An-Nashir Lidinillah


Ia adalah Khalifah Anu Al Abbas Ahmad bin Al Mustadhi‘ Al Hasyimi Al Abbasi Al Baghdadi.

Dilahirkan pada tahun 553 H.

Belum pernah satu orang pun yang memegang kekhilafahan sepanjang An-Nashir Lidinillah, tetapi khalifah dari Mesir yang bernama Al Mustanshir Al Ubaidi memerintah selama 60 tahun, dan khalifah Andalusia An-Nashir Al Marwani memerintah selama 50 tahun.

Abdul Lathif berkata, “An-Nashir adalah seorang pemuda yang masih belia, yang masih suka berada di jalan dan pasar pada malam hari, orang-orang sangat takut jika bertemu dengannya, ia menganut paham Rafidhiyah disebabkan anak sahabatnya, kemudian ia keluar dari Rafidhiyah ketika anak tersebut wafat, dan ia pun kembali kepada As-Sunnah.”

Sempat beberapa saat menghilang, lalu ketika muncul, ia menjadi pemuda yang luhur, dermawan, dan memiliki jiwa kepemimpinan.

Ibnu Asakir


Ia adalah Fakhruddin Abu Manshur Abdurrahman bin Muhammad bin Al Hasan, seorang syaikh, imam, ulama yang menjadi panutan, seorang mufti dan guru besar madzhab Syafi’i, ia berasal dari Damaskus.

Ia dilahirkan pada tahun 550 H.

Orang-orang tidak merasa bosan melihat kepadanya karena ia menyambut setiap orang dengan sambutan yang hangat, dengan wajah yang berseri-seri, dengan kelembutan serta kesahajaannya dalam berpakaian, lisannya tak pernah berhenti berdzikir, ia sering menyampaikan hadits dari atas An-Nasr.221

Abu Syamah berkata, “Aku banyak belajar darinya berbagai permasalahan, Raja memintanya untuk memegang jabatan sebagai hakim, tetapi Ibnu Asakir menolaknya, raja terus memintanya sampai malam-malam raja mendatanginya untuk membujuknya agar mau menjadi hakim, raja pun tidak kehabisan akal, ia menghidangkan berbagai macam makanan, tetapi Ibnu Asakir tetap menolaknya, rajapun semakin mendesaknya, maka Ibnu Asakir berkata kepada raja, ‘Aku telah ber-istikharah, dan Allah memberitahukanku siapa yang cocok untuk memegang jabatan sebagai hakim.” Kemudian ia kembali ke rumahnya yan kecil yang terletak di mihrab salah seorang sahabat, ia memang lebih banyak menghabisi waktu siangnya di dalam rumah, ketika fajar menyingsing, raja kembali mendatanginya tetapi ia tetap bersikeras pada penolakannya, namun ia menunjukkan kepada raja orang yang pantas dijadikan sebagai hakim, ia adalah Ibnu Harastani, dan raja pun mengangkatnya sebagai hakim.

Yunus bin Yusuf


Ia adalah Ibnu Musa’id Asy-Syaibani Al Mukhariqi Al Jazari, seorang yang zuhud, salah satu ulama terkemuka, guru besar kelompok Yunusiyyah.

Yunus bin Yusuf mempunyai ilmu menerawang, ia pun memiliki sajak dan syair, tetapi seakan-akan sebagian adalah suatu kebohongan, Allah SWT lebih mengetahui kebenarannya, seyogianya seorang muslim tidak tertipu dengan ucapan orang yang dapat menerawang ataupun perkataan orang yang mengetahui hal-hal ghaib, Ibnu Shaid dan rekan-rekannya sesama peramal mereka mengaku mempunyai berbagai kelebihan, mereka sesungguhnya adalah pendeta yang rela menderita kelaparan dan keterasingan tanpa ada dasar dan tauhid. Dengan penderitaan yang mereka lakukan mereka berkeyakinan bisa memiliki kemampuan menerawang dan mengetahui hal-hal ghaib, marilah kita meminta kepada Allah agar mempunyai keimanan orang-orang yang bertakwa, dan orang-orang yang ikhlas dalam beribadah, banyak dari syaikh-syaikh yang kita ragukan cara beribadah mereka, hanya kepada Allah lah kita memohon pertolongan.

Syaikh Yunus wafat pada tahun 619 H.

Sumber: an-Nubala

Ibnu Qudamah


Ia adalah Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Qudamah Al Maqdisi Al Jamma’ili Ad-Dimasyqi Ash-Shalihi Al Hanbali, seorang syaikh, imam yang menjadi panutan, seorang ulama dan mujtahid, juga seorang syaikh Islam pembina umat, ia adalah penulis kitab Al Mughni.

Dia dilahirkan di Jamma’il -suatu daerah di Nablus- pada tahun 541 H.

Ibnu Qudamah berhijrah bersama sanak famili dan keluarganya, pada usianya menginjak 10 tahun, ia telah hafal Al Qur‘an, ia pun seorang yang giat bekerja semenjak kecilnya, ia mempunyai tulisan yang sangat indah, dan ia juga merupakan ’lautan’ ilmu, serta ulama yang paling cerdas pada zamannya.

Ia adalah seorang ulama Syam, ia membaca Al Qur‘an dengan qira‘at (bacaan) Nafi’ dan Abu Amru.

Ibnu Rajih


Dia adalah Syihabuddin Abu Abdullah Muhammad bin Khalaf bin Rajih Al Maqdisi Al Jamma’ili Al Hanbali. Seorang syaikh, imam, ulama, ahli fikih, dan juga seorang ahli debat (diskusi).

Dia dilahirkan –menurut perkiraan- pada tahun 550 H.

Al Hafizh Adh-Dhiya berkata, “Ibnu Rajih merupakan satu-satunya orang yang memiliki keahlian berdebat, ia sering mendebat musuh-musuhnya, ia juga mendebat para pengikut madzhab Hanafi, mereka pun merasa sakit hati akibat perbuatannya.”

Ia banyak melakukan kebaikan dan shalat, mempunyai hati yang bersih, aku melihat para pengikut Jamma’il sangat memuliakannya, mereka tidak meragukan kewalian dan karomah Ibnu Rajih.

Al Malik Ar-Rahiim


Dia adalah sultan Badruddin Abu Al Fadhaa’il Lu’lu’ Al Armeni An-Nuuri Al Atabiki budak Sultan Nuruddin Arsalan Syah bin Sultan Izzuddin Mas’ud bin Maudud bin Zanki bin Aaqasqar sang penguasa Maushil.

Dia dahulunya adalah seorang budak yang paling disayangi oleh tuannya yaitu Nuruddin. Dia merupakan guru bagi keluarganya. Ketika Nuruddin meninggal dunia, dia diwarisi oleh anaknya yang bernama Al Qaahir. Pada saat kematian raja Al Adil sultan Al Qahir Izzuddin Mas’ud menyerahkan tampuk kekuasaan kepada putranya. Setelah itu dia meninggal dunia. Dalam keadaan yang demikian, Lu’lu’ mulai bangkit untuk mengatur pemerintahan. Sedangkan, sang sultan yang saat itu masih kecil bersama saudaranya hanyalah sebagai lambang saja. Dan, selanjutnya dia pun diangkat sebagai sultan pada tahun 630 H.

Ibnu Al Abbaar


Dia bernama Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah bin Abu Bakar Al Qudhaa’I Al Andalusi Al Balansi, nama panggilannya Al Abbaar atau Ibnu Al Abbaar. Dia merupakan seorang imam, alim, pandai berpidato, penghafal Al Qur’an, bagus bacaan Al Qur’anya dan kebanggaan para ulama.

Dia lahir pada tahun 595 H.

Abu Ja’far bin Az-Zubair berkata, “Dia merupakan ahli hadits yang cakap, pengumpul banyak hadits, teliti, mumpuni, penulis banyak hadits, pandai berpidato, ahli sastra serta hafal Al Qur’an.” 

Aku katakan, “Dia merupakan sosok yang mengetahui banyak tentang tokoh-tokoh di masanya. Ahli sejarah, memiliki perjalanan hidup yang tersanjung. Fashih lidahnya, terhormat jalan hidupnya, sangat menjunjung sopan santun dan merupakan salah satu dari orang yang memiliki makna yang dalam di setiap tulisannya. Dia juga mempunyai banyak karangan, di antaranya adalah Takmilah Ash-Shilah yang terdiri dari 3 jilid dan aku memilih di antaranya yang berkualitas.”

Al Mursi


Sosok yang mempunyai nama lengkap Dzu An-Nun Syarafuddin Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah bin Muhammad As-Sulami Al Mursi Al Andalusi ini, adalah seorang imam yang alim dan cakap, tauladan umat, ahli tafsir, ahli hadits juga ahli tata bahasa.

Dia lahir di Mursiyah pada sekitar permulaan tahun 570 H.

Dia menulis, membaca dan mengumpulkan dari kitab- kitab yang bermutu. Meskipun telah dibacakan kepadanya. Namun, dia tetap menjual barang miliknya hanya demi harga sebuah kitab. Dia rajin memperdalam ilmu agama, cerdas akalnya serta kuat agamanya.  

Ibnu An-Najjar berkata, “Dia adalah sosok yang zuhud, wara’, banyak ibadahnya, sederhana kehidupannya, terjaga kesuciannya, tidak banyak bergaul, disiplin, tinggi budi pekertinya, mulia dan penyayang. Sungguh.. Aku tidak pernah melihat manusia sesempurna dia.”

Dia pernah menyenandungkan syair kepadaku:

“Barangsiapa yang mengharapkan selamat, tiada lain hanya dengan mengikuti Rasulullah
 Ini adalah satu-satunya jalan yang lurus. sedangkan, yang lain adalah sesat dan tertolak”
 Ikutilah Al Qur’an dan As-Sunnah yang shahih. Niscaya kamu akan mendapatkan petunjuk
 Janganlah pernah bertanya kenapa dan bagaimana. Karena, itu hanya akan membutakan
 Agama adalah yang dibawa Rasul, Sahabat, Tabiin dan mereka yang istiqamah di jalannya”
Abu Syamah berkata, “Al Mursi adalah sosok yang suka seni, teliti, sering melaksanakan haji, sederhana kepribadiannya, menulis banyak buku serta diterima kehadiranya di pemerintahan.”
Yaqut berkata, “Al Mursi adalah salah satu  sastrawan di masaku. Dia mampu menguraikan kitab Al Mufashshal karya Az-Zamakhsyari. Dia bahkan sempat ta’jub dengan 70 bagian dari buku itu.”
Dia berkata,

“Aku katakan kepadamu tentang luapan cinta yang terpendam di hati ini, tidakkah ekor matamu itu sudi untuk memenuhi panggilanku.
Mata ini pun buta karena sakit yang disebabkan oleh kelopak mata yang kau miliki. dan, esok hari sakitku ini pun bertambah karena sakit yang menimpamu.”
Aku katakan, “Dia mempunyai bait-bait yang sangat dalam artinya sebagaimana di atas. Sungguh, dia adalah lautan ilmu pengetahuan.”

Aku pernah membaca catatan Al Kindi, bahwa kitab- kitab Al Mursi saat itu disimpan di Damaskus. Dan, Sultan menyuruh menjualnya. Akhirnya, Mereka pun setiap hari selasa harus memikul kitab-kitab ini ke Dar As-Sa’adah. Para ulama banyak yang hadir untuk ikut membelinya. Kitab-kitab itu pun akhirnya terjual setelah kurang lebih satu tahun lamanya. Di antara kitab-kitab itu terdapat beberapa di antaranya kitab yang sangat tinggi nilainya. Bahkan, terdapat pula tafsir yang saat itu belum diselesaikan oleh penulisnya. Pada akhirnya, Kitab-kitab ini mampu terjual dengan harga yang sangat mahal.
Al Mursi meninggal dunia pada tahun 655 H di Arisy (Mesir) ketika sedang menuju ke Damaskus.

Al Qummaini


Dia adalah Syaikh yang mempunyai nama lengkap Yusuf Al Qummaini, dia lahir di Damaskus. Sebagian orang mempunyai keyakinan lebih tentangnya. Hal ini, di karenakan kemampuannya menyingkap hal-hal gaib sebagaimana yang dilakukan oleh para peramal. Dia suka tinggal di tempat-tempat sampah dan kotor yang merupakan tempat para syetan. Dia juga suka berjalan tanpa alas kaki, menyapu sampah-sampah yang berserakan, membersihkan pakaianya yang kotor dengan air kencingnya, berjalan dengan terhuyung-huyung, lengan bajunya panjang, kepalanya terbuka, suka bermain dengan anak-anak kecil, pendiam dan sedikit tersenyum, tinggal di pembuangan air kamar mandi milik Nuruddin, hatinya adalah teman dialognya, mendengarkan hatinya adalah nalurinya, perkataannya melenakan setiap hati orang yang mendengarnya. Dia adalah wali Allah SWT menurut para penggikutnya.

Aku sering sekali melihat orang yang sepertinya. Mereka yang hilang akalnya dan terbelakang mentalnya. Mereka menyukai hal-hal najis, tidak shalat, tidak puasa, suka bicara yang kotor-kotor. Namun, mereka memiliki kemampuan untuk menyingkap hal-hal yang gaib. Demi Allah, ini adalah mirip dengan yang dimiliki oleh para rahib dan para tukang sihir. Demikian juga, yang dialami para penderita epilepsi, pemakan ular. mereka berani masuk kedalam api. Sedangkan mereka adalah para pelaku perbuatan keji. Sekali lagi, demi Allah!! mereka adalah mirip dengan Musailamah dan Al Aswad yang juga mampu menyingkap hal-hal gaib.
Dia meninggal dunia pada tahun 657 H.

Ibnu Taimiyah


Dia bernama Majdu Ad-Din Abu Al Barakat Abdu As- Salam bin Abdullah bin Al Khadhir Al Harrani bin Taimiyah. Dia adalah seorang imam, ahli fikih dan merupakan syaikh madzhab Hanbali. 

Dia lahir pada tahun 509 H.

Dia adalah sosok yang cakap, jenius dan luas pemahamannya. Dia menulis banyak buku dan sastra, menguasai ilmu Qira’ah Sab’ah serta referensi bagi para ulama fikih.

Aku mendengar syaikh Taqiyuddin Abu Al Abbas berkata, “Syaikh Jamaluddin bin Malik berkata, Allah SWT memudahkan ilmu fikih bagi syaikh Majd ini sebagaimana Dia melunakkan besi bagi Nabi Daud AS. Syaikh melanjutkan, kakekku adalah sosok yang memiliki kecerdasan yang luar biasa.” 

Al Burhaan Al Maraghi menceritakan bahwa dia pernah bertemu dengan syaikh Al Majd. Kemudian, dia menanyakan satu masalah. syaikh menjawab, “Masalah itu dapat dijawab melalui 60 sudut pandang. Yang pertama begini, yang kedua begini dan begitu seterusnya sehingga sampai yang keenam puluh. Lalu dia berkata, aku memberimu kebebasan untuk berdiskusi atas jawaban-jawabanku tadi.” Maka Al Burhan pun akhirnya tertunduk dan menghormati syaikh.

Syaikh Taqiyuddin berkata, “Aku bangga dengan kakekku, dia mampu mengahafal teks-teks buku dan beberapa madzhab yang ada pada saat itu. Dia juga mampu menjabarkan semua itu tanpa mengalami kesulitan sedikitpun.”

Imam Abdullah bin Taimiyah menceritakan bahwa kakeknya tumbuh dalam keadaan yatim. Kemudian, dia pergi menyertai anak pamannya ke Irak. Saat itu, dia berumur 13 tahun dia menginap dan mendengar anak pamannya itu mengulang-ulang banyak masalah tentang perbedaan madzhab. kemudian, dia menghafal semua yang didengarnya itu. Suatu hari Al Fakhr Isma’il berkata, “Apa yang dimiliki oleh anak kecil sesperti ini?” Maka Al Majd kecil pun bergegas dan berkata “Syaikh, aku sudah hafal pelajaran ini.” Kemudian, dia mulai memperdengarkannya. Syaikh sendiri akhirnya tertunduk dan mengakui kecerdasannya. Dia berkata, “Sungguh anak kecil ini kelak menjadi pembaharu Islam.”

Dia tinggal di Baghdad selama 6 tahun hanya untuk  menuntut illmu. Kemudian, dia kembali lagi ke kampungnya. Setelah itu, Dia berangkat yang kedua kalinya ke Baghdad. Hal ini dilakukan sebelum tahun 620 H. Di kota ini dia menghabiskan waktunya untuk menambah ilmu dan menulis beberapa kitab. Pekerjaan ini dia lakukan atas dorongan takwa, mengikuti sunnah dan keagungan ilmu.
Dia meninggal dunia di Harraan pada tahun 652 H.