Abu Musa Al Asy’ari


cara-global.blogspot.com: Dia bernama Abdullah bin Qais bin Sulaim.
Dia dikenal sebagai imam besar, sahabat Rasulullah SAW, dan ahli ilmu fikih yang mengajarkan Al Qur`an. 
Dia termasuk sahabat yang berguru kepada Nabi SAW, mengajar penduduk Bashrah membaca Al Qur an, dan memahamkan agama kepada mereka.


Dalam kitab Shahihain disebutkan hadits yang diriwayatkan dari Abu Burdah bin Abu Musa, dari ayahnya, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda, 

“Ya Allah, ampunilah dosa Abdullah bin Qais dan masukkanlah dia pada Hari Kiamat nanti di tempat yang mulia.”
Nabi SAW telah mengangkat Abdullah bin Qais dan Mu’adz sebagai Gubernur Zabid dan Adn.

Abu Musa Al Asy’ari juga pernah menjadi Gubernur Kufah dan Bashrah pada masa pemerintahan Umar. Dia ikut menghadapi malam-malam pembebasan perang Khaibar, berperang dan berjuang bersama Nabi SAW, serta menimba banyak ilmu dari beliau.

Sa’id bin Abdul Aziz berkata: Abu Yusuf, sekertaris Mu’awiyah, bercerita kepadaku bahwa Abu Musa Al Asy’ari pernah menghadap Mu’awiyah, lalu dia singgah di beberapa rumah di Damaskus. Pada malam harinya Mu’awiyah keluar untuk mendengarkan bacaannya.

Al Ijli berkata, “Umar pernah mengirim Abu Musa sebagai pemimpin Bashrah. Dia kemudian mengajari penduduk Bashrah membaca Al Qur`an dan memahamkan agama kepada mereka. Dia juga sahabat yang membebaskan kota Tustar.181 Tidak ada seorang sahabat pun yang suaranya lebih bagus darinya.”

Husain Al Muallim berkata: Aku mendengar Ibnu Buraidah berkata, “Al Asy’ari orangnya pendek, berjenggot tipis, dan gesit.”

Diriwayatkan dari Abu Musa, dia berkata, “Kami pernah keluar dari Yaman bersama 50 lebih kaumku. Sedangkan kami adalah tiga bersaudara, yaitu aku (Abu Musa), Abu Ruhm, dan Abu Amir. Perahu lalu membawa kami ke Najasyi, ternyata di sana ada Ja’far serta sahabat-sahabatnya. Dia lantas menyambut kami ketika penaklukkan kota Khaibar. Setelah itu Rasulullah SAW bersabda, ‘Kalian telah hijrah dua kali, yaitu hijrah ke Najasyi dan kepadaku’.”

Diriwayatkan dari Anas, dia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Besok sekelompok orang akan datang menemui kalian. Hati mereka lebih halus kepada Islam daripada kalian’. Orang-orang Asy’ari pun menyambut mereka, lalu mereka melantunkan syair,

Besok kami bertemu kekasih 
Muhammad dan golongannya.

Ketika mereka bertemu, mereka saling berjabat tangan, sehingga mulai sejak itu Sunnah berjabat tangan berlaku.”

Diriwayatkan dari Iyadh Al Asy’ari, dia berkata: Ketika ayat   “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya ….” (Qs. Al Maa`idah [5]: 57) turun, Nabi SAW bersabda, “Mereka adalah kaummu wahai Abu Musa.” Beliau kemudian memberikan isyarat kepadanya.

Diriwayatkan dari Abu Musa, dia berkata, “Ketika Rasulullah SAW pulang dari perang Hunain, beliau mengutus Abu Amir Al Asy’ari untuk mempimpin pasukan menuju Authas.182 Dia kemudian bertemu dengan Duraid bin Ash-Shimmah, lalu dia membunuhnya. Setelah itu Allah mengalahkan sahabat-sahabatnya. Tiba-tiba ada seorang pria menembak lutut Abu Amir dengan panah, namun dia berusaha untuk bertahan. Aku lalu bertanya, ‘Wahai Paman, siapa yang memanahmu?’ Dia lalu menunjuk kepada laki-laki tersebut. Aku pun segera mengejarnya. Ketika melihatku, dia melarikan diri, maka aku berkata kepadanya, ‘Apakah kamu tidak malu? Bukankah kamu orang Arab? Apakah kamu tidak berani?’ Dia menjawab, ‘Cukup!’ Akhirnya aku dan dia bertempur dan saling menghantam, hingga akhirnya aku berhasil membunuhnya. 

Setelah itu aku kembali ke Abu Amir. Aku lalu berkata, ‘Sungguh, Allah telah membunuh orang yang melukaimu’. Dia berkata, ‘Cabutlah anak panah ini!’ Aku pun mengambilnya dan darah mengucur deras dari lukanya. Dia lantas berkata, ‘Wahai anak pamanku, pergilah menemui Rasulullah SAW dan sampaikan salamku kepada beliau. Katakan kepada beliau agar memintakan ampun untukku!’ 
Selanjutnya Abu Amir memintaku agar menggantinya sebagai pemimpin pasukan. 

Setelah itu Abu Amir bertahan sebentar, lalu meninggal dunia. Ketika kami menghadap dan mengabarkan berita itu kepada Nabi SAW, beliau berwudhu kemudian mengangkat kedua tangannya dan berdoa, ‘Ya Allah, ampunilah hambamu, Abu Amir!’ sampai-sampai aku melihat kedua ketiak beliau yang putih. Beliau kemudian berdoa, ‘Ya Allah, jadikanlah dia pada Hari Kiamat kelak berada di atas makhluk-makhlukmu’. Kemudian aku berkata, ‘Untukku juga ya Rasulullah?’ Nabi SAW lantas menjawab, ‘Ya Allah, ampunilah dosa-dosa Abdullah bin Qais dan masukkanlah dia ke dalam golongan orang-orang yang mulia’.”

Diriwayatkan dari Abu Musa, dia berkata: Ketika aku bersama Rasulullah SAW di Ji’ranah, datanglah seorang pria Arab lalu berkata, “Tidakkah engkau ingin menepati janji kepadaku?” Rasulullah SAW menjawab, “Bergembiralah!” Dia berkata, “Engkau telah banyak memberi kabar gembira.” Mendengar itu, beliau menatapku dan Bilal, lalu bersabda, “Sesungguhnya pria ini telah menolak kabar gembira, maka terimalah kalian berdua.”  Keduanya lalu berkata, “Kami terima ya Rasulullah.” Setelah itu beliau menyuruh mengambil seember air, lalu beliau membasuh kedua tangan dan wajahnya, lantas bersabda, “Minumlah air ini lalu tumpahkan ke atas kepala dan di sebelah atas dada kalian.”  Mereka berdua pun melaksanakannya. 
Ummu Salamah kemudian memanggil mereka dari balik kain penghalang agar sudi menyisakan air tersebut kepadanya. Mereka berdua pun menyisakannya untuknya.

Diriwayatkan dari Abu Buraidah, dari ayahnya, dia berkata, “Pada suatu malam ketika aku keluar dari masjid, aku melihat Nabi SAW berdiri di pintu masjid. Ketika ada seorang pria yang sedang shalat, beliau berkata kepadaku, ‘Wahai Buraidah, apakah engkau melihat pria itu berbuat riya?’ Aku menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.’ Beliau bersabda, ‘Tetapi dia orang yang beriman dan bertobat. Allah telah memberinya suara yang bagus seperti suara Nabi Daud’. Setelah itu aku mendatanginya, ternyata dia Abu Musa. Aku lalu memberitahukan apa yang disampaikan Nabi SAW tentang dirinya.”

Diriwayatkan dari Malik bin Mighwal: Ibnu Buraidah menceritakan kepadaku dari ayahnya, dia berkata, “Suatu ketika Rasulullah SAW datang ke masjid saat aku sedang berada di pintu masjid. Beliau kemudian menggaet tanganku dan mengajak masuk masjid. Ternyata di dalamnya ada seorang pria yang sedang shalat dan berdoa, dia berkata,   ‘Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu, bahwa aku bersaksi Engkau adalah Allah, tidak ada tuhan selain Engkau yang Maha Esa, Tuhan tempat segala sesuatu bergantung, yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan serta tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya.’  Mendengar itu, Rasulullah SAW bersabda, ‘Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, dia telah meminta kepada Allah dengan menyebut nama-Nya yang agung. Dzat yang jika diminta akan memberi dan jika berdoa kepada-Nya akan mengabulkan’.

Ketika pria itu membaca Al Qur`an, beliau bersabda, ‘Sungguh, lelaki ini telah diberi suara yang bagus seperti suara Nabi Daud’. Aku lalu bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bolehkah aku memberitahukan dirinya tentang hal ini?’ Beliau menjawab, ‘Boleh.’  Aku pun memberitahukan hal itu kepadanya. Dia lantas berkata kepadaku, ‘Engkau tetap akan menjadi temanku’. Ternyata dia Abu Musa.”

Diriwayatkan dari Anas, dia berkata, “Pada suatu malam Abu Musa membaca Al Qur`an, hingga istri-istri Nabi SAW terbangun, lalu mereka mendengarkan bacaannya. Ketika tiba waktu Subuh, dia diberitahu tentang hal itu, maka Abu Musa berkata, ‘Andaikan aku tahu maka aku pasti lebih memperindahnya sehingga membuat pendengarnya semakin merindukan bacaanku’.”

Diriwayatkan dari Abu Al Bukhturi, dia berkata, “Kami pernah datang menemui Ali lalu bertanya tentang sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW, dia berkata, ‘Siapa saja yang ingin kalian tanyakan kepadaku?’ Kami menjawab, ‘Tentang Ibnu Mas’ud’. Dia berkata, ‘Dia memahami Al Qur`an dan Sunnah sampai selesai dan ilmunya cukup mendalam’. Aku lalu bertanya, ‘Bagaimana dengan Abu Musa?’ Dia menjawab, ‘Dia orang yang kuat agamanya, kemudian meninggal dalam keadaan seperti itu’. Aku bertanya lagi, ‘Bagaimana dengan Hudzaifah?’ Dia menjawab, ‘Dia sahabat yang paling tahu tentang orang-orang munafik’. Mereka lanjut bertanya, ‘Bagaiman dengan Salman?’ Dia menjawab, ‘Dia sahabat yang memahami ilmu dunia dan akhirat. Dia bagaikan lautan yang dasarnya tidak bisa digapai. Dia termasuk golongan Ahlul Bait’. Mereka bertanya lagi, ‘Bagaimana dengan Abu Dzar?’ Dia menjawab, ‘Dia orang yang menyadari ilmu yang tidak mampu dikuasainya’. Setelah itu dia ditanya tentang dirinya sendiri, lalu dia berkata, ‘Aku orang yang jika meminta akan diberi dan jika diam akan disapa (ditegur)’.”

Masruq berkata, “Hakim di kalangan sahabat ada enam, yaitu Umar, Ali, Ibnu Mas’ud, Ubai, Zaid, dan Abu Musa.”

Diriwayatkan dari Sufyan bin Sulaim, dia berkata, “Tidak ada seorang sahabat pun yang berani berfatwa di masjid pada zaman Rasulullah SAW selain beberapa orang, yaitu Umar, Ali, Mu’adz, dan Abu Musa.”
Diriwayatkan dari Ayub, dari Muhammad, dari Umar, dia berkata, “Di Syam ada 40 lelaki, yang apabila salah seorang dari merekan diserahkan urusan umat maka dia pasti bisa menjalankannya dengan baik. Oleh karena itu, diutuslah seorang delegasi kepada mereka. Tak lama kemudian sekelompok orang datang bersama Abu Musa. Lalu Umar berkata, ‘Aku mengirimmu kepada kaum yang syetan telah bermarkas di tengah-tengah mereka’. Abu Musa lalu menjawab, ‘Jangan mengutusku!’ Umar berkata, ‘Tapi di dalamnya ada jihad dan ribath’. Umar pun mengirimnya ke Bashrah.”

Diriwayatkan dari Anas, dia berkata, “Suatu ketika Al Asy’ari mengutusku menemui Umar, lalu Umar berkata kepadaku, ‘Bagaimana keadaan Al Asy’ari ketika kamu meninggalkannya?’ Aku menjawab, ‘Aku meninggalkannya ketika dia sedang mengajar Al Qur`an kepada orang-orang’. Setelah itu Umar berkata, ‘Memang dia sungguh cerdas! Kamu tidak perlu menyampaikan hal ini kepadanya’.”

Diriwayatkan dari Abu Salamah, dia berkata, “Ketika Umar duduk di samping Abu Musa, dia berkata kepada Abu Musa, ‘Ingatkanlah kami wahai Abu Musa!’ Abu Musa pun membacakan Al Qur`an kepadanya.”

Abu Ustman An-Nahdi berkata, “Aku tidak pernah mendengar seruling, tamborin, atau simbol yang lebih bagus daripada suara Abu Musa Al Asy’ari. Jika dia shalat bersama kami maka kami akan mengangguk-angguk karena suaranya yang sangat bagus ketika membaca surah Al Baqarah.”

Diriwayatkan dari Masruq, dia berkata, “Kami pernah keluar bersama Abu Musa dalam sebuah pertempuran. Menjelang malam kami masih berada di medan perang. Kemudian Abu Musa melaksanakan shalat, ia melantunkan bacaan dengan suara yang bagus. Dia berdoa, ‘Ya Allah, Engkau yang mengaruniakan keamanan, menyukai orang-orang beriman, Engkau Maha Memelihara, menyukai orang yang memelihara, Engkau Maha Sejahtera menyukai kesejahteraan’.”

Shalih bin Musa Ath-Thalhah meriwayatkan dari ayahnya, dia berkata, “Sebelum Al Asy’ari meninggal, dia telah melakukan ijtihad sekuat tenaga. Kemudian ada yang berkata kepadanya, ‘Alangkah baiknya jika engkau tidak terlalu memaksakan diri dan menyayangi diri sendiri?’ Dia menjawab, ‘Jika seekor kuda dikendarai dan sudah mendekati finish, maka dia akan mengeluarkan seluruh kemampuannya. Sementara sisa umurku lebih sedikit dari itu’.”

Diriwayatkan dari Anas, dia berkata, “Abu Musa mempunyai celana yang selalu dipakainya karena takut auratnya tersingkap.”

Yang pasti, orang-orang sesat dari kelompok Syi’ah sangat membenci Abu Musa karena dia tidak ikut berperang bersama Ali. Kemudian ketika Ali menetapkan hukum tahkim pada dirinya, untuk mencopot dirinya dari kekhalifahan, dan juga Mu’awiyah, dia bahkan menyarankan agar mengangkat Ibnu Umar. Akan tetapi situasi tidak mendukung.

Diriwayatkan dari Abu Musa, dia mengatakan bahwa Mu’awiyah pernah menulis surat kepadanya, dia berkata, “Amma ba’du, sungguh Amr bin Al Ash telah membai’atku seperti yang aku inginkan, dan jika kamu membai’atku sebagaimana halnya dia membai’atku, maka aku akan mengangkat salah seorang putramu sebagai pejabat di Kufah, sedangkan yang lain di Bashrah. Pintu akan selalu terbuka untukmu dan semua kebutuhanmu akan tercukupi. Aku juga telah menulis surat ini dengan tulisanku sendiri, maka tulislah kepadaku dengan tulisanmu sendiri.”

Abu Musa lalu membalas surat tersebut yang isinya, “Amma ba’du, engkau telah menulis surat kepadaku dalam masalah umat yang sangat penting, tapi apa yang akan aku katakan kepada Tuhanku saat aku menghadap-Nya? Aku tidak membutuhkan tawaranmu. Wassalam alaika.”

Abu Burdah berkata, “Ketika Mu’awiah menjabat sebagai khalifah, aku mendatanginya. Ketika itu pintunya tidak pernah terkunci bagiku dan jika aku mempunyai hajat, dia selalu dicukupi.”

Menurut aku, Abu Musa adalah sosok sahabat yang suka berpuasa, bangun malam, rabbani, ahli zahud, ahli ibadah, orang yang memadukan antara ilmu, amal, dan jihad, hatinya tulus, tidak tergoda dengan kekuasaan, dan tidak tertipu oleh dunia.

Beliau meninggal tahun 42 Hijriyah.

Diriwayatkan dari Abu Nadhrah, dia berkata: Umar pernah berkata kepada Abu Musa, “Kami rindu kepada Tuhan kami.” Dia lalu membaca Al Qur`an. Mereka berkata, “Mari shalat!” Dia menjawab, “Apakah kita tidak dalam keadaan shalat?”

Az-Zubair bin Al Khirrit meriwayatkan dari Abu Labid, dia berkata, “Bagi kami, perkataan Abu Musa bagaikan penjagal yang tidak pernah keliru membidik leher hewan yang akan disembelihnya.”

Diriwayatkan dari Abu Amr dan Asy-Syaibani, keduanya berkata, “Abu Musa berkata, ‘Jika hidungku dipenuhi dengan bau mulutku maka itu lebih aku sukai daripada dipenuhi dengan parfum wanita.”

Diriwayatkan dari Abdurrahman bin maula Ummu Burtsin, dia berkata, “Abu Musa Al Asy’ari dan Ziyad pernah menghadap Umar RA, lalu dia melihat di tangan Ziyad ada sebuah cincin emas, maka dia berkata, ‘Apakah kamu memakai cincin Emas? Adapun aku, cukup memakai cincin besi’. Umar berkata, ‘Itu lebih jelek atau lebih buruk. Barangsiapa memakai cincin maka dia hendaknya memakai cincin dari perak’.”

Abu Burdah berkata: Ayahku berkata, “Berilah aku segala sesuatu yang kamu tulis.” Dia lalu menghapusnya, kemudian berkata, ‘Hafalkan seperti yang aku hafal’.”

Diriwayatkan dari Al Hasan, dia berkata, “Ada dua pemimpin, yaitu Abu Musa dan Amr, yang satu mencari dunia, sedangkan yang satunya lagi mencari akhirat.”

Diriwayatkan dari Abu Mijlaz, dia mengatakan bahwa Abu Musa pernah berkata, “Aku pernah mandi di rumah yang gelap, lalu aku menutupi punggungku karena malu kepada Tuhanku.”

sumber: an-nubala