutkan oleh anaknya Abdun Nabi. Kekuasaannya menjadi kuat dan besar, sampai menguasai seluruh negeri Yaman. Ia dapat mengumpulkan harta yang tidak dapat dihitung jumlahnya. Ia –ayahnya- memandang bahwa kekufuran dapat terjadi dengan kemaksiatan, dan mengahalalkan untuk menggauli para budak setelahnya. Pengikutnya meyakini hal itu melebihi keyakinan seluruh umat kepada Nabinya.
Umarah berkata, “Diceritakan kepadaku bahwa dia tidak mempercayai sumpah orang-orang yang berada bersamanya sekalipun ia akan menyembelih anak atau saudaranya. Apabila membunuh orang dia menyiksanya di tengah terik matahari, dan tidak pernah memberi ampun kepada siapapun. Tidak seorang pun dari pasukannya yang memiliki kuda atau senjata pribadi, akan tetapi semuanya adalah miliknya sampai waktu perang tiba. Orang yang sudah menyerah dibunuhnya secara paksa, orang mabuk juga dibunuh. Dan siapa saja yang berzina atau mendengarkan lagu, maka ia akan dibunuh. Begitu juga siapa yang telat mengikuti shalat jamaah juga akan dibunuh.

Az-Zabidy


Dia adalah seorang imam yang dijadikan panutan, seorang ahli ibadah, pemberi nasihat, namanya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Yahya bin Ali Al Qurasy Al Yamani Az-Zabidi, tinggal di kota Baghdad. Lahir pada tahun 460 H. Dia pengikut madzhab Hanafi dan salafi.
Ibnu Hubairah berkata, “Aku duduk bersama Az-Zabidi dari pagi sampai menjelang waktu Zhuhur sedang dia mengunyah sesuatu, sampai aku bertanya padanya.” Dia menjawab, ‘Ini adalah biji, aku mengunyahnya karena aku tidak menemukan sesuatu yang dapat kumakan’.”
Ibnu Al Jauzi berkata, “Az-Zabidi adalah seorang ulama yang selalu mengatakan kebenaran walaupun terasa pahit, tidak menjadikan Allah celaan sebagaimana orang yang suka mencela. Diceritakan bahwa suatu ketika Az-Zabidi menghadap menteri, dan dia mengenakan pakaian kementerian. Orang-orang yang ada di sekitarnya memberikan ucapan selamat kepadanya. Az-Zabidi berkata, ‘Hari ini adalah hari bela sungkawa dan bukan hari pemberian selamat.’ Mereka bertanya, ‘Mengapa demikian?’ Az-Zabidi menjawab, ‘Pantaskah aku diberi ucapan selamat karena aku mengenakan pakaian sutera?!’
Ibnu Al Jauzi berkata, “Seorang ulama fikih Abdurrahman bin Isa bercerita kepadaku, dia berkata, ‘Aku pernah mendengar Az-Zabidi berkata, ‘Pada suatu hari aku pergi ke Madinah sendirian, ketika hari sudah malam, aku beristirahat di salah satu bukit. Aku menaiki bukit tersebut sambil berdoa dengan menyeru, “Allahumma inni Allailata dhaifuka” (Ya Allah pada malam hari ini aku adalah tamu-Mu). Kemudian ada suara yang menyeruku: “Marhaban bi dhaifillah, Innaka ma’a thulu’i Asy-Syamsi tamurru biqaumin ‘ala bi’rin ya’kuluna khubzan wa tamaran, fa idza da’auka fa ajib” (Selamat datang tamu Allah, ketika matahari sudah terbit, kamu akan melewati sekelompok kaum yang sedang berkumpul di dekat sumur, mereka memakan roti dan kurma, apabila mereka mengajakmu, maka penuhilah ajakan mereka). Keesokan harinya aku melanjutkan perjalananku, kemudian tampak di hadapanku sebuah sumur, aku pun mendekatinya, di sana aku menemui sekelompok kaum yang sedang memakan roti dan kurma, mereka mengajakku, dan aku menuruti ajakan mereka.” 
Diceritakan bahwa Az-Zabidi pergi ke daerah Salimiyah dan berkata, “Sesungguhnya orang-orang yang sudah meninggal dunia, mereka makan, minum dan menikah di dalam kuburan mereka. Dan sesungguhnya peminum khamar dan penzina tidak akan dicela karena telah menjalankan qadha’ dan qadar Allah SWT. Aku berkata, ‘Mereka berhujjah dengan kisah Nabi Adam AS dan Nabi Musa AS, dan berhujjah dengan perkaan Nabi Adam: Apakah engkau akan mencelaku? Kalau sekiranya penzina tidak boleh dicela, maka kami harus mendera dan mengasingkannya, dan kami harus mencela perbuatannya, menolak kesaksiannya, dan membencinya. Apabila mereka telah bertobat dan menjadi orang yang takwa, maka kami akan mencintai dan menghormatinya. Perdebatan di sini hanya sebatas kata-kata.”
Ibnu ‘Asakir berkata, “Orang tuanya bernama Ismail pernah berkata, ‘Ayahku di masa sakitnya, setiap hari dan malam selalu mengucapkan Allah, Allah, sekitar 15 ribu kali. Dia terus mengucapkannya hingga dia sembuh’.”
Ibnu Syafi’ berkata, “Az-Zabidi memiliki pengetahuan yang banyak tentang ilmu Bahasa Arab dan ilmu Ushul. Dia telah mengarang buku dari berbagai bidang ilmu sekitar seratus buku, dan sepanjang umurnya tidak sedikit pun waktu yang dia hilangkan sia-sia. Az-Zabidi wafat pada tahun 555 H. semoga Allah merahmatinya.”

Abu Al Waqt


Dia adalah seorang syaikh, imam yang zuhud, ulama sufi, syaikh Islam, rujukan banyak orang, Abu Al Waqt Abdul Awwal bin syaikh ahli hadits yang panjang umurnya Abu Abdullah Isa As-Sijzi Al Harawi Al Maliyani. Lahir pada tahun 458 H.
Ibnu Al Jauzi berkata, “Abu Al Waqt adalah ulama yang sabar ketika membaca, dikenal keshalihannya, banyak dzikir, tahajjud dan menangis. Dia selalu mengikuti jejak ulama salaf. Pada tahun wafatnya, dia berniat menunaikan ibadah haji, dia telah menyiapkan segala kebutuhan untuk ibadah tersebut, kemudian dia meninggal dunia sebelum niatnya terlaksana.”
Yusuf bin Ahmad As-Syairazy dalam kitab Arba’in Al Buldan karyanya berkata, “Tatkala Aku pergi menemui guru kami, yang merupakan tujuan dan sandaran seluruh umat pada masa itu, yaitu Abu Al Waqt, Allah SWT telah menghendaki aku sampai padanya di ujung kota Kirman. Kemudian aku menyalami dan menciumnya, dan duduk di hadapannya. Dia bertanya, ‘Apa yang mendorongmu untuk mendatangi kota ini?’ Aku pun menjawab, ‘Tujuanku adalah menemuimu, engkau adalah sandaran hidupku setelah Allah SWT, dan aku telah mencatat hadits yang sampai padaku dengan penaku, kemudian aku pergi menemuimu dengan berjalan kaki dengan tujuan mendapatkan keberkahan darimu, dan aku berharap memperoleh sanadmu yang tinggi.’ Kemudian dia berkata, ‘Semoga Allah SWT memberimu taufik, dan semoga kita diberkahi oleh-Nya, dan menjadikan usaha kita semata-mata karena-Nya, dan tujuan kita adalah kepada-Nya, kalau sekiranya engkau mengetahuiku dengan sebenar-benarnya pengetahuan yang aku miliki, niscaya engkau tidak akan menyalamiku dan tidak akan duduk di hadapanku.’ Kemudian dia menangis dengan tangisan yang panjang, dan membuat seluruh yang hadir ikut menangis. Dia pun berdoa, “Allahumma usturna bi sitrika Aljamil, waj’al tahta As-Sitri ma tardha bihi ‘anna” (Ya Allah tutupilah aib kami dengan tabir-Mu yang bagus, dan jadikanlah setiap tabir yang menutupi kami itu apa-apa yang Engkau ridhai). Wahai anakku, tahukah engkau bahwa aku juga telah pergi untuk mendengarkan  kumpulan hadits shahih dengan berjalan kaki bersama orang tuaku, dari daerah Harrah sampai daerah Dawiwady di Bosnia, pada waktu itu usiaku kurang dari dua puluh tahun. Ketika itu orang tuaku meletakkan dua batu di kedua tanganku seraya berkata, Bawalah dua batu itu. Dan aku pun menjaganya karena ketakutanku. Aku terus berjalan dan dia memperhatikanku. Ketika dia melihatku merasa kelelahan, dia menyuruhku untuk melempar satu batu. Aku pun melemparkannya dan aku merasa ringan. Kemudian aku berjalan sampai kelelahanku tampak olehnya. Dia bertanya, ‘Apakah engkau telah lelah?’ Aku jadi takut padanya dan berkata, ‘Aku tidak merasa lelah.’ Dia bertanya lagi, ‘Mengapa jalanmu lambat?’ Kemudian aku mempercepat jalanku bersamanya selama satu jam, setelah itu aku merasa lemah, dia mengambil batu lainnya dari tanganku dan melemparkannya. Aku terus berjalan hingga aku benar-benar lumpuh. Ketika itu dia mengangkat dan menuntunku. Dalam perjalanan, kami bertemu dengan sekelompok nelayan bersama perahunya. Mereka berkata, ‘Wahai Syaikh Isa, naiklah engkau bersama anakmu ke atas perahu kami dengan membayar upah, kami akan mengantarmu ke Bosnia. Dia menjawab, ‘Ma’adzallah’ (kami berlindung kepada Allah) untuk menaiki kendaraan dalam mencari hadits-hadits  Rasulullah SAW, kami akan tetap berjalan. Apabila anakku sudah tidak mampu lagi berjalan, aku akan menaikkannya di atas kepalaku dengan memikulnya, hal itu karena agungnya nilai hadits Rasulullah SAW, dan harapanku atas pahala dari-Nya. Maka buah dari baiknya niat orang tuaku itu adalah bahwa aku dapat mendengarkan kandungan kitab ini dan kitab lainnya. Sampai saat ini belum ada seorangpun yang memberikan hadits di kampung ini selain diriku, sehingga banyak utusan yang datang kepadaku dari berbagai penjuru kota. Kemudian Abu Al Waqt memberi isyarat kepada temanku Abdul Baqi bin Abdul Jabbar Al Harrawi untuk menyerahkan manisan kepadaku. Maka aku berkata, ‘Wahai tuanku, bacaanku terhadap juz kepada Abu Al Jahm lebih aku sukai daripada memakan manisan ini.’ Dia kemudian tersenyum seraya berkata, ‘Jika makanan sudah masuk ke perut, maka akan keluarlah perkataan,’ dan dia pun menyuguhkan piring berisi manisan kepada kami, sehingga kami memakannya. Dan aku mengeluarkan juz (hadits shahih), kemudian meminta dia untuk membawakan yang aslinya, dan dia pun membawakannya, kemudian berkata, ‘Jangan takut dan jangan tamak, karena sesungguhnya aku telah menolak banyak orang yang ingin mendengarkan sesuatu dariku.’ Kemudian Abu Al Waqt memohon keselamatan kepada Allah SWT. Akhirnya aku membaca juz dan aku merasa senang dengannya. Allah SWT telah memudahkanku untuk dapat mendengarkan kumpulan hadits As-Shahih dan hadits lainnya berulang kali, dan aku terus menemani dan berkhidmah kepadanya sampai dia wafat di Baghdad. Sebelum wafat dia berpesan kepadaku, ‘Kuburkanlah aku di antara guru-guruku di daerah Syuniziyyah, dan ketika sudah berada dalam detik kematian, aku sandarkan dia ke dadaku.’ Dia dikenal menyukai bacaan dzikir, kemudian masuklah Muhammad bin Al Qasim Ash-Shufi dan menelungkupkan badannya di hadapannya seraya berkata, Wahai tuanku, Nabi SAW telah bersabda, 

“Barangsiapa yang akhir perkataannya La ilaha illa Allah,  maka ia akan masuk surga,” kemudian ia mengangkat wajahnya dan membacakan ayat:

“Alangkah baiknya sekiranya kamumku mengetahui. Apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan.” (Qs. Yaasin [36]: 26-27). 
Dia beserta orang-orang yang hadir terkejut kepadanya. Ia terus membacakan ayat Al Quran itu sampai mengkhatamkan surat, kemudian Abu Al Waqt mengucapkan: Allah, Allah, Allah. Dia meninggal dunia dalam keadaan duduk di atas sajadah pada tahun 553 H.

Asy-Syahrastani


Dia adalah Al Afdhal Muhammad bin Abdul Karim bin Ahmad Asy-Syahrastani, Abu Al Fath syaikh ahli kalam dan hikmah, dan ulama yang memiliki banyak karya.
Dia adalah seorang ulama yang pandai dalam bidang ilmu Fikih, mengajarkan ilmu Ushul, dan menulis kitab Nihayat Al Iqdam dan kitab Al Milal wa An-Nihal. Dia dikenal ulama yang banyak menghafal, memiliki pemahaman yang kuat, dan cakap dalam menyampaikan nasihat. Dia dilahirkan pada tahun 467 H.
Disebutkan dalam kitab At-Tahbir bahwa berasal dari Syahrastanah, seorang imam dan ulama ushul, mempunyai pengetahuan tentang sastra dan ilmu sejarah. Disebutkan bahwa dia dituduh telah mulhid/kufur, dan cenderung kepada pemikiran kelompok syi’ah.
Ibnu Arsalan dalam kitab Tarikh Khuwarizm berkata,  “As-Syahrastani seorang ulama yang cerdas dan mempunyai banyak pengetahuan. Kalau tidak karena kecondongannya kepada ilhad/kekufuran dan kerancuannya dalam hal keyakinan, dia akan menjadi seorang imam. Sering sekali kita dibuatnya heran dengan limpahan keutamaan yang dimilikinya, bagaimana dia sampai condong kepada sesuatu yang tidak ada dasarnya?! Kami berlindung kepada Allah SWT dari segala bentuk kelalaian. Itu semua dia lakukan tidak lain untuk memalingkannya dari ilmu syar’i, dengan menyibukkan dirinya pada kegelapan ilmu filsafat. Kami pernah berdialog dengannya, akan tetapi yang mengherankan adalah bagaimana dia sampai berlebihan dalam membela madazhab para ulama filsafat dan mendalami pemikiran mereka.”
Aku telah berkali-kali mengikuti ceramahnya. Dalam setiap ceramahnya, dia tidak pernah mengucap kata-kata “Qala Allah” (Allah SWT telah berfirman), dan juga kata-kata “Qala Rasulullah” (Rasulullah SAW bersabda). Pernah suatu ketika ada yang bertanya tentang hal itu seraya berkata, “Seluruh ulama dalam setiap ceramahnya selalu menyinggung masalah-masalah syari’ah, dan mereka menjawab masalah-masalah tersebut dengan merujuk kepada perkataan Abu Hanifah dan Syafi’i, sementara engkau tidak berbuat demikian.” Dia menjawab, “Perumpamaanku dan perumpamaan kalian, seperti Bani Israil yang telah diberikan kepadanya “Al Mann” dan “As-Salwa”, namun mereka meminta bawang putih dan bawang merah. Asy-Syahrastani wafat di kota Syahrastanah pada tahun 549 H.”

Ibnu Nashir


Dia adalah seorang imam, ahli hadits, ulama Irak, Abu Al Fadhl Muhammad bin Nashir bin Muhammad As-Salami Al Baghdadi. Lahir pada tahun 467 H.
Dia telah membaca banyak kitab yang tidak terhitung jumlahnya, telah melahirkan beberapa kaidah, menyusun dan mengarang buku, dikenal kemasyhurannya. Dia seorang ulama yang fasih, bagus cara membacanya, mahir bahasa Arabnya, pandai dalam ilmu bahasa, dan terkumpul padanya banyak keutamaan.
As-Sam’ani berkata, “Ibnu Nashir adalah seorang ulama yang suka menilai orang. Sikapnya tersebut ditentang oleh Ibnu Al Jauzi, dan dia mencelanya seraya berkata, ‘Seorang ulama hadits yang suka melakukan jarh dan ta’dil, tidakkah engkau dapat membedakan antara jarh dan ghibah?!’ Ibnu Al Jauzi sendiri berhujjah dengan perkataan Ibnu Nashir dalam banyak hal tentang biografi para ulama dalam kitab Adz-Dzail karangannya. Bahkan Ibnu Al Jauzi telah berlebihan dalam merendahkan Abu Sa’ad, dan tidak diragukan lagi, Ibnu Nashir sangat menyayangkan sikap Ibnu Al Jauzi yang merendahkan para ulama, sedangkan Abu Sa’ad lebih tahu tentang sejarah dan lebih kuat hafalannya dari Ibnu Al Jauzi dan Ibnu Nashir. Berikut ini perkataannya tentang Ibnu Nashir dalam kitab Adz-Dzail. Ibnu Al Jauzi berkata, Dia seorang ulama yang tsiqah, kuat hafalannya, tekun beribadah, terpercaya, tsabit, pandai dalam hal bahasa, mengetahui banyak matan hadits berikut sanad-sanadnya, banyak shalat, dan membaca AlQuran, akan tetapi dia suka menilai orang, dia selalu benar dalam bacaan dan periwayatan.”
Telah diberitakan kepada kami dari Ibnu An-Najjar berkata, “Aku telah membaca dari tulisan Ibnu Nashir dan dia memberitahunya melalui pendengaranku tentang Yahya bin Al Husain, dia berkata, ‘Sudah bertahun-tahun aku tidak memasuki masjid Abu Manshur Al Khayyath, dan aku berusaha bersikap sopan terhadap At-Tibrizi. Pada suatu hari aku datang untuk membacakan sebuah hadits kepada Al Khayyath, kemudian dia berkata, ‘Wahai anakku, apakah engkau telah meninggalkan bacaan AlQuran dan sekarang engkau sibuk dengan bacaan selainnya?! Kembalilah, dan bacalah di hadapanku supaya engkau mendapatkan sanad.’  
Kemudian aku datang menghadapnya pada tahun 92 H, dan pada waktu itu aku berulang-ulang membaca: “Allahumma bayyin li ayya Al Madzahibi Khairun” (Ya Allah tunjukkanlah kepadaku madzhab mana yang paling baik). Dan berulang kali aku telah membaca dan melewati pendapat Al Qairawani seorang ulama ahli kalam dalam kitab At-Tamhid karya Al Baqilani, dan seolah-olah ada orang yang menyuruhku untuk menolak pendapatnya. Dia berkata, Kemudian aku bermimpi bahwa sepertinya aku telah memasuki masjid syaikh Abu Manshur, dan tepat di sampingnya seseorang dengan mengenakan pakaian putih dan di atas serbannya ada selendang, mirip dengan pakaian musim dingin, warnanya bercahaya, di atasnya terdapat cahaya dan keindahan, kemudian aku menyalaminya dan duduk di hadapannya. Aku merasakan bahwa orang tersebut memiliki wibawa, seolah-olah ia adalah Rasulullah SAW. ketika aku duduk, ia menoleh kepadaku dan berkata, ‘Hendaknya engkau mengikuti madzhab syaikh ini, hendaknya engkau mengikuti madzhab syaikh ini!’ dan terus diulangnya perkataan itu sampai tiga kali. Akhirnya aku terbangun dengan perasaan takut, tubuhku seketika bergoncang, kemudian aku ceritakan kejadian itu kepada ibuku. Keesokan harinya, pagi-pagi benar aku pergi menuju syaikh untuk membaca di hadapannya. Akhirnya aku ceritakan mimpiku kepadanya. Dia berkata, ‘Tidaklah madzhab Syafi’i itu melainkan ia madzhab yang baik. Dan aku tidak mengatakan kepadamu: Tinggalkanlah madzhab itu, akan tetapi hendaknya engkau tidak mengikuti keyakinan Asy’ary.’ Aku berkata, ‘Aku tidak ingin setengah-setengah. Aku bersaksi di hadapanmu,’ dan aku pun bersaksi di hadapan para jama’ah bahwa mulai saat ini aku akan mengikuti madzhab Imam Ahmad bin Hanbal dalam hal ushul dan furu’. Dia berkata, ‘Semoga Allah SWT memberkatimu. Kemudian mulai saat itu aku mendengarkan kitab-kitab Ahmad dan semua permasalahan fikihnya, dan aku berfikih dengan madzhabnya.’
Ibnu Al Jauzi dan ulama lainnya berkata, “Ahli fikih Abu Bakar bin Al Hushari Telah diberitakan kepadaku, dia berkata, ‘Aku bertemu dengan Ibnu Nashir dalam mimpi, kemudian aku bertanya padanya, ‘Apa yang telah Allah SWT lakukan padamu?’ Dia menjawab, ‘Allah telah mengampuni segala dosaku, dan Dia berkata kepadaku, ‘Aku telah mengampuni sepuluh ulama ahli hadits di zamanmu karena engkau adalah pemimpin mereka’.”

Ibnu Ath-Thallayah


Dia adalah syaikh yang jujur, zuhud, menjadi panutan dan merupakan keberkahan bagi kaum muslimin, Abu Al Abbas Ahmad bin Abu Ghalib, dikenal dengan Ibnu Ath-Thallayah,113 Al Kaghidy Al Baghdadi. Lahir pada tahun 462 H.
As-Sam’ani berkata, “Dia adalah seorang syaikh besar, menghabiskan umurnya untuk beribadah, sering melaksanakan shalat malam dan berpuasa. Seakan-akan tidak ada satu jam pun dari umurnya yang terlewatkan kecuali untuk beribadah. Karena sering beribadah, tubuhnya menjadi agak bungkuk, hingga tidak jelas perbedaan antara berdirinya dan ruku’nya kecuali sedikit sekali. Dia telah hafal Al Quran, dan tidak menerima sesuatu pun dari seseorang. Dia mencukupkan dirinya dengan persediaan yang dimilikinya.”
Abu Al Muzhaffar bin Al Jauzi berkata, “Aku mendengar bahwa para syaikh bercerita tentang orang tua dan kakek mereka, bahwa sultan Mas’ud apabila datang ke Baghdad, ia gemar berziarah kepada para ulama dan orang-orang shalih. Maka ia meminta kedatangan Ibnu Ath-Thallayah. Ia berkata kepada seorang utusan: Aku berada di dalam masjid, sedang menunggu orang yang selalu beribadah pada waktu siang sebanyak lima kali. Maka berangkatlah utusan tersebut. Sultan berkata pada dirinya: Seharusnya aku sendiri yang berjalan menemuinya. Sultan pun pergi menziarahinya, kemudian ia melihatnya sedang mengerjakan shalat Dhuha, dan ia memanjangkan shalatnya dengan membaca Al Quran delapan juz. Sultan ikut shalat bersamanya di sebagian rakaatnya. Seorang pelayan berkata kepadanya, “Sultan telah datang untuk menemuimu.” Ibnu Ath-Thallayah berkata, “Di mana Mas’ud?” Sultan menjawab, “Aku ada di sini.” Ibnu Ath-Thallayah berkata, “Wahai Mas’ud, berbuatlah adil, dan berdoalah untukku, Allah Maha besar. Kemudian sultan mengerjakan shalat dan ia menangis. Ia menulis di atas kertas dengan tangannya sendiri berjanji untuk menghilangkan pemungutan pajak, dan ia bertobat dengan tobat yang sebenar-benarnya.”
Ibnu Ath-Thallayah meninggal pada tahun 548 H. jenazahnya diangkat di atas kepala, tidak ada seorang pun yang menyamainya sepeninggalnya.

Muhammad bin Sa’ad


Dia adalah Ibnu Muhammad bin Mardanisy Al Judzami Al Andalusi, raja Abu Abdullah penguasa wilayah Mursiyah dan Yalnasiyah.
Dia termasuk kerabat dari raja yang gigih dan wara’ Abu Muhammad Abdillah ibnu Iyadh. Ketika Ibnu Iyadh meninggal dunia, seluruh pembantu dan pembesar kerajaan sepakat untuk lebih mengutamakan Ibnu Mardanisy dalam menempati posisi kerajaan daripada mereka. Pada waktu itu usianya masih tergolong muda, tetapi dia salah seorang yang dijadikan perumpamaan akan keberaniannya. Ketika berkuasa, dia dihadapkan cobaan oleh tentara Abdul Mu’min yang terus menyerangnya. Akhirnya dengan terpaksa dia meminta bantuan pasukan asing. Dan tatkala khalifah Abdul Mu’min wafat, maka kerajaan Ibnu Mardanisy  semakin kokoh, dan kekuasaannya bertambah kuat, sehingga berakhirlah segala peperangan dan percobaan.
Al Yasa’ dalam kitab Tarikh-nya berkata, Ketika orang Romawi mengetahui berita meninggalnya Ibnu Iyadh, mereka mendatangi wilayah Ibnu Iyadh untuk mencoba menguasainya. Akan tetapi karena Ibnu Mardanisy seorang pemuda, dia memiliki keberanian yang tidak dimiliki oleh siapapun, sehingga tidak seorangpun yang berani mendekatinya dalam sebuah peperangan yang kami saksikan bersamanya. Pendapat dia selalu ada sebelum keberaniannya, kalau pun tidak, maka dia adalah seorang yang perkasa dan pemberani yang tidak seorangpun pada masanya dapat menandinginya. Pada usianya yang genap lima belas tahun, keberaniannya telah tampak. Ketika seorang musuh mendatangi wilayahnya, dan seorang tentara Romawi telah mendekati benteng pertahanan, maka Muhammad keluar dan orang tuanya Sa’ad tidak mengetahuinya. Keduanya bertemu di pinggir sungai, kemudian Muhammad membunuh musuhnya dan melempar bersama kudanya ke dalam sungai. Keesokan harinya, salah seorang tentara Romawi menantang untuk berduel dengannya dan berkata, “Di mana orang yang telah membunuh tentara kami kemarin?” Pada saat itu orang tua Muhammad mencegahnya untuk keluar mendatangi tentara Romawi tersebut. Ketika datang waktu istirahat, dan orang tuanya telah tidur, Muhammad menunggani kudanya dan keluar menuju tenda musuh. Dia berkata kepada raja Romawi, “Di sini Ibnu Sa’ad.” Raja Romawi menghormatinya dan menyuruhnya untuk duduk bersamanya, kemudian bertanya, “Apa yang engkau inginkan?” Muhammad berkata, “Orang tuaku telah mencegahku untuk menjawab tantangan, oleh karena itu di mana orang yang tadi menantangku?” Raja berkata, “Engkau jangan melanggar orang tuamu. Muhammad menjawab, “Untuk yang ini aku harus melanggarnya.” Akhirnya musuh yang telah menantangnya datang dan keduanya bertemu. Keduanya mulai bertarung, dan musuh dapat memukul Muhammad, begitu juga sebaliknya Muhammad dapat memukul musuhnya dan melempar tombak untuk membunuhnya. Akhirnya orang Romawi berubah sikapnya karena pertarungan keduanya, dan pada saat itu raja memberi Muhammad hadiah.
Dan di antara bukti keberanian dia pada waktu peperangan dengan menggunakan kuda adalah: pada saat itu pasukan dia berjumlah seratus orang, sementara pasukan Romawi berjumlah seribu orang. Dia membawa sendiri pasukan tersebut dan memimpinnya. Kemudian terkumpullah lebih dari dua puluh senjata. Dengan pasukan yang sedikit tersebut, dia dapat mengalahkan musuh. Kalau tidak karena bekal dan persiapan yang kuat, maka pasukannya akan kalah. Maka di sini tersingkaplah keberaniannya oleh seluruh pasukan. Dan akhirnya pasukan Romawi kalah dan terpukul mundur. Dia bersama pasukannya mengejarnya dari siang sampai malam. Kemudian dia mengadakan perdamaian dengan Romawi selama sepuluh tahun.
Al Yasa’ berkata, “Selama masa perdamaian, dia mulai mengumpulkan para pekerja untuk membuat peralatan perang, mendirikan bangunan, dan memperbaiki semua kerusakan. Dia juga sibuk merancang pembangunan istana-istana yang megah dan taman-taman yang indah. Dia mengikat hubungan kekerabatan dengan pemimpin pasukan Abu Ishaq bin Hamusyk.”

Abu Muhammad bin Iyadh Al Mujahid


Namanya adalah Abdullah, seorang pejuang di jalan Allah, ksatria Andalusia, kepiawaiannya dalam berperang sudah dikenal oleh penduduk Andalusia timur.
Abdul Wahid bin Ali Al Marrakusyi berkata, “Abu Muhammad bin Iyadh adalah seorang senior ulama pada masanya, telah sampai kepadaku suatu kabar bahwa doanya selalu mustajab, hatinya lembut, dan ia sangat mudah menangis, suatu ketika orang-orang Nashrani menyerbunya sebanyak seratus orang, tetapi Allah SWT melindunginya, sampai tibalah ajalnya, semoga Allah SWT merahmatinya.”
Al Yasa’ bin Hazm berkata dalam kitab Akhbar Al Maghrib, “Abu Muhammad Abdullah bin Iyadh adalah seorang yang sangat pemberani ketika menunggang kuda, dan juga ia merupakan seorang ksatria, suatu ketika bangsa Eropa menyerang kami, merekapun memanahi kami, tetapi dengan cepat Ibnu Iyadh menaungi kami dari panah-panah mereka, padahal jumlah mereka sebanyak seratus ribu pasukan berkuda, dan pasukan infanteri sebanyak 200 ribu atau lebih, tenda-tenda mereka berjumlah kurang lebih empat ratus tenda, pengepungan terhadap kami semakin gencar mereka lakukan, maka kami coba untuk melawan mereka dengan dua ratus pasukan, tanpa disangka kami menuai kemenangan, kami berhasil membunuh dan memecah belah mereka,untuk sementara kami berlindung di dalam benteng Zaitun, untuk melanjutkan perjalanan ke Valencia.”
Al Yasa’ berkata, Mas’ud bin Izzunnas berkata, “Bagiku Ibnu Iyadh adalah seorang pemuda yang masih belia, tetapi ia telah menentang bangsa Romawi dan menaklukan musuh-musuhnya yang berada di tanah Andalusia, seorang pasukan Romawi menghampirinya, namun Ibnu Iyadh dapat menaklukannya hanya dengan sekali tebas, aku pikir pasukan Romawi itu bergetar persendiannya, kemudian Ibnu Iyadh memegang pinggangnya dan aku melihat darah bermuncratan dari balik jari tangan Ibnu Iyadh, lalu ia hempaskan prajurit Romawi itu ke tanah dan bertebaranlah isi kepala prajurit tersebut.”
Ada kisah lain yang menyatakan bahwa seorang prajurit dari pasukan berkuda Romawi telah berdiri tegak di hadapan komplotannya untuk meminta berduel dengan para pasukan muslim, maka keluarlah Ibnu Iyadh dengan mengenakan baju yang panjang lengannya dan telah dimasukkan batu-batu yang telah dibungkus di dalam lengan baju tersebut, kemudian ia mengikat ujung lengan baju tersebut, lalu ia dengan gagah menyandang pedangnya, lawannya -prajurit Romawi- bersenjata lengkap, Ibnu Iyadh mendorong musuhnya terlebih dahulu, musuhnya pun mencoba untu menikam  Ibnu Iyadh, pertarungan yang sangat sengit, pedang dan tombak saling beradu, di saat seperti itu Ibnu Iyadh membuka ikatan lengannya yang telah diisi batu, seketika itu batu-batu tersebut mengenai kepala prajurit Romawi, dan berceceranlah isi kepalanya, kami semua tercengang melihat kejadian tersebut, kami pun bertakbir, telah masyhur kepiawaian Ibnu Iyadh ketika itu, bahwa ia bertempur di umurnya yang masih belia, aku selalu menyertainya di setiap pertempurannya, di setiap gerakannya seakan-akan ia adalah benteng yang sangat kokoh.
Aku katakan, “Ibnu Iyadh memiliki posisi yang kokoh, ia merupakan pahlawan pada masanya sampai era 540-an Hijriyyah, yang menggantikan setelahnya adalah pelayannya yang bernama Muhammad bin Sa’ad di Mardanisy, ia diangkat oleh kaum muslimin sebagai khalifah untuk menggantikan Ibnu Iyadh ketika Ibnu Iyadh dijemput ajalnya, Muhammad bin Sa’ad menjadi khalifah sampai tahun 568 H.”
Al Yasa’ berkata dalam kitab Tarikh Al Maghrib, “Aku menjadikan Ibnu Iyadh sebagai pelayanku, kemudian ia menjadi juru tulisku,” kemudian ia juga menyebutkan bahwa Ibnu Iyadh menyerbu Barcelona, dan kaum muslimin meraih kemenangan di sana, ketika pasukan muslim beristirahat dan ingin minum air di sungai, Ibnu Iyadh pun menanggalkan baju besinya, sementara sebanyak kurang lebih lima ratus pasukan Romawi yang berada di hutan perlahan-lahan menuju sungai untuk membantai pasukan muslim, dengan cepat Ibnu Iyadh kembali ke pasukannya dan memerintahkan agar memanah pasukan Romawi yang sedang berada di hutan, Ibnu Iyadh terkena panah di bagian punggungnya, panah tersebut baru dikeluarkannya setelah ia membasmi seluruh pasukan Romawi yang berjumlah lima ratusan tersebut, anak panah yang tertancap mengenai syaraf punggungnya, sebelum kematiannya ia sempat menduduki Mursiyah110 selama empat tahun, kaum muslim sangat merasa kehilangannya.