Tarikh Ath-Thabari


Al hamdullilah kami ucapkan sebagai rasa syukur kami kepada Allah SWT yang telah banyak memberikan kemudahan dalam proses terjemah dan editing kitab Shahih Tarikh Ath-Thabari ini. Salam dan shalawat kita mohonkan kepada Allah SWT, semoga tercurah pada sang penyelamat manusia dari era kegelapan kepada era pencerahan, Nabi Muhammad SAW, keluarganya, para sahabatnya, serta orang-oarang yang mengikuti jejak mereka.
"Orang yang bijak adalah orang yang tidak melupakan sejarahnya". Itulah untaian kata bijak yang sering kita dengar manakala hendak membahas sejarah yang berisi kumpulan peristiwa kejayaan dan kehancuran suatu bangsa dalam kurun waktu tertentu. Tidak terkecuali Islam, sebagai sebuah ajaran dan ideologi yang memiliki sejarah unik, yang menjadi potret manifestasi dari ajaran dan ideologi tersebut.
Salah satu buku yang menjadi ensiklopedi sejarah Islam lengkap adalah karya Imam Abu Ja'far Ath-Thabari yang berjudul Shahih Tarikh Ath-Thabari, yang berisikan rentetan riwayat yang mengandung sejarah penciptaan masa, alam, hingga berbagai peristiwa dan kisah para nabi serta para khalifah era sahabat, dinasti umaiyah dan Abbasiyah, serta lainnya. Dalam edisi Indonesia ini sengaja kami  pilihkan buku Shahih Tarikh Ath-Thabari yang telah diverifikasi mengenai validitas riwayat dan akurasi muatan sejarahnya, sehingga buku ini layak diberi judul Shahih Tarikh Ath-Thabari, sehingga dalam edisi ini pembaca hanya akan mendapatkan kisah sejarah yang benar, yang jauh dari rekayasa dan mitos. Faktanya, tidak sedikit riwayat sejarah yang dicantumkan oleh Imam Ath-Thabari tidak diseleksi secara ketat dan meyerahkan penyeleksiannya kepada para pembaca, yang tentunya akan menyulitkan pembaca awam.
Selain itu, dalam buku ini pembaca akan mendapatkan kisah atau peristiwa dalam versi lain yang disajikan oleh muhaqqiq (Muhammad bin Thahir Al Barzanji) yang beliau kutip dari Al Qur`an, hadits, dan kitab sejarah lainnya, yang oleh penulis diletakkan di catatan kaki, sementara oleh kami (editor) kami letakkan dalam isi dengan judul catatan muhaqqiq, guna memudahkan pembaca dalam mendapatkan kisah sejarah secara utuh dan lengkap dari ragam versi yang dikutip oleh muhaqiq.
Akhirnya, kepada Allah jua kami berharap upaya ini mendapatkan penilaian baik di sisi-Nya. Tak lupa kami mengharapkan saran dan kritik dari berbagi pihak, guna perbaikan dan kesempurnaan buku berharga ini.

Shuhaib bin Sinan


Dia adalah Abu Yahya An-Namir bin Qasith. Dia dikenal dengan sebutan Ar-Rumi karena ia pernah tinggal di Romawi beberapa waktu. 
Dia adalah penduduk Al Jazirah yang ditawan di sebuah desa yang bernama Ninawa. Ayah dan pamannya bekerja untuk Kisra. Kemudian dia dibawa ke Makkah lalu dibeli oleh Abdullah bin Jud’an Al Qurasyi At-Taimi.
Dia termasuk As-Sabiquna Al Awwalun dan pejuang perang Badar. Selain itu, dia sosok yang terpandang dan berwibawa. Ketika Umar terkena musibah, dia meminta Shuhaib untuk memimpin shalat jamaah bersama kaum muslim, hingga para dewan musyawarah sepakat untuk menjadikannya sebagai imam karena sifatnya yang mulia dan pemaaf.
Dia merupakan sahabat yang berusaha menghindar dari fitnah, dan hal ini sesuai dengan keadaannya.
Diriwayatkan dari Al Hasan, bahwa Rasulullah SAW bersabda,                صُهَيْبٌ سَابِقُ الرُّوْمٍ “Shuhaib adalah pendahulu Romawi.” 
Hal ini dijelaskan dalam riwayat yang shahih, dari hadits Abu Umamah, Anas, dan Ummu Hani‘.
Diriwayatkan dari Abu Utsman, bahwa ketika Shuhaib akan hijrah, para penduduk Makkah berkata kepadanya, “Kamu dulu datang kepada kami dalam keadaan lemah dan fakir, sekarang keadaanmu telah berubah!” Shuhaib kemudian berkata, “Bagaimana pendapat kalian jika aku meninggalkan hartaku, apakah kalian akan melepaskanku?” Mereka menjawab, “Ya.” Shuhaib pun meninggalkan hartanya untuk mereka. Ketika kabar tersebut sampai kepada Nabi SAW, beliau bersabda, “Shuhaib beruntung, Shuhaib beruntung!”
Diriwayatkan dari Shuhaib, dia berkata, “Aku pernah memberikan pakaian kepada Rasulullah SAW. Di tengah perjalanan, saat aku terkena penyakit mata dan merasa lapar, beliau membawakanku buah kurma yang baru masak, maka aku pun mengambilnya (memakannya). Umar lalu berkata, “Wahai Rasulullah, apakah engkau tidak melihat bahwa Shuhaib memakan buah kurma padahal dia sedang sakit mata.” Rasulullah SAW bersabda, “Buah itu milikku.” Aku berkata, “Aku memakannya untuk sebelah mataku yang sehat.” Mendengar itu, Umar tersenyum. 
Diriwayatkan dari A‘idz bin Umar, bahwa suatu ketika Salman, Shuhaib, dan Bilal sedang duduk santai, kemudian Abu Sufyan lewat di depan mereka. Mereka lantas berkata, “Pedang Allah tidak akan membunuh leher musuh Allah kecuali pada tempatnya nanti.” Mendengar itu, Abu Bakar berkata, “Apakah kalian berkata seperti itu kepada pemimpin dan pemuka Quraisy?” Setelah itu Nabi SAW diberitahukan perihal masalah itu, dan beliau bersabda, “Wahai Abu Bakar, mungkin engkau telah membuat mereka marah, Jika engkau membuat mereka marah, berarti engkau telah membuat Tuhanmu marah.” Abu Bakar kemudian menemui mereka dan berkata, “Wahai saudara-saudaraku, apakah kalian marah?” Mereka menjawab, “Tidak wahai Abu Bakar, semoga Allah mengampuni dosamu.”
Shuhaib meninggal di Madinah pada tahun 38 Hijriyah dalam usia 70 tahun.

Abdullah bin Hudzafah


Dia adalah Ibnu Qais, Abu Hudzafah As-Sahmi, salah satu As-Sabiqun Al Awwalun. 
Dia termasuk sahabat yang ikut hijrah ke Habsyah dan dikirim oleh Nabi SAW sebagai delegasi untuk menemui Kisra, Raja Persia.
Ketika dia pergi ke Syam sebagai seorang mujahid, dia ditawan oleh orang-orang Qaisariyah lalu dibawa kepada pemimpin mereka, lantas dipaksa untuk keluar dari agamanya, tetapi dia tetap memegang teguh agamanya.
Diriwayatkan dari Abu Salamah, bahwa Abdullah bin Hudzafah pernah melaksanakan shalat dengan mengeraskan suaranya, maka Nab SAW bersabda, “Wahai Hudzafah, engkau tidak perlu memperdengarkan bacaan shalat ini kepadaku, akan tetapi perdengarkanlah kepada Allah.”
Diriwayatkan dari Umar bin Hakam bin Tsauban, bahwa Abu Sa’id berkata: Rasulullah SAW pernah mengutus sebuah pasukan yang dipimpin oleh Alqamah bin Al Mujazziz, dan aku termasuk di dalamnya. Kami pun berangkat. Manakala kami berada di tengah perjalanan, beberapa orang dari kami meminta izin dari Alqamah, dan dia pun memberikan izin kepada mereka. Dia kemudian menyuruh Abdullah bin Hudzafah untuk memimpin rombongan tersebut. Dalam perjalanan, di antara kami terjadi senda-gurau dan main-main. Di tengah-tengah perjalanan, orang-orang menyalakan api untuk menghangatkan tubuh dan memasak sesuatu. Tiba-tiba Hudzafah berkata, “Apakah aku berhak untuk didengar dan ditaati oleh kalian?” Mereka menjawab, “Ya.” Hudzafah lanjut berkata, “Aku menuntut hakku dari kalian agar ditaati, maka melompatlah di atas api ini!” Orang-orang pun berdiri dan melaksanakan perintahkannya, hingga ketika Hudzafah menyangka mereka terjatuh di dalam api tersebut, dia berkata, “Cukup, aku hanya ingin bercanda dengan kalian.” 
Ketika mereka datang kepada Rasulullah, mereka menceritakan hal tersebut kepada beliau, lalu beliau bersabda, “Siapa saja yang menyuruhmu berbuat maksiat, jangan dipatuhi!”
Diriwayatkan dari Abu Rafi’, dia mengatakan bahwa Umar pernah mengutus bala tentara ke Romawi. Sesampainya di sana, tentara Romawi menangkap Abdullah bin Hudzafah dan membawanya ke hadapan raja, lalu berkata, “Dia sebenarnya salah satu sahabat Muhammad.” Mendengar itu, sang raja berkata, “Jika kamu mau menjadi Nasrani maka aku akan memberimu setengah kekuasaanku.” Hudzafah menjawab, “Walaupun engkau memberiku semua yang dimiliki dan seluruh wilayah kerajaan Arab, aku tidak akan berhenti dan tidak akan berpaling dari agama Muhammad, meskipun sekejap mata.” Raja kemudian berkata, “Aku akan membunuhmu!” Diancam seperti itu, Hudzafah menjawab, “Semua terserah padamu.” 
Selanjutnya dia diseret kemudian disalib. Raja lalu berkata kepada pasukan pemanah, “Panahlah dia dekat tubuhnya agar dia merasa takut!” Akan tetapi dia tetap menolak. Dia kemudian diturunkan. Raja lantas meminta sebuah periuk besar berisi air mendidih, kemudian memanggil dua orang tawanan muslim, lalu menyuruh agar salah satunya dilemparkan ke dalam periuk tersebut. Akan tetapi ia tetap menolak untuk menjadi Nasrani. Tawanan itu menangis hingga raja mengira ia ketakutan, kemudian dia pun diturunkan. Raja berkata, “Apa yang menyebabkanmu menangis?” Temannya menjawab, “Mengapa hanya satu orang yang dilemparkan ke dalam api, padahal aku berharap jumlah orang yang dilempar ke dalam api neraka karena Allah melebihi jumlah rambut yang ada di kepalaku ini.”
Mendengar itu, raja berkata kepada Hudzafah, “Apakah kamu mau mencium kepalaku dan pergi dariku?” Hudzafah menjawab, “Apakah begitu juga dengan semua tawanan?” Raja berkata, “Ya.” Hudzafah pun mencium kepalanya.
Ketika Hudzafah datang menemui Umar bersama dengan semua tawanan, dia menceritakan kejadian tersebut. Umar lalu berkata, “Setiap muslim wajib mencium kepala Abdullah bin Hudzafah, dan aku sendiri yang akan memulainya.” Umar pun mencium kepalanya.
Mungkin raja itu telah menjadi muslim walaupun itu dilakukannya secara diam-diam. Hal itu terlihat dari penghormatannya yang berlebihan kepada Abdullah bin Hudzafah.
Begitu juga dengan Hirqal (Raja Romawi). Ketika dia  merasa takut, dia berkata, “Sesungguhnya aku hanya menguji kalian, seberapa kuat dan kokoh pendirian kalian terhadap agama kalian.”
Siapa pun yang beriman kepada agama Islam secara diam-diam, mudah-mudahan selamat dari siksa api neraka yang kekal, karena di dalam hatinya telah ada rasa keimanan, hanya saja dia masih khawatir ketahuan telah masuk Islam dan tunduk kepada Rasulullah SAW serta meyakini bahwa keduanya benar, sementara ia juga meyakini agama yang dianutnya benar. Sehingga, dia seperti itu terlihat mengagungkan kedua agama yang diyakininya benar, seperti yang dilakukan oleh kebanyakan orang, dan tentunya keyakinannya terhadap kebenaran Islam seperti itu tidak bermanfaat kecuali jika dia membebaskan dirinya dari perbuatan syirik.
Abdullah bin Hudzafah meninggal pada masa pemerintahan Utsman RA.

Ubadah bin Ash-Shamit


Dia adalah Ibnu Qais.Abu Al Walid Al Anshari.
Dia adalah sosok pemimpin, panutan, salah seorang pemimpin pada malam Aqabah, dan pejuang perang Badar.
Dia bertempat tinggal di Baitul Maqdis.
Selain itu, dia mengikut seluruh peperangan yang pernah diikuti Rasulullah SAW.
Diriwayatkan dari Ishaq bin Qabishah bin Dzu‘aib, dari ayahnya, bahwa Ubadah tidak mengakui apa pun dari Mu’awiyah, dia berkata, “Aku tidak akan menempatkanmu di bumi.” Setelah itu dia pergi ke Madinah. Sesampainya di Madinah Umar bertanya kepadanya, “Apa yang membuatmu datang kemari?” Dia kemudian menceritakan kepadanya tentang perbuatan Mu’awiyah. Mendengar itu, Umar berkata kepadanya, “Kembalilah ke tempatmu, sehingga Allah tidak memburukkan daerah yang tidak dihuni olehmu dan orang-orang seperti dirmu. Dia juga tidak berhak memerintahmu.”
Diriwayatkan dari Ismail bin Ubaid bin Rifa’ah, dari ayahnya, bahwa rombongan unta yang membawa khamer melewati Ubadah bin Ash-Shamit ketika dia sedang berada di Syam. Dia berkata, “Apa ini, minyak?” Ada yang menjawab, “Bukan, tetapi khamer yang dijual kepada si fulan.” Dia lalu langsung mengambil pedang menuju pasar dan berdiri di tengah-tengahnya. Dia kemudian tidak membiarkan satu kedai minum pun di dalam pasar tersebut. Pada saat itu Abu Hurairah berada di Syam, maka dia berkata kepada Ubadah, “Wahai Ubadah, ada masalah apa kamu dengan Mu’awiyah? Biarkan saja dia melakukan apa pun.” Dia menjawab, “Kami telah membai’atnya untuk mendengar dan taat serta melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Kami juga tidak takut dicela siapa pun demi menegakkan kalimat Allah.” Mendengar itu, Abu Hurairah terdiam. 
Setelah itu ada seseorang menulis surat kepada Utsman, “Sesungguhnya Ubadah telah merusakku di Syam.” 
Diriwayatkan dari Al Walid bin Muslim, bahwa Utsman bin Atikah menceritakan kepada kami, bahwa suatu saat Ubadah bin Ash-Shamit melewati desa Dummar,109 kemudian dia menyuruh pembantunya memotong kayu siwak dari pohon Shifshaf di atas sungai Barada. Pembantu itu pun segera mengerjakan perintahnya. Setelah pembantu tersebut datang dengan membawa permintaannya, Ubadah berkata, “Kembalikan, jika siwak itu tidak kamu beli, karena dia tidak akan berguna.” Dia akhirnya membeli kayu tersebut.
Ubadah bin Ash-Shamit meninggal di Ramlah pada tahun 34 Hijriyah dalam usia 72 tahun.

Salman Al Farisi


Al Hafizh Abu Al Qasim, Ibnu A’sakir berkata, “Dia adalah Salman bin Al Islam, Abu Abdullah Al Farisi, ksatria berkuda yang pertama kali masuk Islam, sahabat Nabi SAW. Ia mengabdi kepada beliau dan meriwayatkan hadits darinya.”
Diriwayatkan dari Utsman bin Ruwain, dari Al Qasim Abu Abdurrahman, dia berkata: Salman Al Farisi datang kepada kami dan menjadi imam shalat Zhuhur, kemudian manusia berbondong-bondong menemuinya seperti halnya menemui seorang khalifah. Kami juga menemuinya dan beliau mengerjakan shalat Ashar bersama sahabat-sahabatnya. Dia berjalan, kemudian kami berhenti untuk mengucapkan salam kepadanya. Tidak ada seorang pembesar pun di antara kami kecuali menawarkan agar dia sudi singgah di rumahnya. Namun Salman menolak dengan berkata, “Aku sudah berjanji kepada diriku untuk singgah di rumah Basyir bin Sa’ad.” 
Ketika sampai, dia bertanya tentang Abu Ad-Darda`. Mereka berkata, “Dia sedang berdzikir.” Dia berkata, “Di mana tempat dzikir kalian?” Mereka menjawab, “Beirut.” Dia lalu pergi ke tempat tersebut. 
Urwah berkata: Setelah itu Salman berkata, “Wahai penduduk Beirut, maukah kalian aku riwayatkan sebuah hadits kepada kalian, yang dengannya Allah menghilangkan dari kalian sifat kependetaan? Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, 
‘(Pahala) menjaga perbatasan sehari semalam seperti (pahala) puasa dan bangun malam sebulan. Barangsiapa mati dalam keadaan sedang menjaga perbatasan maka dia akan diselamatkan dari fitnah kubur, dan pahala amalannya akan tetap mengalir kepadanya hingga Hari Kiamat’.”
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata: Salman Al Farisi menceritakan kepadaku, “Aku adalah seorang pria Persia dari Ishfahan. Aku tinggal di desa yang bernama Jiyyun. Ayahku seorang kepala daerah dan aku orang yang paling dicintainya. Rasa cintanya yang terlalu kepadaku pernah membuatku ditahan di rumah layaknya seorang gadis perawan. Pada waktu itu aku rajin melaksanakan ajaran agama Majusi, menyembah api, yang tak pernah dibiarkan padam sedetik pun. Ayahku mempunyai sebuah tempat yang sangat besar dan dia dibuat sibuk membangunnya. Suatu ketika dia berkata kepadaku, ‘Wahai Anakku, aku sibuk membangun tempat peristirahatan hari ini, maka pergi dan awasilah!’ Beliau menyuruhku melakukan beberapa hal.  Aku pun keluar. Ia kemudian berkata, ‘Kamu jangan menghilang dariku, karena jika kamu hilang maka itu akan membuatku lebih susah daripada mengerjakan tempat peristirahatan tersebut dan kamu akan membuatku gelisah setiap saat’. 
Setelah itu aku keluar menuju tempat peristirahatannya. Ketika itu aku melewati sebuah gereja, lalu aku mendengar suara mereka sedang beribadah. Aku tidak tahu alasan ayah menahanku di rumah. Ketika aku melewati mereka, aku mendengar suara mereka. Aku lantas masuk bersama mereka untuk melihatnya. Ketika aku melihat mereka, aku takjub melihat tata cara ibadah mereka hingga aku menyukainya. Aku kemudian berkata, ‘Demi Allah, ini lebih baik daripada agama yang kami anut. Demi Allah, aku tidak akan meninggalkan mereka hingga aku meninggalkan tempat peristirahatan ayah’. Selanjutnya aku bertanya kepada orang-orang Nasrani, ‘Dari mana datangnya agama ini?’ Mereka menjawab, ‘Dari Syam’.
Aku kemudian pulang untuk menemui Ayah saat dia telah mengutus seseorang untuk mencariku, hingga menyebabkannya menghentikan seluruh pekerjaannya. Ketika aku datang, dia berkata, ‘Ke mana saja kamu? Bukankah sudah kukatakan agar tidak menghilang dariku?’ Aku menjawab, ‘Wahai Ayah, aku tadi melewati kelompok manusia yang sedang beribadah di gereja, lalu aku takjub melihat tata cara agama mereka. Demi Allah, aku duduk bersama mereka hingga matahari tenggelam’. Mendengar itu dia berkata, ‘Wahai Anakku, agama itu tidak baik. Agamamu adalah agama nenek moyangmu, yang lebih baik darinya’. Aku lalu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, agama itu lebih baik daripada agama kita’. 
Setelah itu dia mengikat kedua kakiku dan menahanku di rumah lantaran mengkhawatirkan diriku. Aku kemudian mengirim seseorang untuk  menemui orang-orang Nasrani tersebut. Kepada mereka kukatakan, ‘Jika ada seorang penunggang kuda datang kepada kalian dari Syam, maka beritahu aku tentang mereka’. Tak lama kemudian rombongan dari Syam tiba. Aku lalu berkata, ‘Jika mereka menginginkan sesuatu dan ingin pulang maka bertahukan kepadaku!’ Mereka pun melaksanakannya. Aku kemudian berusaha melepaskan besi yang mengikat kaki, lalu keluar bersama mereka hingga tiba di Syam. Ketika aku sampai di sana, aku bertanya, ‘Siapa penganut agama Nasrani yang paling baik?’ Mereka menjawab, ‘Uskup di gereja’. Aku lantas mendatanginya dan berkata, ‘Aku sebenarnya tertarik dengan agama ini dan aku senang tinggal bersamamu, memberikan pelayanan bagi gerejamu ini agar dapat belajar dan beribadah bersamamu’. Mendengar itu, sang Uskup berkata, ‘Masuklah!’ Aku pun masuk bersamanya. 
Namun ternyata di seorang pria jahat yang memerintahkan penganut agamanya untuk bersedekah dan membuat mereka terdorong untuk melakukannya. Setelah berhasil mengumpulkan uang sedekah, dia menyimpannya untuk dirinya sendiri dan tidak diberikan kepada orang-orang miskin, hingga terkumpul sekitar tujuh peti emas dan perak. Melihat itu, aku marah besar. Tak lama kemudian dia meninggal, sedangkan orang-orang Nasrani berkumpul untuk menguburkannya. Aku lalu berkata kepada mereka, ‘Dia orang jahat, dia menyuruh kalian bersedekah hingga kalian terdorong untuk melakukannya, namun ketika kalian sudah memberikan sedekah, dia hanya menyimpannya untuk diri sendiri dan tidak membagikannya kepada fakir miskin’. Aku lantas memperlihatkan kepada mereka tempat penyimpanan harta yang jumlahnya mencapai tujuh peti. Ketika mereka melihatnya, mereka berkata, ‘Demi Allah, kita tidak akan menguburkannya selama-lamanya’. 
Mereka kemudian menyalibnya dan melemparnya di atas bebatuan.  Selanjutnya mereka mengangkat seseorang untuk menggantikan posisinya. Aku tidak pernah melihat orang —selain orang Islam— yang lebih baik darinya, lebih zuhud di dunia, lebih cinta akhirat, serta lebih beradab pada malam dan siang hari. Aku tidak pernah mencintai seorang pun sebelumnya melebihi cintaku kepadanya. Aku terus bersamanya hingga dia meninggal. Aku berkata, ‘Wahai fulan, ketetapan Allah telah datang kepadamu. Demi Allah, aku tidak pernah mencintai sesuatu seperti halnya aku mencintai dirimu, maka apa yang engkau perintahkan kepadaku dan siapa yang engkau sarankan untuk aku kunjungi?’ Dia berkata, ‘Wahai anakku, demi Allah, aku tidak mengenal seseorang selain seorang pria yang berada di Mosul. Datangilah dia, kamu pasti akan menemukan orang sepertiku!’
Setelah dia meninggal dan jasadnya dikubur, aku pergi ke Mosul dan menemui pemimpinnya. Ternyata aku menemukan orang yang persis seperti keadaannya, baik dalam kesungguhan maupun kezuhudan. Aku lalu berkata kepadanya, ‘Seseorang telah menyarankan kepadaku agar menemuimu dan tinggal bersamamu’. Dia menjawab, ‘Tinggallah di sini wahai anakku!’ 
Aku pun tinggal bersamanya seperti yang diperintahkan oleh pemimpinnya, hingga dia meninggal dunia. Setelah itu aku berkata kepadanya, ‘Sebelumnya seseorang telah menyaranku agar menemui dirimu dan sekarang engkau akan meninggal, maka siapa orang yang sarankan untuk aku datangi? Apa yang engkau perintahkan kepadaku?’ Dia menjawab, ‘Demi Allah, aku tidak tahu. Wahai anakku, aku tidak tahu kecuali seorang pria di Nashibain’.
Setelah kami menguburnya, aku mendatangi pria terakhir tersebut. Aku tinggal bersamanya seperti halnya yang lain, hingga akhirnya dia meninggal. Dia kemudian menyarankanku agar mendatangi seorang penduduk Amuriyah di Romawi. Aku pun menemuinya dan mendapatinya seperti keadaan mereka. Selanjutnya aku bekerja hingga berhasil memiliki kekayaan yang melimpah. Tak lama kemudian ada tanda-tanda dia akan meninggal, maka aku berkata kepadanya, ‘Kepada siapa aku harus berguru?’ Dia menjawab, ‘Wahai anakku, demi Allah, aku tidak mengetahui lagi siapa orang yang seperti kita yang bisa kamu datangi. Tetapi sebentar lagi akan datang seorang nabi yang diutus dari tanah haram. Dia berhijrah dari daerah panas menuju wilayah yang subur (berair) yang ditanami pohon kurma. Pada dirinya terdapat tanda-tanda yang dapat diketahui, di antara kedua pundaknya ada cap sebagai penutup para nabi. Dia memakan hadiah dan tidak makan sedekah. Jika kamu bisa pergi ke negeri itu maka lakukanlah, karena waktunya sudah dekat’.
Setelah dia telah meninggal dunia, aku masih tetap tinggal di sana hingga beberapa pedagang Arab dari suku Kalb lewat. Aku lalu bertanya kepada mereka, ‘Maukah kalian membawaku ke negeri Arab? Aku akan memberikan ghanimah serta kekayaanku ini kepada kalian’. Mereka menjawab, ‘Ya’. Aku kemudian memberikan semua hartaku kepada mereka, dan mereka pun membawaku. Tatkala mereka dan aku sampai di Wadil Qura, mereka berbuat zhalim kepadaku dengan menjualku sebagai budak seorang Yahudi di Wadil Qura. Demi Allah, ketika itu aku telah melihat pohon kurma, maka aku berharap itu adalah negeri yang pernah diceritakan oleh sahabatku itu.
Lalu datang seorang pria dari bani Quraidzah ke Wadil Qura. Dia kemudian membeliku dari majikanku, lalu keluar bersamaku hingga kami sampai di Madinah. Demi Allah, negeri itu nampak seakan-akan aku pernah melihatnya lantaran aku telah mengetahui sifat-sifatnya.
Setelah itu aku bermukim di Ruqa, lalu Allah mengutus Nabi SAW di Makkah, dan selama menjadi budak pria tersebut aku tidak pernah memperoleh informasi sedikit pun tentang beliau. Hingga ketika Rasulullah SAW tiba di Quba‘, Madinah, aku masih bekerja sebagai budak, mengurus kurma-kurma majikanku. Demi Allah, ketika aku berada di kebun itu, tiba-tiba keponakan majikan tersebut datang dan berkata, ‘Wahai fulan, Allah telah membinasakan bani Qailah. Demi Allah, sekarang mereka berada di Quba‘ mengerumuni seorang pria yang datang dari Makkah dan mereka menganggapnya sebagai nabi’.
Demi Allah, mendengar berita yang sudah pernah aku dengar, tiba-tiba badanku gemetar, sampai-sampai seperti akan pingsan. Aku pun bergegas turun dan berkata, ‘Berita apa ini?’
Ditanya seperti itu, majikanku mengangkat tangannya dan memarahiku dengan keras, ‘Apa urusanmu, teruskan saja pekerjaanmu!’ Aku berkata, ‘Bukan apa-apa, tetapi aku hanya ingin mengetahui tentang berita tersebut’.
Sore harinya saat aku telah memiliki persediaan makanan, aku langsung berangkat untuk menemui Rasulullah SAW di Quba‘. Setelah bertemu dengan beliau, aku berkata, ‘Aku mendengar bahwa engkau adalah orang shalih dan ditemani sahabat-sahabatmu yang asing. Aku mempunyai sedekah dan aku melihat engkau sebagai orang yang paling berhak menerimanya di negeri ini. Ini untukmu dan makanlah!’
Beliau kemudian menerimanya, lalu bersabda kepada sahabat-sahabatnya, ‘Makanlah!’ melihat hal itu, aku langsung berkata kepada diri sendiri, ‘Ini adalah salah satu sifat yang diceritakan oleh sahabatku’.
Setelah itu aku kembali, sedangkan Rasulullah SAW pindah ke Madinah. Aku kemudian mengumpulkan segala yang aku miliki, lalu mendatangi beliau dan berkata, ‘Aku melihat engkau tidak makan dari hasil sedekah, maka terimalah hadiah ini!’ Rasulullah SAW kemudian memakannya bersama para sahabat. Melihat itu, aku berkata dalam hati, ‘Inilah sifat keduanya’.
Aku lalu menemui Rasulullah SAW lagi pada saat beliau mengiringi jenazah. Ketika itu aku mengenakan dua jubah, sementara beliau berjalan bersama sahabat-sahabatnya. Aku kemudian berputar sambil berusaha melihat bagian pundak beliau, apakah ada cap kenabian seperti yang diceritakan. Tatkala beliau melihatku, nampaknya beliau tahu bahwa aku sedang mencari sesuatu, maka beliau melepaskan serban dari punggungnya hingga aku bisa melihat cap itu. Aku pun langsung memeluknya sambil menangis. 
Setelah itu aku menceritakan kepada beliau kisah yang aku alami seperti yang aku kisahkan kepadamu wahai Ibnu Abbas. Selanjutnya Rasulullah SAW menyarankan agar para sahabat yang lain mendengarkan cerita tersebut.”
Salman masih menjadi budak dan sibuk dengannya hingga dia tidak bisa ikut Rasulullah SAW dalam perang Badar dan Uhud. Rasulullah SAW kemudian bersabda, “Merdekakan dirimu secara mukatab106 wahai Salman!”  Aku pun membuat perjanjian kemerdekaan dengan sang majikan. Aku harus membayar tiga ratus pohon kurma yang telah ditanami, ditambah harta sejumlah empat puluh uqiyah.107 Mendapat informasi seperti itu, Rasulullah SAW lantas bersabda kepada para sahabat, “Tolonglah saudara kalian!” Di antara mereka ada yang memberikan 30 tunas pohon kurma, ada yang memberikan 20, dan ada yang memberikan 15 tunas pohon kurma. Selanjutnya beliau berkata, “Pergilah wahai Salman dan galilah lubangnya. Jika selesai maka datanglah kepadaku, biar aku sendiri yang meletakkan tunas-tunas pohon kurma itu!” 
Aku kemudian menggali lubang-lubang itu dengan dibantu oleh sahabat-sahabatku. Setelah selesai menggali, aku langsung mendatangi beliau untuk melaporkannya. Beliau lalu keluar bersamaku. Kami memberikan tunas pohon kurma itu kepada beliau, lalu beliau meletakkannya dengan tangannya ke dalam lubang. Demi jiwa Salman yang berada di tangan-Nya, tidak ada satu pun tunas kurma yang mati. Selanjutnya aku menyerahkan pohon-pohon kurma itu kepada majikanku dan tinggal tanggungan membayar uang sejumlah empat puluh uqiyah. 
Tak lama kemudian Rasulullah SAW datang dengan membawa sebuah benda seperti telur ayam yang terbuat dari perak, yang diperoleh dari medan perang. Beliau lantas bertanya, “Apa yang dilakukan Salman Al Farisi yang baru dibebaskan itu?” Aku pun dipanggil. Beliau lantas bersabda, “Ambillah ini dan penuhilah kebutuhanmu dengan ini!” Aku lalu menjawab, “Apa yang bisa aku perbuat dengan ini wahai Rasulullah untuk memenuhi kebutuhanku?” Beliau bersabda, “Ambillah! Allah pasti akan memenuhi kebutuhanmu dengannya’. 
Aku pun mengambilnya lalu menukar sebagiannya dengan empat puluh uqiyah, yang aku gunakan untuk membayar tanggungan kepada majikanku. Sejak saat itu aku bebas. Selanjutnya aku ikut bersama Rasulullah SAW dalam perang Khandaq, dan tidak ada satu peperangan pun yang aku tinggalkan.
Diriwayatkan dari A‘idz bin Amr, bahwa suatu ketika Abu Sufyan berjalan melewati Salman, Bilal, dan Shuhaib dalam sebuah rombongan. Mereka lalu berkata, “Pedang-pedang Allah tidak bisa menyentuh leher musuh-musuh Allah.” Mendengar ucapan itu, Abu Bakar berkata, “Apakah kalian mengatakan itu kepada syaikh dan pemimpin Quraisy?” Tak lama kemudian Nabi SAW datang lalu mengabarkan kepadanya, “Wahai Abu Bakar, mungkin kamu membuat mereka marah. Jika kamu membuat mereka marah, berarti kamu telah membuat Tuhanmu marah.” Abu Bakar pun mendatangi mereka lantas berkata, “Wahai saudaraku, apakah aku telah membuat kalian marah?” Mereka menjawab, “Tidak, wahai Abu Bakar, semoga Allah mengampunimu.”
Diriwayatkan dari Abu Al Bukhturi, bahwa Ali pernah ditanya oleh beberapa orang, “Ceritakan kepada kami tentang sahabat-sahabat Muhammad SAW!” Ali berkata, “Siapa yang ingin kalian ketahui?” Ada yang menjawab, “Abdullah.” Dia kemudian berkata, “Dia sahabat yang mengetahui Al Qur`an dan Sunnah dengan baik. Kemudian ilmu berakhir pada dirinya.” Mereka berkata, “Bagaimana dengan Ammar?” Dia menjawab, “Dia seorang mukmin yang sering lupa. Tetapi jika kamu mengingatkannya, dia akan ingat.” Mereka bertanya lagi, “Bagaimana dengan Abu Dzarr?” Dia berkata, “Dia menyadari ilmu yang tidak mampu dilakukannya.” Mereka lanjut bertanya, “Bagaimana dengan Abu Musa?” Dia menjawab, “Dia termasuk cendekiawan sahabat.” Mereka bertanya lagi, “Bagaimana dengan Hudzaifah?” Dia berkata, “Dia sahabat Muhammad yang paling tahu tentang orang-orang munafik.” Mereka bertanya lagi, “Bagaimana dengan Salman?” Dia menjawab, “Dia mendapatkan ilmu yang pertama dan yang terakhir, lautan yang dasarnya tidak diketahui, dan dia seorang Ahlul Bait.” Mereka bertanya, “Bagaimana dengan dirimu sendiri wahai Amirul Mukminin?” Dia menjawab, “Jika aku meminta diberi dan jika aku mencari akan menemukan.”
Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa ketika Nabi SAW membaca firman Allah,  “Jika mereka berpaling, niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, kemudian mereka tidak akan seperti kamu ini” (Qs. Muhammad [47]: 38) para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, siapa mereka?” Beliau kemudian memukul paha Salman Al Farisi dan berkata, “Pria ini dan kaumnya. Seandainya agama ini dipeluk oleh orang-orang kaya, tentu orang-orang Persi akan segera memeluknya.”
Diriwayatkan dari Abu Al Bukhturi, dia berkata: Al Asy’ats bin Qais dan Jarir bin Abdullah datang untuk menghadap Salman di sebuah rumah gubuk. Keduanya lalu memberi salam dan menghormatinya, lantas berkata, “Apakah engkau sahabat Rasulullah?” Dia menjawab, “Aku tidak tahu.” Keduanya lantas bimbang. Tak lama kemudian Salman berkata, “Sahabat Rasulullah adalah yang menemaninya masuk surga.” Keduanya lalu berkata, “Aku datang dari Abu Ad-Darda`.” Salman berkata, “Lalu mana hadiahnya?” Keduanya menjawab, “Kami tidak membawa hadiah.” Salman berkata, “Bertakwalah kepada Allah dan tunaikan amanah! Setiap orang yang datang darinya untuk menemui diriku pasti membawa hadiah.” Keduanya berkata, “Jangan membebani kami dengan itu, karena kami memiliki harta, biar aku yang berikan kepadamu.” Salman berkata, “Yang aku inginkan hanya hadiah.” Keduanya lantas berkata, “Demi Allah, Abu Ad-Darda` tidak menitipkan apa-apa kepada kami untukmu kecuali perkataannya, ‘Sesungguhnya di antara kalian ada seorang pria yang jika bersama Rasulullah, dia tidak menginginkan apa-apa lagi. Jika kalian berdua mendatanginya, sampaikan salamku kepadanya’. Salman berkata, ‘Hanya hadiah tersebut yang aku inginkan dari kalian, karena tidak ada lagi hadiah yang lebih mulia darinya selain itu?’.”
Diriwayatkan dari Thariq bin Syihab, dari Salman, dia berkata, “Jika waktu malam telah tiba, orang-orang terbagi menjadi tiga tingkatan: pertama, orang yang mendapatkan pahala dan tidak mendapat dosa. Kedua, orang yang mendapat dosa dan tidak mendapat pahala. Ketiga, orang yang tidak mendapat dosa dan tidak mendapat pahala.” Lalu ada yang bertanya, “Bagaimana hal itu bisa terjadi?” Salman menjawab, “Pertama, orang yang mendapatkan pahala dan tidak mendapatkan dosa adalah orang yang menghindari orang-orang lalai dan kegelapan malam, lalu berwudhu dan shalat. Kedua, orang yang mendapat dosa dan tidak mendapat pahala adalah orang yang bergaul dengan orang-orang lalai dan kegelapan malam, lalu berbuat maksiat. Ketiga, orang yang tidak mendapat dosa dan tidak mendapat pahala adalah orang yang tidur hingga pagi.”
Thariq  kemudian berkata, “Aku akan menemani pria itu (maksudnya Salman).” Tatkala beberapa orang dikirim ke suatu tempat, Salman ikut bersama mereka. Aku menemaninya. Jika dia membuat adonan, aku yang membuat roti, dan jika dia yang membuat roti, aku yang memasak. Tak lama kemudian kami singgah di sebuah rumah dan bermalam di tempat tersebut. 
Biasanya, Thariq mempunyai waktu tertentu yang digunakan untuk beribadah pada malam hari. Manakala aku terjaga pada malam hari, aku melihat Salman masih tertidur pulas, maka aku pun tidur kembali. Aku lantas berkata, “Sahabat Rasulullah, orang yang lebih baik dariku saja masih tidur, maka sebaiknya aku tidur kembali.” Ketika aku terjaga untuk kedua kalinya aku melihatnya masih tidur, hingga akhirnya aku tidur lagi. Hanya saja jika dia terjaga pada tengah malam, dalam keadaan tidur, dia membaca, “Subhaanallah, walhamdu lillah, walaa ilaaha illallah, wallahu akbar, laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu wahuwa ala kulli syai`in qadir.” 
Menjelang Subuh, dia bangun, lalu berwudhu, kemudian shalat empat rakaat. Ketika kami mengerjakan shalat Subuh, aku bertanya, “Wahai Abdullah, aku mempunyai jam untuk membangunkanku pada waktu malam dan aku bangun, tetapi aku melihatmu masih tidur.” Salman berkata, “Wahai keponakanku, apakah kamu tidak mendengar apa yang aku baca pada malam itu?” Aku lalu memberitahukannya bahwa aku mendengarnya. Dia lantas berkata, “Wahai keponakanku, itu adalah shalat, karena shalat lima waktu merupakan kafarat di antara keduanya dari dosa-dosa kecil. Wahai keponakanku, kamu hendaknya menetapkan niat, karena itu lebih sampai kepada tujuan.” 
Diriwayatkan dari Abu Wa‘il, dia berkata: Suatu ketika aku dan seorang teman pergi menemui Salman, lalu dia berkata, “Seandainya Rasulullah SAW tidak melarang kami untuk membebani diri, tentu kami akan mengabdi kepada kalian.” Tak lama kemudian dia membawakan roti dan garam kepada kami. Teman itu berkata, “Alangkah baiknya jika ada sha’tar (semacam daun untuk lalap) pada garam kita ini.” Salman pun membawa wadah cuciannya lalu menggadaikannya. Kemudian muncul dengan membawa daun sha’tar. Selesai makan, temanku berkata, “Segala puji bagi Allah yang menjadikan kami puas dengan apa yang diberikan kepada kami.” Mendengar itu, Salman berkata, “Seandainya kamu puas, tentu wadah cucianku tidak akan digadaikan.”
Diriwayatkan dari Anas, dia berkata: Sa’ad dan Ibnu Mas’ud pernah menghadap Salman menjelang kematiannya. Salman lalu menangis. Ketika dia ditanya, “Mengapa kamu menangis?” Salman menjawab, “Karena janji yang pernah dijanjikan Rasulullah SAW kepada kami, namun kami bisa menepatinya.”  Dia lanjut berkata, “Kalian sebaiknya mengumpulkan bekal di dunia untuk akhirat, layaknya orang yang membawa bekal ketika hendak bepergian. Sedangkan kamu wahai Sa’ad, hendaknya bertakwa kepada Allah dalam menetapkan hukum ketika membuat suatu keputusan, melakukan pembagian, dan menginginkan sesuatu.”
Tsabit berkata, “Aku mendapat berita bahwa Salman tidak meninggalkan apa-apa kecuali uang dua puluh dirham lebih sedikit.”
Diriwayatkan dari Salman, dia berkata, “Masa yang terpaut antara Isa dengan Muhammad adalah enam ratus tahun.”
Salman meninggal dunia di Mada‘in, pada masa Khalifah Utsman.
Abbas bin Yazid Al Jurjani berkata: Para ulama berkata, “Salman berusia 350 tahun, sedangkan yang 250 tahun tidak diragukan tentangnya.”
Semua masalah, keadaan, peperangan, semangat, dan tingkah lakunya, menunjukkan bahwa dia tidak berumur panjang dan tidak sampai berusia lanjut. Dia meninggalkan negerinya sejak kecil. Mungkin dia pergi ke Hijaz saat berusia 40 tahun atau kurang, tetapi pada saat itu dia belum mendengar perihal diutusnya Nabi. Kemudian dia hijrah. Mungkin dia hidup selama 70-an tahun. Tetapi menurutku, usianya tidak mencapai seratus tahun. Oleh karena itu, siapa pun yang mengetahui secara jelas tentang masalah ini, sebaiknya membertahukannya kepada kami.
Yang menukil bahwa beliau berusia panjang adalah Abu Al Faraj bin Al Jauzi dan lain-lain, sementara aku tidak mengetahui apa-apa tentangnya.
Diriwayatkan dari Tsabit Al Bunnani, dia berkata: Ketika Salman sakit, Sa’ad keluar dari Kufah untuk menjenguknya. Lalu dia datang bertepatan dengan saat-saat Salman menutup usianya. Dia kemudian menangis, lalu mengucapkan salam lantas duduk. Sa’ad berkata, “Apa yang membuatmu menanggis wahai saudaraku? Tidakkah kamu ingat persahabatan dengan Rasulullah? Tidakkah kamu ingat dengan pemandangan yang indah-indah?”
Salman berkata, “Demi Allah, yang membuat aku menangis bukan karena seseorang atau dua orang, bukan karena aku cinta dunia dan tidak senang bertemu dengan Allah.” Sa’ad berkata, “Lalu apa yang membuatmu menangis setelah kamu berusia delapan puluh tahun?” Salman menjawab, “Aku menangis karena kekasihku telah menetapkan janji kepadaku seraya bersabda, ‘Setiap orang di antara kalian hendaknya selalu bersiap-siap di dunia ini, seperti halnya persiapan yang dilakukan oleh orang yang hendak bepergian’. Oleh karena itu, kami takut telah melanggar janji itu.”
Diriwayatkan dari sebagian sahabat, dari Tsabit, dia berkata, “Diriwayatkan dari Abu Utsman, bahwa hadits tersebut berstatus mursal, seperti yang dikatakan oleh Abu Hatim.” Hadits ini menjelaskan bahwa Salman hanya berusia 80 tahun.
Mengenai hal ini, aku telah menjelaskannya dalam kitab Tarikh Al Kabir, bahwa dia berusia 250 tahun, dan pada saat itu aku tidak menerima dan tidak membenarkan pendapat tersebut.

Abdullah bin Mas’ud


Dia adalah Abu Abdurrahman Al Hudzali Al Makki Al Muhajirin Al Badri, pemimpin bani Zuhrah.
Dia sosok imam yang memiliki segudang ilmu dan berpemahaman mendalam.
Dia termasuk salah sahabat yang pertama kali masuk Islam, penghulu para ulama, pejuang perang Badar, sahabat yang melakukan hijrah dua kali, memperoleh harta rampasan pada waktu perang Yarmuk, memiliki banyak keistimewaan, dan banyak meriwayatkan ilmu.
Al A’masy meriwayatkan dari Ibrahim, dia berkata, “Abdullah adalah orang yang lembut dan cerdas.”
Aku berkata, “Dia termasuk ulama yang cerdas.”
Ibnu Al Musayyib berkata, “Aku melihat Ibnu Mas’ud sebagai pria berperut besar dan berlengan kekar.”
Diriwayatkan dari Nuwaifa’ —pembantu Ibnu Mas’ud—, dia berkata, “Abdullah termasuk orang yang selalu berpakaian rapi dan putih, serta selalu memakai minyak wangi.”
Abdullah berkata, “Engkau telah melihat kami menjadi orang keenam dari enam orang dan tidak ada di muka bumi pada saat itu seorang muslim selain kami.”
Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, dia berkata, “Aku pernah menggembala kambing milik Uqbah bin Abu Mu’ith, lalu Rasulullah SAW dan Abu Bakar berpapasan denganku, dan mereka bersabda, ‘Wahai ghulam, apakah ada susu?’ Aku menjawab, ‘Ada, tetapi aku kira tidak cukup’. Beliau bertanya, ‘Apakah ada kambing yang belum pernah kawin?’ Aku lalu mendatangkan kambing jenis itu kepada beliau. Setelah itu beliau mengusap putingnya hingga akhirnya susunya mengalir. Beliau kemudian memerahnya ke dalam sebuah wadah dan meminumnya, lalu memberikan kepada Abu Bakar, lantas bersabda kepada puting itu, ‘Mengecillah!’ Puting itu pun mengecil. Aku pun mendatangi beliau dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, ajarilah aku perkataan seperti itu’. Beliau kemudian mengusap kepalaku seraya bersabda, ‘Semoga Allah merahmatimu karena kamu budak yang terpelajar’.”
Sanad hadits ini shahih dan diriwayatkan oleh Abu Awanah dari Ashim bin Bahdalah. Dalam redaksi haditsnya disebutkan tambahan, “Aku telah belajar langsung dari mulut Rasulullah SAW tujuh puluh surah yang tidak ada seorang pun yang bisa menanding diriku.”
Yahya bin Urwah bin Az-Zubair meriwayatkan dari ayahnya, dia berkata, “Orang yang pertama kali membaca Al Qur`an secara terang-terangan setelah Rasulullah SAW adalah Abdullah bin Mas’ud.”
Diriwayatkan dari Anas, bahwa Nabi SAW mempersaudarakan Az-Zubair dengan Ibnu Mas’ud.
Diriwayatkan dari Abu Al Ahwash, dia berkata: Aku melihat Abu Mas’ud dan Abu Musa —ketika Abdullah bin Mas’ud meninggal—, dan salah seorang dari keduanya berkata kepada temannya, “Apakah kamu melihat masih ada sahabat seperti dia sepeninggal dirinya?” Dia menjawab, “Jika kamu berkata seperti itu berarti ketika kita tidak mendapat restu, dia memperoleh izin, dan dia juga bersaksi ketika kita tidak sedang berada di tempat.”
Al Bukhari dan An-Nasa`i meriwayatkan dari hadits Abu Musa, dia berkata, “Aku dan saudaraku datang dari Yaman, lalu kami tinggal di Hunain dan kami tidak menganggap Ibnu Mas’ud dan ibunya kecuali termasuk keluarga Nabi SAW karena mereka sering keluar-masuk menghadapnya.”
Diriwayatkan dari Abdullah, dia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Wahai Abdullah, izinmu kepadaku adalah jika kamu menghilangkan hijab (penghalang) dan kamu mendengarkan bisikanku hingga aku melarangmu’.” 
Diriwayatkan dari Abdullah, dia berkata, “Ketika firman Allah, لَيْسَ عَلَى الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَعَمِلُوْا الصَّالِحَاتِ جُنَاحٌ  ‘Bukanlah atas orang-orang yang beriman dan beramal shalih itu dosa...’, (Qs. Al Maa`idah [5]: 93) turun, Rasulullah SAW bersabda kepadaku, ‘Kamu termasuk di antara mereka’.”
Diriwayatkan dari Abu Wa‘il, dia berkata, “Aku bersama Hudzaifah, lalu datanglah Ibnu Mas’ud. Hudzaifah berkata, ‘Sesungguhnya orang yang paling menyerupai Rasulullah SAW dalam memberikan petunjuk, jalan, ketetapan, dan khutbahnya, sejak berangkat dari rumah hingga kembali —aku tidak tahu apa yang beliau lakukan terhadap keluarganya— adalah Abdullah bin Mas’ud. Orang-orang yang selalu mengerjakan shalat Tahajud dari kalangan sahabat Nabi tahu bahwa Abdullah adalah orang yang paling dekat wasilahnya di sisi Allah pada Hari Kiamat.”
Diriwayatkan dari Alqamah, dia berkata, “Kami pernah bersama Abdullah, lalu datanglah Khubab bin Al Aritt hingga dia berdiri di depan kami, sementara di tangannya ada cincin dari emas, ia bertanya, ‘Apakah setiap orang membaca seperti yang kamu baca?’ Abdullah berkata, ‘Jika kamu mau, aku akan menyuruh beberapa orang dari mereka untuk membaca’. Dia berkata, ‘Baik’. Ibnu Mas’ud berkata, ‘Bacalah wahai Alqamah!’ Pria itu berkata, ‘Apakah kamu menyuruhnya membaca, padahal dia bukan orang yang paling baik bacaannya?’ Abdullah berkata, ‘Jika kamu mau, aku akan meriwayatkan hadits kepadamu dari Rasulullah SAW tentang kaumnya dan kaummu’. Aku lalu membaca lima puluh ayat dari surah Maryam’. Abdullah berkata, ‘Dia tidak membaca kecuali seperti yang aku baca’. Abdullah lanjut berkata, ‘Mengapa cincin ini tidak kamu lepas?’ Dia lantas melepaskannya dan membuangnya. Dia berkata, ‘Demi Allah, jangan perlihatkan kepadaku selamanya’.”
Diriwayatkan dari Abu Al Ahwash, dia berkata, “Aku pernah mendatangi Abu Musa saat Abdullah dan Abu Mas’ud Al Anshari sedang berada di dekatnya. Mereka kemudian melihat ke mushaf, lalu kami berbincang-bincang sejenak. Setelah Abdullah keluar dan pergi, Abu Mas’ud berkata, ‘Demi Allah, aku tidak tahu Nabi SAW meninggalkan seseorang yang lebih mengetahui Kitabullah daripada pria ini’.”
Diriwayatkan dari Masruq, dia berkata: Abdullah berkata, “Demi jiwaku yang tidak ada tuhan selain-Nya, aku telah belajar langsung dari mulut Rasulullah SAW sekitar tujuh puluh surah. Jika aku mengetahui ada seseorang yang lebih mengetahui Kitabullah daripada diriku, dan bisa dijangkau dengan mengendarai unta, pasti akan aku datangi.”
Diriwayatkan dari Abdullah, bahwa Rasulullah SAW pernah melewati antara Abu Bakar dan Umar, sementara Abdullah ketika itu sedang berdiri shalat. Abdullah kemudian membuka rakaat pertama dengan surah An-Nisaa` yang dibaca secara tartil. Rasulullah SAW lalu bersabda, مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَقْرَأَ الْقُرْآنَ غَضًّا كَمَا أُنْزِلَ فَلْيَقْرَأْ قِرَاءَةَ ابْنِ أُمِّ عَبْدٍ “Barangsiapa yang senang membaca Al Qur`an persis seperti ketika diturunkan, maka dia hendaknya membaca seperti bacaan Ibnu Ummi Abd.” Setelah itu Abdullah berdoa, lantas Rasulullah SAW bersabda, “Mintalah, niscaya kamu diberi.” 
Di antara doa yang dibaca Abdullah ketika itu adalah, اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ إِيْمَانًا لاَ يَرْتَدُّ، وَنَعِيْمًا لاَ يَنْفَدُ، وَمُرَافَقَةَ نِبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَعْلَى جِنَانِ الْخُلْدِ “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon keimanan yang kokoh, kenikmatan yang tidak pernah lekang, dan selalu dapat menyertai Nabi-Mu, Muhammad SAW, di surga abadi yang paling tinggi.” 
Umar kemudian mendatangi Abdullah untuk memberinya kabar gembira tentang hal itu. Dia mendapati Abu Bakar telah keluar mendahuluinya, maka dia berkata, “Kamu selalu mendahuluiku dalam kebaikan.”
Diriwayatkan dari Ummu Musa, dia berkata: Aku mendengar Ali berkata, “Rasulullah SAW menyuruh Ibnu Mas’ud, lalu dia memanjat pohon untuk mengambil sesuatu. Ketika para sahabat melihat kaki Abdullah, mereka tertawa lantaran bentuk kakinya yang kecil. Melihat itu, Rasulullah SAW bersabda, ‘Apa yang kalian tertawakan? Sungguh, satu kaki Abdullah lebih berat timbangannya daripada gunung Uhud pada Hari Kiamat’.”
Diriwayatkan dari Abdullah, dia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Aku ridha untuk umatku sebagaimana yang diridhai oleh Ibnu Ummi Abd’.”
Diriwayatkan dari Abdullah, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda kepadaku, “Bacalah Al Qur`an kepadaku!” Aku kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, haruskah aku membacakan Al Qur`an kepadamu, sedangkan                   Al Qur`an diturunkan kepadamu?!” Beliau menjawab, “Aku sangat                         ingin mendengarkan bacaan Al Qur`an dari orang lain.” Aku lalu               membacakan surah An-Nisaa` hingga sampai pada firman Allah,  “Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).” (Qs. An-Nisaa` [4]: 41) Setelah itu beliau menyenggolku dengan kakinya, dan ternyata kedua matanya meneteskan air mata.
Ketika Amr bin Al Ash sakit hingga membuat tubuhnya gemetar, dia ditanya, “Bukankah dulu Rasulullah SAW dekat denganmu dan mengangkatmu sebagai pemimpin?” Dia menjawab, “Demi Allah, aku tidak tahu arti perlakuan beliau terhadapku, cinta atau hanya untuk meluluhkanku? Tetapi aku bersaksi atas dua orang sahabat yang ketika beliau meninggal masih dalam keadaan mencintai keduanya, yaitu Ibnu Ummi Abd dan Ibnu Sumayyah.”
Diriwayatkan dari Alqamah, dia berkata, “Abdullah menyerupai Nabi SAW dalam petunjuk, penjelasan, dan kesabarannya.”
Sedangkan Alqamah menyerupai Abdullah.
Diriwayatkan dari Haritsah bin Mudharrib, dia berkata, “Umar bin Khathtab pernah menulis surat kepada penduduk Kufah yang isinya antara lain: ‘Sesungguhnya aku telah mengutus kepada kalian Ammar sebagai amir dan Ibnu Mas’ud sebagai pemimpin dan menteri. Keduanya termasuk orang-orang pilihan dari kalangan sahabat Muhammad dan pejuang perang Badar. Oleh karena itu, dengarkan dan taatilah mereka! Aku juga lebih mengutamakan Abdullah atas kalian daripada diriku sendiri.”
Diriwayatkan dari Khumair bin Malik, dia berkata, “Para sahabat pernah diperintahkan merubah mushaf-mushaf. Ibnu Mas’ud lalu berkata, ‘Barangsiapa di antara kalian bisa mempertahankan mushafnya maka pertahankan, karena siapa yang bisa mempertahankan sesuatu, maka itu akan dibawa pada Hari Kiamat’. Kemudian dia berkata lagi, ‘Aku telah belajar langsung dari mulut Rasulullah sAW sebanyak tujuh puluh surah. Haruskah aku meninggalkan apa yang aku pelajari dari mulut beliau langsung?’.”
Az-Zuhri berkata, “Sampai kepadaku berita bahwa perkataan itu merupakan perkataan Ibnu Mas’ud yang tidak disukai oleh para sahabat.”
Menurut aku, pada saat itu Ibnu Mas’ud menghadapi masa-masa sulit, karena Utsman tidak menyuruhnya menulis mushaf, melainkan lebih mendahulukan sahabat yang lebih pantas menjadi anaknya. Utsman memilihnya karena pada saat itu dia sedang pergi ke Kufah dan karena Zaid menuliskan wahyu Rasulullah SAW, serta dia tangkas dalam menulis, sedangkan Ibnu Mas’ud tangkas dalam pelaksanaan. Selain itu, Zaid bin Tsabit adalah sahabat yang disuruh oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk menulis mushaf dan mengumpulkan Al Qur`an, mungkinkah dia mencela Abu Bakar? 
Menurut satu riwayat, Ibnu Mas’ud RA adalah pengikut Utsman dan dalam mushaf Ibnu Mas’ud ada sesuatu yang menurutku telah dihapus. Sementara itu Zaid merupakan sahabat termuda yang diperlihatkan akhirat oleh Nabi SAW pada saat beliau meninggal melalui malaikat Jibril.
Diriwayatkan dari Zaid bin Wahab, dia berkata, “Ketika Utsman memanggil Ibnu Mas’ud dan menyuruhnya pergi ke Madinah, orang-orang berkumpul kepadanya dan berkata, ‘Tinggallah dan jangan kembali lagi! Kami hanya ingin mencegah sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada dirimu’. Mendengar itu, dia berkata, ‘Aku sebenarnya harus taat kepadanya, karena hal itu akan menjadi perintah dan fitnah. Aku tidak senang menjadi orang yang pertama kali membuka fitnah tersebut’. Orang-orang lalu menolak dan memberontak kepadanya.”
Diriwayatkan dari Abdullah, dia berkata, “Jika kami belajar sepuluh ayat dari Nabi, maka kami tidak belajar sepuluh ayat yang diturunkan berikutnya hingga kita mengetahui apa yang ada di dalamnya, yaitu ilmu.”
Diriwayatkan dari Abu Al Bukhturi, dia berkata, “Ali ditanya tentang Ibnu Mas’ud,  lalu dia menjawab, ‘Dia pandai membaca Al Qur`an, orang-orang belajar kepadanya dan dicukupi olehnya’.” 
Diriwayatkan dari jalur periwayatan lain, dari Ali, dan dalam redaksinya dia menyebutkan, “...dan dia mengetahui Sunnah.” 
Diriwayatkan dari Zaid bin Wahab, dia berkata, “Aku pernah duduk bersama Umar bin Khaththab, tiba-tiba Ibnu Mas’ud datang, dan hampir saja orang-orang yang duduk menyamai ketinggiannya lantaran tubuhnya yang pendek. Ketika melihatnya, Umar langsung tertawa lantas berbicara kepadanya yang ketika itu terlihat gembira dan mencandainya, sementara Ibnu Mas’ud dalam keadaan berdiri. Umar kemudian mengikutinya dengan pandangannya hingga sama tinggi, lalu dia berkata, ‘Wadah yang kecil tapi penuh dengan ilmu’.”
Diriwayatkan dari Abu Wa‘il, bahwa Ibnu Mas’ud pernah melihat seorang pria memakai kain hingga menyentuh tanah, maka Ibnu Mas’ud berkata, “Tinggikan kainmu!” Dia berkata, “Kamu sendiri wahai Ibnu Mas’ud, tinggikan kainmu!” Ibnu Mas’ud lalu berkata, “Kakiku pendek, sedangkan aku memimpin manusia.” Ketika hal itu sampai kepada Umar, dia memukul pria itu lantas berkata, “Apakah kamu membantah Ibnu Mas’ud?”
Diriwayatkan dari Abu Amr Asy-Syaibani, bahwa Abu Musa pernah diminta untuk berfatwa tentang masalah faraidh (pembagian warisan), lalu dia melakukan kesalahan, hingga Ibnu Mas’ud menentangnya, sampai-sampai Abu Musa angkat bicara, “Kalian tidak perlu bertanya kepada diriku tentang suatu permasalahan selama sahabat yang cerdas ini masih ada di tengah-tengah kalian.”
Diriwayatkan dari Masruq, dia berkata, “Aku menyeleksi para sahabat Rasulullah SAW, sehingga aku mendapati ilmu mereka berakhir pada enam orang, yaitu Ali, Umar, Abdullah, Zaid, Abu Ad-Darda`, dan Ubai. Dari keenam sahabat tersebut aku seleksi lagi hingga menjadi dua, lalu aku mendapati ilmu mereka berakhir pada Ali dan Abdullah.”
Diriwayatkan dari Masruq, dia berkata: Suatu hari Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Beliau gemetar hingga bajunya ikut gemetar.’ Selanjutnya beliau bersabda seperti itu atau serupa dengan itu.”
Diriwayatkan dari Aun bin Abdullah, dari saudaranya Ubaidullah, dia berkata, “Jika angin bertiup tenang, Abdullah bangun malam sehingga aku mendengar suara mendawai-dawai seperti dawaian pohon kurma.”
Diriwayatkan dari Al Qasim bin Abdurrahman, bahwa Ibnu Mas’ud pernah berkata dalam doanya, “Ya Allah, jadikan aku orang yang takut dan selalu mencari pahala, bertobat, memohon ampun, senang dan takut kepada-Mu.”
Abdullah bin Mas’ud berkata, “Seandainya aku diciptakan dari keturunan anjing, tentu aku malu menjadi anjing. Aku benar-benar benci melihat orang menganggur tanpa pekerjaan, baik untuk urusan dunia maupun akhirat.”
Abdullah berkata, “Barangsiapa menginginkan akhirat maka dia akan diuji dengan dunia, dan barangsiapa menginginkan dunia maka dia akan diuji dengan akhirat. Wahai kaumku, carilah sesuatu yang rusak (hancur) untuk mendapatkan yang abadi.”
Menurut aku, Ibnu Mas’ud pernah menghadap Utsman, dan dalam perjalanannya ke Zabadzah104 dia menyaksikan penguburan jenazah Abu Dzar dan dia turut menshalatinya.
Abu Dzabiyah berkata, “Ketika Abdullah sakit, Utsman datang menjenguknya dan berkata, ‘Apa yang kamu keluhkan?’ Abdullah menjawab, ‘Dosa-dosaku’. Utsman berkata, ‘Apa yang kamu inginkan?’ Dia menjawab, ‘Rahmat Tuhanku’. Dia berkata lagi, ‘Bukankah aku telah menyuruhmu pergi ke dokter?’ Dia menjawab, ‘Dokter justru menyakitiku’. Utsman berkata, ‘Maukah kamu aku beri sesuatu?’ Abdullah menjawab, ‘Aku tidak membutuhkannya’.”
Ibnu Mas’ud wafat di Madinah dan dikubur di Baqi’ pada tahun 32 Hijriyah dalam usia 63 tahun.

Mu’adz bin Jabal


Dia adalah putra Amr, seorang pemimpin dan imam, Abu Abdurrahman Al Anshari, Al Khazraji, Al Madani, Al Badri.
Ia merupakan salah satu sahabat yang mengikuti bai’at Aqabah dalam usia yang sangat muda.
Mu’adz masuk Islam pada usia 28 tahun.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda, 
“Belajarlah Al Qur`an kepada empat orang, yaitu Ibnu Mas’ud, Ubai, Mu’adz bin Jabal, dan Abu Hudzaifah.”
Diriwayatkan dari Anas secara marfu, dia berkata, “Umatku yang paling penuh cinta kasih kepada umatku adalah Abu Bakar, yang paling keras dalam memegang agama Allah adalah Umar, yang paling malu adalah Utsman, yang paling mengetahui masalah halal dan haram adalah Mu’adz, dan yang paling taat adalah Zaid. Setiap umat memiliki kepercayaan, dan kepercayaan umat ini adalah Abu Ubaidah.”
Diriwayatkan dari Al Harits bin Amr Ats-Tsaqafi, dia berkata: Sahabat-sahabat kami menceritakan kepada kami tentang Mu’adz, mereka berkata, “Ketika Nabi SAW mengutusku ke Yaman, dia berkata kepadaku, ‘Bagaimana kamu menetapkan hukum jika ada suatu perkara yang kamu hadapi?’ Mu’adz menjawab, ‘Aku akan menetapkan hukum berdasarkan Kitabullah. Jika tidak ada dalam Kitabullah maka aku akan menetapkan dengan hadits Rasulullah’. Rasulullah SAW bertanya lagi, ‘Bagaimana jika tidak ada dalam Sunnah Rasulullah?’ Mu’adz menjawab, ‘Aku akan berijtihad dengan pendapatku dan tidak berlebihan’. Setelah itu Rasulullah SAW memukul dadanya dan bersabda, ‘Segala puji bagi Allah yang telah menyelaraskan utusan Rasulullah dengannya, sebagaimana yang diridhai oleh Rasulullah’.”
Diriwayatkan dari Ashim bin Humaid As-Sakuni, bahwa ketika Nabi mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman, beliau berwasiat kepadanya. Mu’adz pada saat itu sedang menaiki tunggangannya, sementara Rasulullah SAW berjalan di bawah tunggangannya. Ketika selesai, Rasulullah SAW bersabda, “Wahai Mu’adz, mungkin engkau tidak bisa lagi bertemu denganku setelah tahun ini, dan mungkin engkau akan melewati masjid dan kuburanku.” Mendengar itu, Mu’adz menangis tersedu-sedu karena harus berpisah dengan Rasulullah SAW. Beliau kemudian bersabda, “Jangan menangis wahai Mu’adz, karena tangisan itu berasal dari syetan.”
Diriwayatkan dari Sa’id bin Abu Burdah, dari ayahnya, dari Abu Musa, bahwa ketika Nabi SAW mengutus Mu’adz ke Yaman, beliau bersabda kepada keduanya, 
“Permudahlah jangan dipersulit dan bersikap lembutlah dan jangan bersikap kasar.” 
Abu Musa berkata lalu kepadanya, “Sesungguhnya di negeri kami ada minuman dari madu yang dikenal dengan nama Bit’u dan dari gandum yang dikenal dengan nama Mizr.” Ditanya seperti itu, Mu’adz berkata, “Setiap minuman yang memabukkan adalah haram.” Setelah itu Mu’adz berkata kepadaku, “Bagaimana kamu membaca Al Qur`an?” Aku menjawab, “Aku membacanya ketika shalat, ketika di atas tunggangan, ketika berdiri, dan ketika duduk. Aku akan membacanya sedikit demi sedikit.” 
Sa’id berkata: Mu’adz kemudian berkata, “Tetapi aku tidur kemudian bangun, dan lamanya tidurku sama dengan lamanya bangunku.” Seakan-akan Mu’adz lebih diutamakan.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik orang adalah Abu Bakar, Umar, dan Mu’adz bin Jabal.”
Diriwayatkan dari Mu’adz, dia berkata: Nabi SAW menemuiku seraya berkata, 
“Wahai Mu’adz, aku mencintaimu karena Allah.” Aku lalu menjawab, “Begitu juga denganku wahai Rasulullah, aku mencintaimu karena Allah.” Rasulullah SAW lalu bersabda, “Aku ajarkan kepadamu beberapa kalimat yang dibaca pada setiap selesai shalat, ‘Rabbi a’inni ala dzikrika wa syukrika wa husni ibadatika (ya Tuhanku, tolonglah aku agar bisa mengingat-Mu, berterima kasih kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan baik )’.”
Diriwayatkan dari Muhammad bin Sahal bin Abu Hatsmah, dari ayahnya, dia berkata, “Orang-orang yang berfatwa pada masa Rasulullah SAW masih hidup itu ada tiga dari kalangan Muhajirin, yaitu Umar, Utsman, dan Ali, serta tiga dari kalangan Anshar, yaitu Ubai bin Ka’ab, Mu’adz, dan Zaid.”
Musa bin Ulai bin Rabah meriwayatkan dari ayahnya, dia berkata, “Umar pernah berkhutbah di hadapan orang-orang di Jabiyah, ‘Barangsiapa menginginkan pemahaman maka dia hendaknya mendatangi Mu’adz bin Jabal’.”
Diriwayatkan dari Nafi’, dia berkata, “Umar pernah menulis kepada Abu Ubaidah dan Mu’adz, ‘Lihatlah orang-orang shalih dan angkatlah mereka untuk menjadi qadhi serta berilah mereka rezeki’.”
Diriwayatkan dari Abu Qilabah dan yang lain, mereka mengatakan bahwa suatu ketika ada seorang pria melewati para sahabat Nabi SAW, lalu dia berkata, “Berwasiatlah kepadaku!’ Mereka semua lalu menasihatinya dan Mu’adz bin Jabal berada pada akhir kaum. Pria itu berkata, “Berwasiatlah kepadaku niscaya Allah akan merahmatimu!” Mu’adz berkata, “Mereka semua telah menasihatimu dan mereka tidak sembarangan. Aku hanya akan menyimpulkannya kepadamu. Ketahuilah bahwa kamu tidak membutuhkan dunia jika kamu lebih membutuhkan akhirat, maka mulailah mencari nasibmu dari akhirat, karena hal itu akan mengalir menuju dunia lalu mengaturnya, lalu hilang bersamamu di manapun kamu menghilang.”
Diriwayatkan dari Mu’adz, dia berkata, “Aku tidak pernah melanggar sumpahku sejak masuk Islam.”
Diriwayatkan dari Sa’id bin Al Musayyib, dia berkata, “Mu’adz meninggal dunia dalam usia 33 atau 34 tahun.”
Dia meninggal pada tahun 18 Hijriyah. Semoga Allah meridhainya.

Berita tentang Najasyi


Dia bernama Ashhamah, Raja Habasyah (Ethopia), dan termasuk kelompok sahabat. Selain termasuk orang yang baik keislamannya, ia tidak pernah berhijrah dan tidak pernah melihat Rasulullah SAW. Dia seorang tabi’in di satu sisi dan seorang sahabat di sisi yang lain. 
Dia meninggal pada masa Nabi SAW masih hidup, dan umat Islam yang tidak menghadiri jenazahnya menshalatinya dengan shalat ghaib. Dalam hadits dijelaskan bahwa Rasulullah SAW hanya mengerjakan shalat ghaib untuk Najasyi, karena Najasyi meninggal di tengah-tengah komunitas Nasrani dan ketika itu tidak ada seorang pun umat Islam yang menshalatinya, karena para sahabat yang hijrah di tempatnya telah pulang dan hijrah ke Madinah pada waktu perang Khaibar.
Diriwayatkan dari Ummu Salamah, istri Nabi SAW, dia berkata, “Ketika kami singgah di negri Habasyah, kami tinggal bersama tetangga yang paling baik, yaitu Najasyi, yang beriman kepada agama kami. Kami menyembah Allah tanpa pernah diganggu dan tidak pernah mendengar sesuatu yang mengganggu kami. Ketika berita tentang masalah itu sampai kepada orang-orang Quraisy, mereka sepakat untuk mengutus dua pria yang kuat menemui Najasyi dan memberikan beberapa hadiah kepada Najasyi berupa perhiasan Makkah. Di antara hadiah yang paling menakjubkan yang mereka berikan kepadanya adalah kulit. Mereka mengumpulkan banyak kulit untuknya. Mereka tidak meninggalkan seorang pejabat kerajaan pun yang tidak diberi hadiah. Setelah itu mereka mengutus Abdullah bin Abu Rabi’ah bin Al Mughirah Al Makhzumi dan Amr bin Al Ash Ash-Shami dan mereka memberikan perintah kepada mereka seraya berkata, ‘Berilah kepada setiap pejabat hadiahnya masing-masing, kemudian minta agar meraka menyerahkan orang-orang Islam itu kepada kalian sebelum mereka sempat berbicara dengan Najasyi tentang mereka’. 
Mereka kemudian memberikan hadiah tersebut kepada Najasyi, sedangkan kami berada di sisi Najasyi seperti halnya berada di rumah yang paling bagus dan tetangga yang paling baik. Setiap pejabat pada saat itu diberi hadiah oleh mereka. Keduanya lalu berkata kepada Najasyi, ‘Wahai raja, ada beberapa orang bodoh dari kaum kami melarikan diri. Mereka meninggalkan agama kaum mereka dan tidak masuk ke dalam agamamu. Mereka datang dengan membawa agama baru yang kita tidak mengetahuinya dan begitu juga engkau. Kami telah diutus oleh para pembesar kaum mereka, dari nenek moyang, paman-paman mereka, dan kerabat mereka, agar mengembalikan orang-orang itu kepada mereka. Derajat mereka lebih tinggi daripada orang-orang itu dan mereka lebih mengetahui kekurangan mereka.’ Para utusan itu pun berkata kepada mereka, ‘Ya’. 
Tidak ada sesuatu yang menjadikan Najasyi marah kepada Abdullah dan Amr daripada mendengarkan perkataan mereka. 
Para pejabat di sekitarnya lalu berkata, ‘Mereka benar wahai raja, serahkan mereka saja kepada mereka berdua’. Najasyi pun marah, ia berkata, ‘Tidak, demi Allah, aku tidak akan menyerahkan mereka kepada kalian berdua dan aku tidak akan menyakiti kaum yang berkunjung ke tempatku serta memilihku daripada selainku hingga aku memanggil mereka dan bertanya kepada mereka’. 
Najasyi kemudian mengutus seseorang untuk memanggil sahabat-sahabat Rasulullah. Ketika utusan itu datang kepada mereka, mereka pun berkumpul, kemudian sebagian mereka berkata kepada yang lain, ‘Apa yang akan kalian katakan kepada raja jika kalian mendatanginya?’ Mereka berkata, ‘Akan kami katakan, “Demi Allah, kami tidak mengetahui dan Nabi kami SAW tidak menyuruh kami sesuatu, kecuali telah ada perintah seperti itu sebelumnya”.’ 
Ketika mereka datang kepada Najasyi dan Najasyi telah memanggil pejabat-pejabatnya, mereka membuka mushaf mereka di sekelilingnya dan bertanya kepada mereka. Najasyi lalu bertanya kepada mereka, ‘Agama apa yang kalian anut sehingga dapat memisahkan diri dari kaum kalian dan kalian tidak masuk ke dalam agama kami dan agama umat lain?’
Yang menjawab pertanyaan itu adalah Ja’far bin Abu Thalib, dia berkata kepadanya, ‘Wahai raja, dulu kami kaum yang bodoh, menyembah berhala, mengosumsi bangkai, memakan kotoran, memutus silaturrahim, berbuat buruk kepada tetangga, dan yang kuat memakan yang lemah. Kami berada dalam kondisi tersebut hingga Allah mengutus kepada kami seorang utusan dari bangsa kami yang kami sendiri tahu nasabnya, kejujurannya, amanahnya, dan kehati-hatiannya. Beliau mengajak kami mengesakan Allah dan menyembah-Nya serta melepas tuhan-tuhan yang disembah oleh nenek moyang kami berupa batu dan berhala. Beliau juga menyuruh kami berkata jujur, menunaikan amanat, menyambung silaturrahim, serta mencegah dari perbuatan haram dan pertumpahan darah. Beliau pun menyuruh kami menjauhi perbuatan keji, perkataan bohong, memakan harta anak yatim, dan menuduh wanita baik-baik berbuat zina. Selain itu, beliau menyuruh kami hanya menyembah Allah  dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu. Beliau menyuruh kami mengerjakan shalat, zakat, dan puasa’. —Ummu Salimah berkata: Dia lantas menyebutkan beberapa perintah dalam Islam—. Kami lalu membenarkannya, mengimaninya, serta mengikutinya. Tetapi kaum kami memusuhi kami dan menyiksa kami serta memfitnah agama kami agar kami kembali kepada penyembahan berhala dan bergumul kembali dengan kekejian seperti dulu. Ketika mereka menyiksa kami, menzhalimi kami, dan menghalangi kami, kami pun pergi ke negerimu ini dan memilih engkau. Kami senang berada dalam perlindunganmu dan kami berharap tidak lagi dizhalimi di sisimu wahai raja’.
Mendengar penjelasan itu, Najasyi berkata, ‘Apakah kamu hafal sedikit dari wahyu yang diturunkan Tuhanmu?’ Ja’far menjawab, ‘Ya’. Najasyi berkata, ‘Bacakanlah kepadaku!’ Ja’far pun membacakan firman Allah SWT, ‘Kaaf, haa, yaa, ain, shaad …’. Demi Allah, setelah mendengar lantunan ayat tersebut, Najasyi menangis hingga air matanya membasahi jenggotnya. Begitu juga para pejabatnya, hingga mereka lupa dengan shahifah-shahifah mereka. Setelah itu Najasyi berkata, ‘Sesungguhnya ini juga yang dibawa oleh Musa. Ini keluar dari satu sumber. Pergilah kalian berdua, demi Allah, aku tidak akan menyerahkan mereka kepada kalian selamanya dan tidak akan’.
Setelah keduanya keluar, Amr berkata, ‘Demi Allah, besok aku akan menceritakan aib mereka kepada raja, kemudian aku cabut mereka sampai ke akar-akarnya dan membinasakan mereka’. Abdullah bin Abu Rabi’ah yang ketika itu orang yang lebih bertakwa dibandingkan Amr, berkata, ‘Jangan lakukan itu, karena mereka masih memiliki kasih sayang, walaupun mereka berbeda dengan kita’. Amr lalu berkata, ‘Demi Allah, aku akan menceritakan kepada raja bahwa mereka mengira bahwa Isa adalah hamba’.
Keesokan harinya Amr menemui Najasyi dan berkata, ‘Wahai raja, mereka sebenarnya berkata tentang Isa bin Maryam dengan perkataan yang tidak senonoh, maka panggillah mereka dan tanyakan kepada mereka menganai pendapat mereka tentang Isa!’ 
Raja Najasyi pun memanggil mereka dan bertanya kepada mereka.
Setelah itu kaum berkumpul, kemudian mereka berkata, ‘Demi Allah, kami berkata tentang Isa seperti yang difirmankan oleh Allah sebelumnya’. Ketika mereka menghadap, raja bertanya kepada mereka, ‘Apa yang kalian katakan tentang Isa?’ Ja’far berkata kepada raja, ‘Kami katakan tentangnya seperti yang dijelaskan oleh Nabi kami, bahwa dia adalah hamba Allah, rasul-Nya, roh-Nya, dan kalimat-Nya, yang dititipkan kepada Maryam yang masih perawan dan belum pernah disentuh laki-laki’. Mendengar itu, Najasyi memukulkan tangannya ke tanah, lalu mengambil tongkat, lantas berkata, ‘Isa tidak akan memusuhi apa yang kamu katakan’. Sikap Najasyi sempat membuat para pejabatnya yang ada di sekitarnya ketakutan. Najasyi lalu berkata, ‘Demi Allah, jika kalian ketakutan, pergilah, karena kalian aman di negeriku. Barangsiapa mencela kalian maka dia akan didenda dan dihukum. Aku tidak senang walaupun aku memiliki segunung emas jika aku harus menyakiti seseorang di antara kalian. Kembalikan hadiah-hadiah itu kepada mereka berdua! Demi Allah, Allah tidak mengambil suap dariku ketika aku diberi kerajaan ini, maka apakah aku harus mengambil suap di dalamnya? Barangsiapa taat kepadaku maka aku akan taat kepada mereka’. 
Keduanya (Amr dan Abdullah) pun keluar dengan rasa malu, sedangkan hadiah-hadiah mereka dikembalikan seluruhnya, sementara kami tetap tinggal di istananya dengan nyaman dan aman. Demi Allah, ketika kami dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba ada seseorang menyerang kekuasaan Najasyi. Demi Allah, kami tidak pernah melihat kemarahan yang lebih dahsyat dari kemarahannya pada saat itu. 
Setelah itu datang seorang pria yang tidak mengetahui hak kami sebagaimana yang diketahui oleh Najasyi. Setelah itu Najasyi keluar dan mereka dibatasi dengan sungai Nil. Sahabat-sahabat Nabi SAW berkata, ‘Siapa orang yang mau keluar dan datang dengan membawa berita tentang peperangan mereka, setelah itu mengabarkannya kepada kita?’ Zubair berkata, ‘Aku’. Dia adalah orang yang paling muda usianya. Lalu mereka meniupkan tempat air untuk diletakkan di punggungnya. Setelah itu dia menyeberangi sungai Nil hingga keluar ke tempat pertempuran dan dia hadir. Kami berdoa kepada Allah agar Najasyi diberi kemenangan atas musuh-musuhnya dan tetap berkuasa di negerinya serta ditaati di Habasyah. Ketika di sisinya, kami seakan-akan tinggal di rumah yang paling baik, hingga kami datang kepada Rasulullah SAW di Makkah.”
Perkataan Ummu Salamah, “Hingga kami datang kepada Rasulullah SAW di Makkah,” adalah menurut dirinya sendiri, karena dia kembali kepada suaminya, Rasulullah SAW.
Di antara kebaikan Najasyi adalah bahwa Ummu Habibah, Ramlah binti Abu Sufyan, pada waktu perang Umawiyah, masuk Islam bersama suaminya, Ubaidullah bin Jahsyin Al Asadi. Keduanya hijrah ke Habasyah. Lalu Ramlah melahirkan Habibah, anak perempuan tiri Nabi SAW. Kemudian Ubaidullah terkena musibah karena dia tertarik kepada agama Nasrani sehingga memeluknya. Beberapa saat setelah itu, Ubaidullah meninggal di Habasyah. Ketika dia selesai menghabiskan masa iddah,101 Rasulullah SAW mengutus seseorang untuk melamarnya dan Ramlah pun menerimanya. Dalam hal ini Najasyi ikut campur dan beliau menyaksikan pernikahan Nabi SAW tersebut. Dia memberikan mahar atas nama Nabi SAW dari uangnya sendiri sebanyak empat ratus dinar. Lalu beliau mendapatkan darinya (Ramlah) sesuatu yang tidak diperolehnya dari Ummahatul Mukminin lainnya. Kemudian Najasyi mempersiapkannya.
Ketika Najasyi meninggal dunia, Nabi SAW bersabda kepada orang-orang, “Sesungguhnya saudara kalian telah meninggal dunia di negeri Habasyah.” Beliau lalu keluar bersama para sahabat lainnya menuju padang pasir dan menyuruh mereka untuk membuat shaf, kemudian melakukan shalat ghaib atas wafatnya Najasyi. 
Sebagian ulama menukil bahwa peristiwa tersebut terjadi pada bulan Rajab tahun 9 Hijriyah.

Ammar bin Yasir


Dia adalah Ibnu Amir bin Malik, dan bani Malik bin Udad dari Madzhij.
Dia dikenal sebagai seorang imam besar, Abu Al Yaqdzan Al Anasi Al Makki, pembantu bani Makhzum.
Ia orang yang pertama kali masuk Islam, dan pemimpin dalam perang Badar. 
Ibunya bernama Sumayyah, pembantu perempuan bani Makhzum, termasuk pembesar shahabiyat.
Ibnu Sa’ad berkata, “Orang tua Ammar, Yasir bin Amir, kedua saudaranya, Al Harits, dan Malik dari Yaman, datang ke Makkah untuk mencari saudara mereka. Kedua saudaranya kemudian pulang, sedangkan Yasir tetap tinggal. Dia lalu mengabdi kepada Abu Hudzaifah bin Al Mughirah bin Abdullah bin Amr bin Makhzum, lantas dinikahkan dengan seorang budak miliknya bernama Sumayyah binti Khubbath, hingga dikaruniai seorang putra bernama Ammar. Setelah memerdekakannya, tak lama kemudian Abu Hudzaifah meninggal. Ketika Allah menurunkan agama Islam, Ammar, kedua orang tuanya, dan saudaranya, Abdullah, masuk Islam.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Salimah, dia berkata, “Aku melihat Ammar pada waktu perang Shiffin, seperti seorang syaikh yang tenang dan berpostur tinggi. Sambil membawa tombak di tangannya untuk menyerang, dia berkata, ‘Sumpah, aku telah menggunakannya untuk berperang bersama Rasulullah sebanyak tiga kali, dan ini yang keempat. Jika mereka menyerang kami hingga memporak-porandakan barisan kami, maka kami sadar bahwa kami berada di jalan yang benar dan mereka berada di jalan yang salah’.”
Diriwayatkan dari Utsman, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda, 
“Bersabarlah seperti kesabaran keluarga Yasir, karena yang dijanjikan kepada kalian adalah surga.” 
Ada yang mengatakan bahwa sahabat Muhajirin yang pertama kali masuk Islam dari kalangan orang tua adalah Ammar dan Abu Bakar.
Abu Ubaidah bin Muhammad bin Ammar bin Yasir berkata, “Pada saat orang-orang musyrik mengambil Ammar, mereka bersikeras tidak akan melepaskannya kecuali dia mau mencela Rasulullah SAW dan menyebutkan bahwa tuhan-tuhan (berhala) mereka baik. Ketika Nabi SAW datang, beliau berkata, ‘Apa yang terjadi padamu?’ Dia menjawab, ‘Sangat buruk wahai Rasulullah. Demi Allah, aku tidak ditinggalkan kecuali setelah aku mencelamu dan menyebutkan tuhan-tuhan mereka baik’. Beliau lanjut bertanya, ‘Bagaimana kondisi hatimu ketika itu?’ Yasir menjawab, ‘Tetap memegang teguh keimanan’. Rasulullah SAW bersabda, ‘Jika mereka sudah pergi maka kembalilah’.”
Diriwayatkan dari Qatadah, dia mengatakan bahwa ayat إِلاّ مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِاْلإِيِمَانِ “Kecuali orang yang dipaksa sedangkan hatinya tetap memegang teguh keimanan” diturunkan dalam kasus Ammar bin Yasir.
Diriwayatkan dari Ali, dia berkata, “Ammar meminta izin kepada Nabi SAW seraya berkata, ‘Siapa?’ Dia menjawab, ‘Ammar’. Rasulullah SAW bersabda, ‘Selamat datang orang baik dan yang diberi kebaikan’.”
Diriwayatkan dari Amr bin Syurhabil, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda, 
“Ammar dipenuhi dengan keimanan hingga memenuhi ujung tulang mudanya.”
Diriwayatkan dari Hudzaifah secara marfu, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Ikutilah orang-orang sesudahku, yaitu Abu Bakar dan Umar, ikutilah petunjuk Ammar, serta berpeganglah pada janji Ibnu Ummi Abd.”
Diriwayatkan dari Khalid bin Walid, ia berkata, “Aku dan Ammar pernah berseteru dalam suatu masalah, dan aku bersikap berlebih-lebihan, hingga akhirnya Ammar melaporkanku kepada Rasulullah. Rasulullah lalu bersabda, ‘Barangsiapa memusuhi Ammar, maka Allah akan memusuhinya, dan barangsiapa membenci Ammar, maka Allah akan membencinya’. Setelah itu aku keluar, hingga tidak ada sesuatu yang lebih aku ridhai daripada Ammar. Lalu ketika aku bertemu dengannya, dia pun ridha kepadaku.
Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, dia berkata: Aku mendengar Nabi SAW bersabda, 
“Ibnu Sumayyah tidak pernah diminta memilih antara dua pilihan kecuali dia memilih yang paling ringan dari keduanya.”
Diriwayatkan dari Bilal bin Yahya, bahwa suatu ketika Hudzaifah datang dalam keadaan sakit berat, mendekati kematian. Lalu ada yang berkata kepadanya, “Utsman telah meninggal, apa yang kamu perintahkan kepada kami?” Dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Abu Al Yaqdzan berada dalam fitrah —sebanyak tiga kali— yang tidak akan ditinggalkannya hingga akhirnya dia menemui ajal atau karena usia lanjut’.”
Diriwayatkan dari Khaitsamah bin Abdurrahman, dia berkata: Aku pernah berkata kepada Abu Hurairah, “Riwayatkanlah hadits kepadaku!” Abu Hurairah berkata, “Kalian bertanya kepadaku, sementara di negeri kalian ada seorang ulama, sahabat Muhammad, dan orang yang lari dari syetan, yaitu Ammar bin Yasir?”
Diriwayatkan dari Abu Sa’id, dia berkata, “Rasulullah SAW menyuruh kami membangun masjid, maka kami memindahkan batu bata satu demi satu. Tetapi Ammar memindahkannya dua-dua, hingga menyebabkan kepalanya sakit. Sahabat-sahabatku menceritakan kepadaku dan aku tidak mendengarnya dari Rasulullah bahwa beliau ketika itu menggeleng-gelengkan kepala seraya bersabda, ‘Celaka kamu wahai Ibnu Sumayyah, kamu akan dibunuh oleh sekelompok orang yang jahat’.”
Khalid Al Hadzdza‘ berkata: Diriwayatkan dari Ikrimah, bahwa dia telah memperdengarkan kepada Abu Sa’id perkataan ini yang kalimatnya sebagai berikut, “Ibnu Sumayyah bakal celaka! Dia akan dibunuh oleh sekelompok orang jahat. Dia mengajak mereka ke surga namun mereka mengajaknya ke neraka.” 
Abu Sa’id berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari fitnah.”
Abdullah bin Abu Al Hudzail berkata, “Aku mendengar Ammar membeli makanan binatang (sejenis rumput kering) seharga satu dirham, lalu dia membawanya sendiri di atas punggungnya, padahal dia ketika itu Gubernur Kufah.”
Diriwayatkan dari Abdullah bin Ziyad, bahwa Ammar berkata, “Sesungguhnya ibu kami, yaitu Aisyah, telah memilih jalannya dan dia akan menjadi istri Rasulullah SAW di dunia dan di akhirat. Tetapi Allah menguji kami dengannya untuk mengatahui apakah kami taat kepada-Nya atau kepada Aisyah?”99
Diriwayatkan dari Abu Al Ghadiyah, dia berkata, “Aku pernah mendengar Ammar mencela Utsman, maka aku mengancamnya akan membunuhnya. Pada waktu perang Shiffin, Ammar memimpin pasukan Islam. Lalu ada yang mengatakan bahwa ini adalah Ammar, maka aku menusuknya di bagian lututnya hingga jatuh, lalu aku membunuhnya.” 
Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa Ammar mati terbunuh. Ketika Amr bin Al Ash diberitahu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Pembunuh dan penganiayanya masuk neraka’.”
Ammar meninggal pada usianya yang ke-93 tahun.
Menurut aku, perang Shiffin terjadi pada bulan Shafar dan sebagian terjadi pada bulan Rabiul Awal tahun 30 Hijriyah.
Diriwayatkan dari Abu Ishaq, dari Shilah bin Zufr, dari Ammar, dia berkata, “Tiga hal yang jika ada seluruhnya dalam diri seseorang maka sempurnalah imannya —atau dia mengatakan, di antara kesempurnaan iman—, yaitu: berinfak saat dalam keadaan sulit, menahan diri, dan mengucapkan salam kepada orang alim.”

Syaikh Abdul Qadir


Dia adalah Syaikh dan Imam yang alim, Zahid, Arif, dijadikan panutan, Syaikh  Islam, sumber ilmu para wali, pemelihara syariat, dia bernama Abu Muhammad, Abdul Qadir bin Abu Shalih Abdullah bin Junki Dausat Al Jaili Al Hanbali, Syaikh  Baghdad.
Lahir di Jailan130 pada tahun 471 H.
As-Sam’ani berkata, “Abdul Qadir -berasal dari Jailan- adalah seorang Imam dan Syaikh  madzhab Hanbali pada masanya, seorang fakih yang shalih, wara’, dermawan, banyak berzikir, senantiasa berpikir, mudah menangis. Beliau tinggal di Bab Al Azaj di suatu madrasah yang didirikan untuknya. Banyak orang berkunjung kepadanya, dia biasa keluar dan duduk bersama para sahabatnya, mereka berusaha mengkhatamkan Al Qur’an, kemudian dia menyampaikan yang sama sekali tidak ku pahami, dan yang lebih mengherankan adalah bahwa para sahabat tersebut mampu mengulang pelajaran yang telah disampaikan hingga seakan-akan mereka memahami benar apa yang disampaikan oleh karena perkataan dan penjelasannya seperti menyatu dengan mereka.”
Dari Muhammad bin Mahmud Al Maratibi, Aku mendengar Syaikh  Abu Bakar Al Imadi rahimahullah berkata, “Ketika aku membaca tentang ilmu kalam (ushuluddin) aku mendapati diriku dalam keraguan, dan aku berkata, ‘Sebaiknya aku mendatangi majelis Syaikh Abdul Qadir, dimana telah dimaklumi bahwa beliau bisa menjelaskan atas isyarat-isyarat, maka aku lantas menyimak perkataannya, beliau berkata, ‘Keyakinan kita adalah keyakinan para salaf shalih dan para sahabat.’ Aku lantas bertanya pada diriku: Apakah yang dia katakan telah disepakati? tiba-tiba saja beliau berkata dan berpaling ke arahku  dan mengulanginya, akupun berkata, ‘Sang pemberi nasihat berpaling kepadaku, beliau lalu berpaling kepadaku untuk ketiga kalinya dan berkata, ‘Hai Abu Bakar, beliau mengulang perkataannya dan berkata, ‘Bangkitlah, bapakmu telah datang. Padahal bapakku tidak hadir di tempat, akupun segera bangkit berdiri dan seketika bapakku datang’.”
Jamaluddin Yahya bin Ash-Shairfi berkata, “Aku mendengar Abu Al Baqa’ An-Nahawi berkata, Suatu kali aku menghadiri majelis Syaikh  Abdul Qadir, orang-orang yang hadir di sana melagukan bacaan di hadapannya, maka aku berkata pada diriku: Mengapa Syaikh  tidak melarang bacaan seperti ini? Tiba-tiba saja beliau berkata, Seseorang telah datang dan membaca beberapa bab dari kitab fikih tetapi dia mengingkarinya, akupun berkata pada diriku: Semoga yang dia maksud bukanlah diriku, dia lantas berkata, ‘Engkaulah yang aku maksud dengan perkataan itu.’ Akupun bertobat dalam hati atas penolakanku itu, tiba-tiba beliau berkata, ‘Allah telah menerima tobatmu’.”
Aku mendengar Imam Abu Al Abbas Ahmad bin Abdul Halim, Aku mendengar Syaikh  Izzuddin Al Farutsi, Aku mendengar Syaikh  kami Syihabuddin As-Sahrawardi berkata, “Suatu kali aku berniat untuk belajar tentang ilmu kalam (ushuluddin), maka aku berkata pada diriku: Aku akan meminta petunjuk Syaikh Abdul Qadir, maka aku mendatanginya, dan secara tiba-tiba sebelum aku berkata, beliau mengatakan, ‘Wahai Umar apa yang dimaksud dengan persiapan kubur, wahai Umar apa yang dimaksud dengan persiapan kubur’?”
Ibnu An-Najjar berkata, “Aku membaca tulisan Abu Bakar Abdullah bin Nashr bin Hamzah At-Taimi, aku mendengar Syaikh  Abdul Qadir berkata, ‘Suatu ketika pada masa sulit aku sedang menghadapi kesusahan sampai beberapa hari aku tidak memakan makanan, aku terlantar, maka aku suatu hari pergi ke daerah pinggiran dan aku mendapati orang-orang fakir telah lebih dulu mengalaminya, badanku lemah tidak kuasa untuk berdiri, maka aku memasuki suatu masjid dan duduk, hampir-hampir ajal menjemputku maka datanglah seorang pemuda yang tidak kukenal membawa roti dan daging panggang. Dia lalu duduk dan mulai makan, ketika dia mulai mengangkat sepotong rotinya hampir-hampir saja aku membuka mulutku, dia lalu menoleh dan melihat kepadaku, dia berkata, Dengan nama Allah (bismillah), akupun mengabaikannya, dia lalu membagi untukku maka aku memakan sepotong. Dia lantas bertanya, ‘Apa pekerjaanm? dan dari mana kamu datang?’ Aku menjawab, ‘Ahli fikih dari Jailan,’ dia berkata, ‘Akupun dari Jailan, apakah kamu bisa mengenalkan kepadaku seorang pemuda dari Jailan bernama Abdul Qadir, dikenal dengan panggilan Abu Abdillah Ash-Shumi’i Az-Zahid?’ Aku menjawab, ‘Akulah orangnya.’ Mendengar jawabanku dia terlihat bergemetar dan seketika berubah raut mukanya, dia berkata, ‘Demi Allah wahai saudaraku, aku tiba di Baghdad dengan sisa perbekalanku, aku lantas bertanya tentang dirimu tapi tidak seorangpun menunjukkan kepadaku hingga habislah perbekalanku, aku menetap di sana selama tiga hari dan aku tidak punya perbekalan lain selain dari hartamu, maka di hari yang keempat aku katakan, aku telah melampaui tiga hari dan dihalalkan bagiku memakan bangkai, maka akupun mengambil dari harta titipan milikmu untuk kubelanjakan roti dan daging panggang, semua ini baik, sesungguhnya makanan ini milikmu dan aku sebagai tamumu sekarang.’ Aku berkata, ‘Apa yang kau bawa itu?’ Dia menjawab, ‘Ibumu telah menitipkan kepadaku delapan dirham, demi Allah aku tidak mengkhianatimu sampai hari ini. Aku lantas menengkan dan menghiburnya dan aku memberinya sebagian dari titipan itu’.”
Ibnu An-Najjar berkata, “Abdullah bin Abu Al Hasan Al Jubba`i menulis untukku, dia berkata, ‘Syaikh  Abdul Qadir berkata kepadaku, ‘Ketika aku berada di suatu gurun untuk mempelajari ilmu fikih, di saat keadaanku sedang dalam kesulitan, seseorang yang tidak aku kenal berkata kepadaku, ‘Pinjamlah sejumlah harta yang akan membantumu dalam mendalami fikih!’ Aku menjawab, ‘Bagaimana mungkin aku meminjam sedangkan aku fakir yang tidak memiliki penghasilan?’ Dia berkata, ‘Pinjamlah, kami akan menanggungnya.’ Aku lantas mendatangi penjual makanan dan aku katakan, ‘Layanilah aku dengan syarat apabila Allah memberi kemudahan kepadaku, aku akan memberikan kepadamu dan jika aku mati maka aku terbebas dari pembayaran, engkau akan memberiku roti dan sayur (lalap) setiap hari’ , mendengar perkataanku dia menangis dan berkata, ‘Aku sepakat dengan keputusanmu. Maka aku meminta beberapa waktu darinya, aku merasa terdesak, aku menyangka dirinya berkata, Dia katakan kepadaku: Pergilah ke tempat ini, apapun yang engkau dapati di atas batu (tempat duduk) maka ambillah dan bayarkan kepada penjual makanan.
Al Jubba‘i berkata, “Syaikh  Abdul Qadir berkata kepadaku, ‘Suatu kali aku mendapat perintah dan larangan pada waktu tidur dan terjaga, kata-kata perintah itu terus terngiang dalam diriku dan berkumpul di pikiranku jika aku tidak katakan, hampir-hampir kata-kata itu mencekikku sampai aku tidak tahan lagi untuk menyembunyikan. Suatu ketika aku duduk bersama dua-tiga orang, kemudian orang-orang mulai mendengar apa yang aku katakan sampai mereka berkerumun ramai menghadiri majelis sekitar 70 ribu orang. Dia berkata, ‘Telah aku teliti (renungkan) setiap perbuatan, dan aku tidak mendapati perbuatan yang lebih mulia dari memberi makan. Seandainya seluruh isi dunia ini ada di genggamanku niscaya aku akan beri makan orang-orang yang kelaparan. Telapak tanganku kosong tidak ada sesuatu apapun, seandainya ada seribu dinar di tanganku, tidak akan lama harta itu ada dalam genggamanku’.”
Abdul Qadir berkata kepadaku, “Aku mengharap diriku di suatu gurun dan daratan seperti semula, tidak ada seorangpun yang mengenalku.” Lalu dia berkata, “Allah menghendaki datangnya manfaat dariku untuk manusia. Sudah sekian banyak orang yang memeluk Islam melalui tanganku lebih dari lima ratus orang, dan bertobat melalui diriku lebih dari seratus ribu orang, ini adalah kebaikan yang banyak.”
Beban yang ada pada diriku begitu berat yang apabila diletakkan di atas bukit niscaya akan tercerai-berai, maka aku berbaring di atas tanah dan berkata, “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, kemudian aku angkat kepalaku dan hilanglah beban itu dari penglihatanku.”
Abdul Qadir berkata, “Jika terlahir untukku seorang anak laki-laki aku akan mengambilnya di atas tanganku dan aku katakan: Ini hanyalah bangkai maka aku hilangkan dari hatiku (pikiranku), dan jika mati, bagiku kematiannya sama sekali tidak mempengaruhiku.”
Al Jubba‘i berkata, “Pada saat aku membaca kitab Al Hilyah karya Ibnu Nashir, hatiku bergetar dan aku katakan pada diriku, ‘Aku sebaiknya berhenti membacanya dan menyibukkan diri dengan ibadah. Maka aku shalat di belakang Syaikh Abdul Qadir. Ketika kami sedang duduk, dia menatapku seraya berkata, ‘Jika kamu hendak berhenti maka janganlah berhenti sampai kamu memahaminya, menimba ilmu dari para Syaikh dan berperilaku baik, jika tidak, maka kamu tidak akan memahaminya’.”
Diriwayatkan dari Abu Ats-Tsana’ An-Nahramalki, dia berkata, “Ada apa gerangan lalat mengerubutiku, padahal tidak terdapat padaku manisan dunia dan madu akhirat.”
Ahmad bin Zhafar bin Hubairah berkata, “Aku meminta ijin kepada kakekku untuk berkunjung ke syaikh  Abdul Qadir, dia lalu memberiku beberapa emas untuk kuserahkan kepadanya. Maka ketika Abdul Qadir turun dari mimbar aku sampaikan salam kepadanya, aku menahan diri untuk tidak menyerahkan emas kepadanya di depan kemurunan manusia, tiba-tiba beliau berkata, ‘Serahkan apa yang ada padamu, tidak ada kewajiban untukmu atas orang-orang, dan sampaikan salam kepada menteri’.”
Penulis kitab Mira‘at Az-Zaman berkata, “Waktu Diamnya Syaikh  Abdul Qadir lebih banyak dari perkataannya, dan dia berkata-kata atas isyarat-isyarat (firasat). Dia seorang yang memiliki reputasi besar dan sangat diterima, dia tidak keluar dari madrasahnya kecuali di hari jumat atau ke Ar-Ribath (menjaga perbatasan), sebagian besar penduduk Baghdad bertobat melalui tangannya, memeluk Islam, selalu mengatakan kebenaran di atas mimbar dan dia memiliki karamah yang tajam.
Aku katakan, “Tidak ada Syaikh  besar yang mempunyai reputasi dan karamah sebanyak Syaikh  Abdul Qadir tetapi sebagian besar darinya tidak benar dan sebagian yang lain terasa mustahil.”
Al Jubba‘i berkata, “Suatu kali Syaikh  Abdul Qadir berkata, ‘Badanmu adalah hijabmu dari dirimu, dan dirimu adalah hijabmu dari Tuhanmu’.”
Syaikh Abdul Qadir hidup selama 90 tahun, meninggal pada tahun 561. jenazahnya diiringi banyak manusia yang tidak terhitung, beliau dimakamkan di madrasahnya, semoga Allah SWT merahmatinya.
Secara umum, Syaikh  Abdul Qadir memiliki perawakan besar, dia juga memiliki beberapa kekurangan pada sebagian perkataan dan pengakuannya, hanya Allah yang mengetahui, dan sebagian yang lain termasuk perkataan yang dibuat-buat.

Ibnu Hubairah

Dia adalah seorang menteri yang sempurna, imam yang pandai lagi adil, penolong agama, kepercayaang Khalifah, Abu Al Muzhaffar Yahya bin Muhammad bin Hubairah, As-Syaibany, Ad-Duri Al Iraki Al Hanbali, seorang penulis buku.
Dia lahir pada tahun 499 H.
Ibnu Al Jauzi berkata, “Dia selalu berusaha mengikuti jalan yang benar, berhati-hati dari perbuatan zhalim, tidak memakai pakaian sutera, dia telah berjuang keras untuk mengangkat keagungan pemerintah, bertindak tegas terhadap kelompok yang berseberangan dengan beragam cara, mengatasi segala urusan kerajaan Saljuq, dia selalu membicarakan kenikmatan Allah SWT, dalam jabatan yang sedang dipegangnya, dia sering mengingat-ingat kefakiran masa lalunya. Dia berkata, “Suatu hari aku pernah menetap di Dijlah, waktu itu aku tidak mempunyai satu roti pun untuk bertahan hidup. Dia dikenal banyak mendatangi majlis para ulama dan orang-orang fakir, dan memberikan harta untuk mereka, setahun telah berlalu sedang dia mempunyai banyak hutang, dia berkata, ‘Aku sama sekali tidak berkewajiban membayar zakat.’ Jika memperoleh manfaat dari sebuah ilmu, maka dia akan berkata, ‘Fulan telah memberiku manfaat dengan ilmunya, dan aku telah memanfaatkannya arti sebuah hadits.’ Dia pernah berkata, Ibnu Al Jauzi telah memberiku manfaat, aku merasa malu, dia membuatkan majlis ilmu untukku di rumahnya setiap hari Jum’at, dengan mempersilakan yang lainnya untuk hadir mengikutinya. Sebagian orang fakir berulang kali membacakan ilmu di hadapannya, dan hal itu membuatnya takjub. 
Setiap hari setelah Ashar, dia dibacakan sebuah hadits, kemudian muncul seorang ulama fikih madzhab maliki, ia menyebutkan satu permasalahan, pendapatnya berbeda sendiri dengan seluruh yang hadir, sang menteri berkata, ‘Apakah engkau itu keledai! Tidakkah engkau lihat seluruh yang hadir berbeda pendapat denganmu?!’ Keesokan harinya, dia berkata kepada para jama’ah, Kemarin telah terjadi sesuatu padaku di mana orang kemarin berhak dan pantas mendapatkan uang, maka katakanlah kepadaku seperti yang aku katakan kepadanya, aku bukanlah siapa-siapa melainkan sama seperti kalian, tiba-tiba majlis bergemuruh dengan suara tangisan, dan ulama fikih kemarin meminta maaf. Dia berkata, Seharusnya aku yang meminta maaf, dia melanjutkan, ‘Lakukanlah qishash kepadaku, lakukanlah qishash kepadaku!’ dia terus berkata demikian sampai Yusuf Ad-Dimasyqi berkata, ‘Jika tidak ingin menjalankan qishash maka mintalah tebusan.’ Sang menteri berkata, ‘Baginya hukum demikian. Ulama fikih berkata, ‘Karuniamu kepadaku sudah banyak, maka hukum karunia apa yang masih tersisa untukku?’ Dia menjawab, ‘Ini harus engkau terima.’ Kemudian ia berkata, ‘Aku mempunyai hutang sejumlah seratus dinar,’ maka dia memberinya dua ratus dinar sambil berkata, ‘Seratus dinar untuk melunaskan tanggungannya, dan seratus dinar lagi untuk melunasi tanggunganku.’
Ibnu Al Jauzi berkata, ‘Ibnu Hubairah adalah menteri yang sangat menyesali perbuatan masa lalunya, juga menyesal dengan apa yang terjadi sekarang, dia pernah berkata kepadaku, ‘Dahulu kami memiliki sebuah masjid di kampung, di dalamnya terdapat pohon kurma yang menghasilkan seribu kati kurma. Kemudian aku katakan kepada Majduddin, Aku dan engkau sebaiknya tinggal di masjid tersebut, karena buah kurma itu sudah dapat mencukupi kita. Sekarang coba lihatlah apa yang telah terjadi pada diriku! 
Pada malam ketiga belas Jumada Al Ula, tahun 560 H, dia bangun pada waktu sahur, tiba-tiba dia muntah, maka datanglah dokter pribadinya Ibnu Rusyadah, ia meminumkannya sesuatu. Orang-orang berkata, “Ia telah meracuninya,” kemudian dia meninggal dunia. Setelah berlalu setengah tahun, dokter itu diberi minuman beracun, ia berkata, “Aku telah memberi minuman beracun, dan sekarang aku diberi minuman beracun, ia pun akhirnya mati.”
Aku melihat bekas-bekas di tubuh dan wajahnya yang menandakan bahwa dia memang meninggal karena diracuni. Jenazahnya dibawa ke masjid istana, dan orang-orang yang keluar mengiringi jenazahnya jumlahnya amat banyak, aku  belum pernah melihatnya. Tangisan orang banyak terjadi dimana-mana atas meninggalnya Ibnu Hubairah, karena kebaikan dan keadilan yang pernah dia lakukan. Para penyair juga meratapi dia dengan nyanyian sedih.”
Aku katakan, “Dia mengarang kitab Al Ifshah an ma’ani Ash-Shahah di dalamnya dia men-syarah kitab Shahihain Al Bukhari dan Muslim dalam sepuluh jilid. Dia juga menulis kitab Al Ibadat dengan madzhab imam Ahmad. Dia memiliki kumpulan bait-bait sya’ir, baik yang singkat maupun yang panjang, juga kitab tentang ilmu Khat/kaligrafi. Dia meringkas kitab Ishlah Al Manthiq karya Ibnu As-Sikkit.