Ka'ab bin Malik

Dia adalah Ibnu Abu Ka’ab Al Anshari Al Khazraji. Dia pernah ikut dalam perjanjian Aqabah dan perang Uhud.

Ka’ab adalah seorang penyair, sahabat Rasulullah SAW, dan salah satu dari tiga sahabat yang berkhianat kepada Rasulullah SAW. Namun kemudian dia bertobat kepada Allah.  

Ibnu Abu Hatim berkata, “Ka’ab adalah penduduk Shuffah, lalu dia mengalami kebutaan pada masa pemerintahan Mu’awiyah.”

Abdurrahman bin Ka’ab menceritakan dari ayahnya, bahwa Ka’ab pernah berkata, “Ya Rasulullah, sungguh Allah telah menurunkan sesuatu yang tidak enak tentang para penyair.” Nabi SAW menjawab, “Sesungguhnya para mujahid itu berjihad dengan pedang dan lisannya. Demi Dzat yang jiwaku dalam tangan-Nya, sungguh kamu nampak seakan-akan telah melempar mereka dengan anak panah.” 

Ibnu Sirin berkata, “Ketika Ka’ab bercerita tentang perang, dia berkata, ‘Kami dulu melakukannya dan sekarang pun melakukannya’. Dia kemudian memunculkan rasa takut dalam hati musuh. Sedangkan Hassan biasa menceritakan aib dan hari-hari mereka, sementara Ibnu Rawahah adalah orang yang merubah mereka menjadi kafir.”

Selain itu, suku Daus masuk Islam lantaran mendengar senandung bait syair Ka’ab,

Kami telah menghabisi semua keraguan suku Tihamah
Dan Khaibar, kemudian kami menyatukan pedang
Kami memilih pedang itu, dan seandainya ia bisa berbicara
Maka dia akan memilih menyerang Daus atau Tsaqif204

Dia wafat tahun 40 Hijriyah.
Abdurrahman bin Abdullah bin Ka’ab meriwayatkan dari ayahnya, dia berkata: Aku mendengar Ka’ab berkata, “Aku tidak pernah ketinggalan dalam perang bersama Rasulullah SAW sampai dengan perang Tabuk, kecuali perang Badar dan aku lebih senang tidak ikut perang Badar daripada ketinggalan berba’iat pad malam Aqabah.205 Setiap kali Rasulullah SAW menghendaki peperangan, beliau mengobarkannya terlebih dahulu. Ketika perang Tabuk terjadi, Rasulullah SAW ingin agar umat Islam bersiap-siap semaksimal mungkin. Tetapi pada saat itu aku sedang kaya dan aku ingin menikmati kenyamanan berteduh dan buah-buahan yang lezat. Keinginanku tetap seperti itu hingga beliau pergi berperang. Setelah itu aku berkata, ‘Aku akan berangkat besok, karena aku akan membeli perlengkapan, kemudian menyusul mereka’. 

Aku pun pergi ke pasar, tetapi aku kemudian merasa letih, maka aku berkata, ‘Aku akan kembali besok’. Sayangnya, hal itu tidak aku lakukan, sehingga rasa berdosa yang semestinya menyelimuti diriku, tidak aku rasakan. Aku lantas berjalan-jalan di pasar Madinah. Tiba-tiba aku merasa sedih, karena di sana aku hanya melihat orang munafik atau orang lemah, sementara jumlah orang yang tidak ikut bersama Rasulullah SAW dalam perang Tabuk sekitar 80 orang.

Ketika sampai di Tabuk, Nabi SAW mengingatku lalu bertanya, ‘Apa yang dilakukan oleh Ka’ab?’ Seorang pria dari kaumku menjawab, ‘Ya Rasulullah, ia sedang berselimut sampai hanya ketiaknya yang terlihat’. Mendengar itu, Mu’adz berkata, ‘Jelek sekali ucapanmu. Demi Allah, kami hanya melihat kebaikan pada dirinya’.

Ketika Rasulullah SAW melihatku, beliau tersenyum sinis lalu bersabda, ‘Bukankah kamu telah menjual punggungmu?’ Aku menjawab, ‘Ya’. Setelah itu beliau bertanya lagi, ‘Apa yang menyebabkanmu tidak ikut berperang?’ Aku menjawab, ‘Demi Allah, seandainya yang di depanku adalah orang lain, tentu akan bisa menghindar dari kemarahannya dengan mencari alasan, karena aku ahli berdebat. Tetapi aku tahu wahai Nabiyullah, karena itu aku akan memberitahukan kepadamu yang sesungguhnya dan itu benar. Aku memohon ampunan kepada Allah di dalamnya...Demi Allah, tidak ada orang yang lebih tertekan dan lebih menyesal dari diriku ketika tidak bisa ikut berperang denganmu’. Nabi SAW lalu bersabda, ‘Tentang hal ini kamu benar, berdirilah sampai Allah memberikan keputusan tentang masalahmu’. Aku pun berdiri.

Menurut satu riwayat, Nabi SAW melarang para sahabat untuk bercakap-cakap dengan ketiga sahabat yang tidak ikut dalam perang Tabuk tersebut.206

Pada suatu hari aku (Ka’ab) keluar ke pasar tetapi tidak seorang pun yang mau berbicara denganku dan tidak seorang pun menyapaku, hingga orang-orang yang aku kenal, bahkan tembok dan bumi seakan-akan tidak mengenal diriku. Aku kemudian berkeliling, lalu datang ke masjid dan masuk ke dalamnya untuk menemui Rasulullah SAW. Aku memberi salam kepada beliau, untuk mengetahui apakah beliau menggerakkan kedua bibirnya untuk menjawab salam!

Sementara kedua sahabatku207 sangat sedih dan menangis siang malam hingga mereka tidak berani menampakkan wajah. Ketika aku berjalan di pasar, tiba-tiba ada seorang pria Nasrani datang membawa makanan, ia bertanya, ‘Siapa yang bernama Ka’ab?’ Mereka lalu menunjukku. Setelah itu ia menyerahkan surat dari Raja Ghasan yang berisi: Amma ba’du, aku mendapat berita bahwa sahabatmu sangat membencimu dan menjauhimu. Jangan bersedih dan jangan merasa hina! Datanglah kepada kami, niscaya kami akan mencukupimu’. Setelah membaca surat itu, aku langsung menyalakan api lalu membakarnya.

Tiba-tiba aku mendengar seruan dari puncak gunung Sala’,208 ‘Bergembiralah wahai Ka’ab bin Malik’. Aku pun langsung bersujud. Kemudian datang seorang pria berkuda dengan suara yang lebih cepat dari suara kudanya, dia menyampaikan kabar gembira meskipun dia masih berada di atas kudanya. Aku kemudian memberikan pakaianku kepadanya sebagai hadiah untuknya, sedangkan aku mengenakan pakaian yang lain.

Penerimaan tobat kami itu kemudian disampaikan kepada Nabi SAW saat sepertiga malam terakhir. Ummu Salamah lalu bertanya, ‘Ya Nabiyallah, tidakkah kita memberi kabar gembira kepada Ka’ab?’ Nabi SAW menjawab, ‘Tidak apa-apa’. Setelah itu aku datang menemui Nabi SAW yang ketika itu sedang duduk di masjid dan dikelilingi oleh para sahabat. Beliau kelihatan bersinar laksana sinar rembulan. Beliau lantas bersabda, ‘Bergembiralah wahai Ka’ab atas kebaikan yang datang kepadamu pada hari ini!’ Kemudian Nabi SAW membaca sebuah ayat kepada mereka,   ‘Sesungguhnya Allah telah menerima tobat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar, yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan...’ (Qs. At-Taubah [9]: 118)

Selain itu, turun juga ayat, ‘Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama-sama orang yang benar’. (Qs. At-Taubah [9]: 119).

Aku selanjutnya berkata, ‘Ya Rasulullah, di antara bentuk tobatku adalah, aku berjanji akan berbicara jujur dan menyedekahkan seluruh hartaku’. Mendengar itu, Nabi SAW bersabda, ‘Simpanlah sebagian hartamu, karena itu lebih baik bagimu …’.”

Dalam lafazh lain disebutkan, “Thalhah kemudian datang menemuiku sambil berlari-lari kecil, lalu menjabat tanganku dan mengucapkan selamat kepadaku. Oleh karena itu, aku tidak pernah lupa kepada Thalhah.”

sumber: an-nubala