Abu Hurairah

Dia adalah Abu Hurairah Ad-Dausi Al Yamani.

Ada banyak pendapat mengenai nama aslinya, dan yang paling kuat adalah Abdurrahman bin Shakhar. 

Gelarnya yang paling dikenal adalah Abu Hurairah (anak kucing). Abu Hurairah pernah berkata, “Aku dijuluki dengan sebutan Abu Hurairah karena ketika aku menemukan seekor anak kucing, aku memasukkannya ke dalam sakuku.”

Dia seorang imam yang faqih, mujtahid, Al Hafizh, sahabat Rasulullah SAW, dan sayyidul huffazh yang telah mendapat pengakuan.


Abu Hurairah telah banyak menimba ilmu yang baik dan berbarakah dari Nabi SAW, sehingga tidak ada orang yang dapat menyamai keluasan ilmunya. 

Al Bukhari mengatakan bahwa dia telah meriwayatkan kurang lebih 800 hadits dari Abu Hurairah.
Imam yang lain berkata, “Abu Hurairah datang ke Madinah lalu masuk Islam pada awal tahun 7 Hijriyah, yaitu ketika perang Khaibar.”

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata, “Nabi SAW pernah bertanya kepadaku, ‘Darimana asalmu?’ Aku menjawab, ‘Dari suku Daus’. Beliau lalu bersabda, ‘Aku tidak tahu bahwa masih ada seorang hamba yang baik dari suku Daus’.”

Abu Hurairah berkata, “Ketika Nabi SAW pergi ke Khaibar, aku hijrah ke Madinah. Lalu aku shalat Subuh di belakang Siba’ bin Urfuthah. Pada sujud pertama dia membaca surah Maryam dan pada sujud tarakhir membaca surah Al Muthaffifiin.”

Aku (Abu Hurairah) berkata, “Celakalah ayahku, karena setiap orang di negeri Azd mempunyai dua timbangan, satu timbangan untuk dirinya sendiri dan satunya lagi digunakan untuk mengelabui orang-orang.”

Abu Hurairah sempat menemani Nabi SAW selama 4 tahun.

Muhammad berkata, “Ketika aku berada bersama Abu Hurairah, dia mengeluarkan ingus, lalu dia mengusapnya dengan serbannya. Melihat itu, Abu Hurairah berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang telah menempelkan ingus Abu Hurairah di kain. Engkau telah melihatku ketika aku tersungkur di antara rumah Aisyah dan mimbar karena kelaparan, lalu seorang pria duduk di atas dadaku. Kemudian aku mengangkat kepalaku seraya berkata, ‘Aku tidak kesurupan seperti anggapanmu, tetapi aku kelaparan’.”  

Menurut aku, pria itu menganggap Abu Hurairah pingsan karena kesurupan, sehinga dia duduk di atas dadanya untuk me-ruqyah215 dirinya, atau yang seperti itu.

Abu Hurairah berkata, “Demi Allah, aku pernah bersandar ke tanah lantaran menahan lapar. Aku juga pernah mengganjal perutku untuk menahan rasa lapar. Lalu aku duduk di tengah jalan, tiba-tiba Abu Bakar lewat, lantas aku bertanya kepadanya tentang sebuah ayat dalam Al Qur`an, tetapi dia tidak memahami maksudku, kemudian dia pun berjalan dan tidak berbuat apa-apa. Setelah itu Umar lewat, tetapi dia juga tidak memahami maksudku. Akhirnya Rasulullah SAW lewat di dekatku lalu beliau melihat wajahku yang kelaparan, kemudian Nabi SAW memanggil, ‘Abu Hurairah!’ Aku menjawab, ‘Aku wahai Rasulullah’. Aku pun masuk ke rumah beliau secara bersamaan. Kemudian ketika menemukan susu dalam sebuah wadah, beliau bertanya, ‘Darimana kalian mendapatkan susu ini?’ Ada yang menjawab, ‘Dikirim oleh seseorang untukmu’. 

Setelah itu beliau berkata, ‘Wahai Abu Hurairah, temuilah ahli Shuffah’216, undanglah mereka.” Ahli Shuffah adalah tamu-tamu Islam, yang tidak memiliki kerabat dan harta. Jika Rasulullah SAW mendapat sedekah maka beliau memberikannya kepada ahli Shuffah dan tidak mengambil sedikit pun dari sedekah tersebut. Jika beliau mendapat hadiah maka beliau mengambilnya dan mengajak mereka untuk menikmatinya bersama-sama. Suatu hari aku disuruh mengantarkan sesuatu kepada ahli Shuffah, lalu aku berkata, ‘Aku berharap bisa mencicipi susu ini seteguk untuk menguatkan tubuhku, akan tetapi susu itu diberikan untuk ahli Shuffah’.

Aku lalu membawa susu itu kepada mereka. Mereka kemudian menyambutnya dengan senang hati. Ketika mereka duduk, beliau bersabda, ‘Ambillah wahai Abu Hurairah dan berikan kepada mereka!’ Aku pun memberikannya kepada seorang pria, lalu dia meminumnya hingga kenyang. Setelah itu aku memutar susu itu satu per satu hingga semuanya mendapat minum. Aku lalu memberikannya kepada Rasulullah SAW, lantas beliau mengangkat kepalanya sambil tersenyum kepadaku, beliau berkata, ‘Tinggal aku dan kamu yang belum minum’. Aku berkata, ‘Engkau benar wahai Rasulullah’. Beliau bersabda, ‘Minumlah!’ Aku pun meminumnya. Beliau bersabda lagi, ‘Minumlah!’ Aku pun meminumnya. Beliau tetap berkata, ‘Minumlah!’ Aku pun meminumnya, hingga akhirnya aku berkata kepada beliau, ‘Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak menemukan lagi sisanya!’ Beliau lantas mengambilnya lalu meminum sisanya.”

Yazid bin Abdurahman berkata: Abu Hurairah menceritakan kepadaku, “Demi Allah, Allah tidak menciptakan seorang mukmin yang belajar dariku kecuali dia akan mencintaiku.” Mendengar itu, aku berkata, “Bagaimana kamu tahu hal itu?” Abu Hurairah menjawab, “Dulu Ibuku orang musyrik, lalu aku mengajaknya memeluk Islam, tetapi dia menolak, kemudian pada suatu hari aku mengajaknya lagi, namun dia mengatakan sesuatu yang aku benci tentang Rasulullah SAW. Setelah itu aku menemui Rasulullah SAW sambil menangis. Aku lantas memberitahu beliau tentang hal itu dan meminta agar beliau mendoakan Ibuku. Beliau pun bersabda, ‘Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada ibu Abu Hurairah’. Kemudian aku keluar untuk menyampaikan kabar gembira tersebut kepada Ibuku. Ketika aku datang, pintunya tertutup, lalu aku mendengar gemericik air sedangkan ibuku mendengar suara langkah kakiku sehingga dia mengucapkan kalimat, ‘Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba serta rasul-Nya’.”

Selanjutnya aku kembali menemui Rasulullah SAW sambil menangis karena bahagia, sebagaimana halnya tadinya aku menangis karena sedih. Aku kemudian memberitahukan peristiwa itu kepada beliau, lalu aku berkata, “Berdoalah kepada Allah agar aku dan Ibuku dicintai orang-orang mukmin!” Beliau berkata, “Ya Allah, jadikanlah kedua hambamu ini, dia dan Ibunya dicintai hamba-hamba-Mu yang mukmin dan sebaliknya.”

Kemampuan menghafal Abu Hurairah yang luar biasa itu termasuk mukjizat kenabian.

Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidakkah kamu meminta harta rampasan ini sebagaimana yang diminta oleh sahabat-sahabatmu?” Aku menjawab, “Aku hanya memintamu agar engkau mengajariku apa yang telah diajarkan Allah kepadamu.” Kemudian beliau mencabut singa yang menempel di atas punggungku dan melepaskannya di antara aku dan beliau, hingga seakan-akan aku melihat semut merayap di harimau tersebut. Kemudian beliau mengajariku hadits-haditsnya hingga aku merasa puas dengannya.” Setelah itu beliau berkata, “Kumpulkan hadits-hadits itu dan jagalah!” Setelah itu aku tidak lupa satu huruf pun yang beliau sampaikan kepadaku.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata, “Kalian menyangka aku orang yang paling banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah SAW. Demi Allah, masalahnya adalah, aku dulu orang miskin. Aku kemudian menemani Rasulullah SAW supaya perutku bisa terisi. Pada suatu hari beliau menceritakan kepada kami, ‘Barangsiapa membentangkan bajunya hingga aku selesai menyampaikan perkataanku, kemudian dia mengikat bajunya itu, maka dia tidak akan lupa dengan apa yang didengar dariku selamanya’. Aku pun melakukannya. Demi Dzat yang mengutusnya dengan kebenaran, setelah itu aku tidak lupa dengan apa yang aku dengar dari beliau.”

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata, “Aku pernah menjaga dua bejana Rasulullah SAW, yang satu aku bagikan kepada orang-orang, sedangkan yang satunya lagi seandainya aku bagikan maka tenggorokannku akan terputus.”

Diriwayatkan dari Makhul, dia berkata, “Abu Hurairah berkata, ‘Abu Hurairah mempunyai kantong yang belum dibukanya, yaitu kantong ilmu’.”

Menurut aku, hal ini menunjukkan bahwa seseorang boleh menyembunyikan sebagian hadits yang dapat menyebarkan fitnah dalam masalah ushul, cabang, pujian, dan celaan. 

Namun hal itu tidak boleh dipraktekkan dalam hadits-hadits yang berkaitan dengan perkara halal dan haram, karena dapat menghilangkan petunjuk. Dalam kitab Shahih Al Bukhari disebutkan bahwa Ali RA berkata, “Sampaikan kepada orang-oang pembicaraan yang mereka tahu dan jangan sekali-kali menyampaikan pembicaraan yang asing bagi mereka. Apakah kalian suka jika mereka mendustakan Allah dan Rasul-Nya?” Begitu juga jika Abu Hurairah memberikan kantong ilmu yang satunya kepada orang-orang, tentu dia akan teraniaya, bahkan dibunuh. Tetapi seorang alim berhak melaksanakan ijtihad hingga dia bisa menyebarkan hadits guna menghidupkan Sunnah. Dengan demikian dia akan memperoleh apa yang diniatkan dan pahala jika dia salah dalam berijtihad.

Umar bin Ubaid Al Anshari berkata: Abu Az-Zu’aizi’ah —sekretaris Marwan— menceritakan kepadaku, “Marwan pernah mengirim surat kepada Abu Hurairah untuk menanyakan sesuatu hal kepadanya. Abu Hurairah lalu mendudukkanku di belakang tempat tidur, lantas aku menulis, hingga ketika sudah agak lama, dia memanggilnya lalu mendudukkannya di belakang hijab untuk bertanya kepadanya tentang surat itu. Abu Hurairah kemudian tidak menambahi, tidak mengurangi, tidak ada yang keliru didahulukan, dan tidak ada yang keliru diakhirkan.”

Menurut aku, sudah semestinya hafalan seperti itu.

Diriwayatkan dari Wahab bin Munabbih, dari saudaranya Hammam, dia berkata: Aku mendengar Abu Hurairah berkata, “Tidak seorang pun dari sahabat Rasulullah SAW yang yang memiliki hadits lebih banyak dariku kecuali Abdullah bin Amr, karena dia menulisnya sedangkan aku tidak menulisnya.”217

Diriwayatkan dari Ibnu Ajlan, bahwa Abu Hurairah pernah berkata, “Aku akan menyampaikan beberapa hadits yang jika aku sampaikan pada masa Umar tentu kepalaku akan dipenggal.”

Menurut aku, demikianlah Umar RA memperingatkan sahabat-sahabat yang lain, “Kurangilah meriwayatkan hadits Rasulullah SAW!” Larangan itu membuat para sahabat tidak berani menyebarkan hadits, dan memang begitulah pendapat Umar dan lainnya.

Demi Allah, apabila memperbanyak periwayatan hadits pada masa Umar dilarang, padahal mereka orang-orang yang jujur, adil, dan tidak ada sanad, maka bagaimana pendapat Anda tentang banyaknya riwayat hadits gharib218 dan munkar219 pada zaman sekarang, padahal sanadnya sangat panjang sehingga banyak hal yang meragukan dan peluang kesalahan menjadi sangat besar. Oleh larena itu, sudah semestinya orang-orang dilarang melakukan hal seperti itu. 

Alangkah baiknya jika mereka bisa menahan diri untuk tidak meriwayatkan hadits gharib dan dha’if, bahkan ada di antara mereka yang meriwayatkan hadits maudhu’220, bathil, dan mustahil dalam bidang ushul, furu’, zuhud, dan sebagainya. Semoga Allah memberikan ampunan kepada kita.

Orang yang meriwayatkan sebuah hadits padahal dia tahu hadits itu batil dan sengaja untuk menipu orang-orang mukmin, berarti dia telah berbuat zhalim kepada diri sendiri dan berbuat aniaya kepada Sunnah serta atsar (perkataan sahabat). Orang seperti itu harus diminta untuk bertobat dari perbuatan itu, dan jika dia mau bertobat maka tidak apa-apa, namun jika tidak mau maka dia termasuk orang fasik. Cukup baginya dosa menceritakan segala sesuatu yang didengar. Jika memang tidak tahu maka sebaiknya menahan diri dan meminta bantuan orang dalam menyeleksi riwayat-riwayatnya. Kita memohon ampunan kepada Allah, karena bencana sudah menyebar dan kelengahan telah menyeluruh, sehingga masuklah orang-orang yang cacat ke dalam kelompok para perawi hadits yang dijadikan panutan oleh orang-orang Islam, begitu juga dengan para ahli fikih dan ahli kalam.

Diriwayatkan dari Abu Anas Malik bin Abu Amir, dia berkata: Suatu ketika seorang pria menemui Thalhah bin Ubaidullah dan berkata, “Wahai Abu Muhammad, apakah kamu tidak melihat orang Yaman ini —yakni Abu Hurairah—? Apakah dia orang yang paling tahu tentang hadits Nabi SAW daripada kalian? Kami mendengar darinya sesuatu yang tidak kami dengar dari kalian atau apakah dia telah mengatakan sesuatu yang tidak pernah disampaikan oleh Nabi SAW?” Ditanya seperti itu, Abu Muhammad berkata, “Jika dia telah mendengar dari Rasulullah SAW apa yang tidak kita dengar, maka itu tidak aku ragukan, sehingga aku akan menceritakan hal itu kepadamu, karena kita semua adalah pembantu rumah beliau, penggembala, dan pekerja. Kami mendatangi Rasulullah SAW di suatu senja, kemudian datang seorang tamu yang miskin di depan pintu Rasululullah SAW. Tiba-tiba dia memberinya. Kami tidak meragukan bahwa beliau telah mendengar apa yang belum pernah kami dengar. Kamu tidak akan menemukan kebaikan pada orang yang mengatakan sesuatu yang tidak dikatakan beliau.”

Diriwayatkan dari Ibrahim, dia berkata, “Mereka hanya mengambil hadits Abu Hurairah yang berkaitan dengan surga atau neraka.”

Menurut aku, tindakan seperti itu tergolong boleh, tetapi kaum muslim dulu dan sekarang telah berhujjah dengan haditsnya lantaran hafalan, kemuliaan, ketelitian, dan pemahaman yang dimilikinya. Bahkan orang seperti Ibnu Abbas pernah berguru kepadanya, dia berkata, “Berfatwalah wahai Abu Hurairah!” 

Oleh karena itu, hadits yang dianggap paling shahih adalah: 

Pertama, hadits yang diriwayatkan dari jalur Az-Zuhri, dari Sa’id bin Al Musayyib, dari Abu Hurairah.

Kedua, hadits yang diriwayatkan dari Abu Az-Zinad, dari Al A’raj, dari Abu Hurairah. 

Ketiga, hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Aun, dari Ayub, dari Muhammad bin Sirin, dari Abu Hurairah.

Adakah orang yang memiliki kekuatan hafalan dan keluasan ilmu seperti yang dimiliki Abu Hurairah?

Diriwayatkan dari Abbas Al Jurairi, dia berkata: Aku mendengar Abu Utsman An-Nahdi berkata, “Aku pernah bertamu di rumah Abu Hurairah selama 7 hari. Ketika itu aku melihat dia, istri, dan pembantunya secara bergiliran bangun malam dan membaginya menjadi tiga bagian: yang ini shalat, kemudian membangunkan yang lain, dan jika yang satu shalat, dia membangunkan yang lain.”

Diriwayatkan dari Ikrimah, dia berkata, “Setiap hari Abu Hurairah bertasbih sebanyak 12.000 kali. Beliau berkata, ‘Aku membaca tasbih sesuai dengan tebusanku’.” 

Diriwayatkan dari Humaid bin Malik bin Hutsaim, dia berkata: Aku pernah duduk di samping Abu Hurairah sambil bersila di lantai, tiba-tiba beberapa orang datang lalu singgah di rumahnya. Abu Hurairah kemudian berkata, “Temuilah Ibuku, lalu katakan kepadanya bahwa Anakmu mengirim salam untukmu dan berkata, ‘Berilah kami makan!’.” 

Tak lama kemudian ibunya memberi 3 potong roti di piring, minyak, dan garam, lalu meletakkannya di atas kepalaku, lalu aku hidangkan kepada mereka. Ketika aku meletakkan roti itu di tengah-tengah mereka, Abu Hurairah mengucapkan takbir dan berkata, “Al Hamdulillah yang telah mngenyangkan kami dengan roti ini, setelah kami sebelumnya hanya makan kurma dan air.”

Tetapi mereka sama sekali tidak mencicipi makanan tersebut, dan ketika mereka pulang Abu Hurairah berkata, “Wahai Keponakanku, perlakukan kambingmu dengan baik, hapuslah ingusnya, rawatlah kebersihannya, dan shalatlah di antara kambing-kambing itu, karena dia hewan surga. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, hampir datang masa di tengah-tengah umat manusia, sekumpulan kambing lebih disukai pemiliknya daripada rumah Marwan.”

Diriwayatkan dari Maimun bin Maisarah, dia berkata, “Abu Hurairah setiap hari berteriak pada awal dan akhir siang, dia berkata, ‘Malam telah berlalu dan siang telah tiba, sementara keluarga Fir’aun dipanggang di atas api neraka, sehingga tidak ada seseorang pun yang mendengarnya kecuali akan memohon perlindungan kepada Allah’.”

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata, “Suatu hari Abu Hurairah shalat berjamaah dengan orang-orang. Ketika salam dia mengangkat suaranya dan berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan agama ini sebagai penegak dan menjadikan Abu Hurairah sebagai imam, setelah sebelumnya dia menjadi buruh bagi anaknya Ghazwan demi mengenyangkan perutnya dan beban yang ditanggungnya’.”

Diriwayatkan dari Mudharib bin Hazan, dia berkata, “Ketika aku berjalan saat tengah malam, ada seseorang laki-laki mengucapkan takbir sehingga untaku menghampirinya, lalu aku berkata, ‘Siapa ini?’ Orang itu menjawab, ‘Abu Hurairah’. Aku kemudian bertanya, ‘Mengapa kamu bertakbir?’ Dia menjawab, ‘Syukur’. Aku bertanya, ‘Atas apa?’ Dia menjawab, ‘Aku dulu buruh Bisrah binti Ghazwan, sebagai perawat tunggangannya, untuk mendapatkan makanan bagi perutku. Jika mereka naik, aku memberi minum mereka, dan jika mereka turun dari tunggangan, aku membantu mereka. Lalu Allah menikahkanku dengannya dan dia sekarang menjadi istriku’.”

Diriwayatkan dari Ayub, dari Umar, bahwa Umar pernah mengangkat Abu Hurairah sebagai penguasa di Bahrain, lalu Abu Hurairah menyetorkan 10.000 kepadanya, sehingga Umar berkata kepadanya, “Mengapa kamu lebih mengutamakan harta-harta ini wahai musuh Allah dan musuh Kitab Allah?”

Abu Hurairah menjawab, “Aku bukan musuh Allah dan bukan musuh Kitab-Nya, akan tetapi aku musuh dari musuh-musuh-Nya.” Umar berkata, “Dari mana kamu mendapatkan harta ini?” Aku menjawab, “Kuda yang beranak, budak yang mahal milikku, dan beberapa pemberian lainnya yang aku kumpulkan.” Tak lama kemudian Umar memerintahkan agar kekayaannya diperiksa, lalu ditemukan seperti yang dia katakan.

Setelah itu Umar memanggilnya untuk menjadikan dirinya sebagai wali, namun ia menolak, maka Umar berkata, “Apakah kamu benci pekerjaan padahal seseorang yang lebih baik darimu justru meminta pekerjaan, yaitu Yusuf AS!” Abu Hurairah berkata, “Yusuf adalah nabi putra seorang nabi dan cucu seorang nabi, sedangkan aku adalah Abu Hurairah bin Umaimah. Aku takut dengan tiga hal dan dua hal.” Umar berkata, “Mengapa kamu tidak mengatakannya langsung lima hal itu?” Abu Hurairah menjawab, “Aku takut jika aku berkata tanpa ilmu dan memberi keputusan tanpa kelembutan, aku akan dihukum, hartaku dirampas, dan kehormatanku diinjak-injak.”

Menurut aku, Abu Hurairah orang yang berbudi pekerti baik, barangkali dia juga menjadi wakil Marwan di Madinah.

Diriwayatkan dari Abu Rafi’, dia berkata, “Ketika Marwan meminta Abu Hurairah unyuk menjadi khalifah di Madinah, dia naik kuda beralaskan pelana dan di kepala kuda itu ada tali pemacu dari serabut, kemudian dia pergi hingga bertemu dengan seorang pria. Dia berkata, ‘Beri jalan! Pemimpin kita datang’.”

Ketika anak–anak kecil sedang bermain pada malam hari dengan mainan orang Arab, mereka tidak merasa Abu Hurairah hadir di tengah-tengah mereka. Dia kemudian menghentakkan kedua kakinya lalu mengagetkan anak-anak tersebut hingga mereka berlarian. 

Suatu ketika Abu Hurairah mengundangku makan malam, dia berkata, “Biarkan daging yang paling enak itu untuk amir (pemimpin).” Aku melihatnya, ternyata yang dimakan adalah tsaridah221 yang dicampur dengan minyak.

Hazam Al Quthni berkata: Aku melihat Hasan berkata, “Jika Abu Hurairah melihat jenazah, dia berkata, ‘Segera berangkatlah karena kami akan menyusul’.”

Yusuf bin Ali Zanjani Al Faqih berkata: Aku mendengar seorang ahli fikih, Abu Ishaq Fairuz Abadi, berkata, “Aku mendengar seorang qadhi, Abu Thayyib, berkata, ‘Ketika kami berada di majelis diskusi di masjid Al Mansur, tiba-tiba seorang pemuda Khurasan datang dan bertanya tentang masalah Musharrah222 dan meminta dalil. Dia lalu berdalil dengan hadits Abu Hurairah yang menerangkan tentang itu. Dia kemudian berkata —dia sendiri penganut mazhab Hanafi—, ‘Hadits Abu Hurairah itu tidak bisa diterima’. Belum selesai dia bicara, tiba-tiba ular besar jatuh dari atap masjid. Orang-orang pun melompat menghindarinya. Pemuda itu lari dan ular itu terus mengejarnya.
Setelah itu ada yang berkata kepada pemuda itu, ‘Bertobatlah, bertobatlah!’ Pemuda itu berkata, ‘Aku bertobat.’ Ular itu pun menghilang tanpa meninggalkan jejak.”  

Abu Hurairah adalah orang yang paling kuat hafalannya terhadap apa yang didengarnya dari Rasulullah SAW sampai kepada huruf-hurufnya. Dia telah meriwayatkan hadits-hadits Musharrah sesuai dengan lafazhnya dan kita wajib mengamalkannya, karena hadits itu berasal dari sumbernya.

Abu Hurairah pernah menjadi wali Umar di Bahrain dan beliau telah memberi fatwa tentang masalah wanita yang dithalak satu, kemudian ada orang lain menikah dengan wanita yang dithalak itu, kemudian setelah digauli dia dicerai lagi, lalu dinikahi oleh suaminya yang pertama. Apakah dia tetap pada thalak kedua, seperti pendapat Umar dan sahabat-sahabat lain, Imam Malik, Asy-Syafi’i, dan Ahmad, ataukah dia sudah terthalak tiga seperti yang dikatakan oleh Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Abu Hanifah, dan riwayat dari Umar, dengan alasan bahwa bergaulnya suami dengannya berarti membatalkan thalak di bawah tiga itu, sebagaimana juga membatalkan thalak tiga. Yang pertama didasarkan pada alasan bahwa berkumpulnya suami kedualah yang diharamkan dengan thalak tiga, dan inilah yang naik, sementara seorang wanita yang dithalak di bawah tiga tidak haram untuk dirujuk, sehingga menggaulinya tidak apa-apa. Dengan pendapat inilah Abu Hurairah berfatwa. Umar lalu berkata kepadanya, “Seandainya kamu berfatwa selainnya maka aku akan menghukummu.”

Abu Hurairah juga berfatwa dalam masalah-masalah yang rumit bersama ulama-ulama lain seperti Ibnu Abbas. Para sahabat dan orang-orang setelahnya telah mengamalkan hadits Abu Hurairah dalam banyak masalah yang bertentangan dengan qiyas, sebagaimana mereka semua mengamalkan haditsnya dari Nabi SAW, bahwa Nabi bersabda, “Wanita tidak boleh dinikahi bersama dengan bibi dari ayah atau ibunya.”

Abu Hanifah, Imam Asy-Syafi’i, dan yang lain juga mengamalkan hadits Abu Hurairah yang berbunyi, “Orang yang makan karena lupa hendaknya menyempurnakan puasanya.” Padahal menurut qiyas Abu Hanifah, mestinya dia membatalkan puasa, tetapi Abu Hanifah meninggalkan qiyasnya karena berpegang pada hadits Abu Hurairah.

Imam Malik juga mengamalkan hadits Abu Hurairah dalam hal membasuh bejana yang dijilat anjing sebanyak tujuh kali, padahal menurut qiyasnya, bejana tersebut tidak dibasuh karena bejana itu tetap suci.

Bahkan Abu Hanifah telah meninggalkan qiyas ketika dia menulis hadits Abu Hurairah dalam masalah tertawa terbahak-bahak, padahal hadits itu mursal.223

Abu Hurairah adalah orang yang kuat hafalannya. Kami tidak pernah tahu dia salah dalam meriwayatkan hadits.

Diriwayatkan dari Salim, bahwa dia mendengar Abu Hurairah berkata, “Suatu ketika beberapa orang yang sedang berihram bertanya kepadaku tentang daging binatang buruan yang dihadiahkan kepada mereka oleh orang-orang yang boleh berburu. Aku lalu menyuruh mereka memakannya. Kemudian aku bertemu Umar bin Khaththab, lantas aku memberitahunya tentang masalah itu. Dia kemudian berkata, ‘Seandainya kamu memberi fatwa selain itu maka aku akan memukulmu’.”

Ashim bin Muhammad meriwayatkan dari ayahnya, dia berkata, “Aku melihat Abu Hurairah keluar pada hari Jum’at, lalu dia memegang dua tiang mimbar sambil berdiri seraya berkata, ‘Abu Al Qasim SAW yang jujur dan dapat dipercaya menceritakan kepadaku...’ Dia kemudian meriwayatkan hadits hingga dia mendengar pintu khusus untuk keluarnya imam terbuka, lalu dia duduk.”

Diriwayatkan dari Salim bin Basyir, bahwa Abu Hurairah pernah menangis ketika sakit, lalu ketika dia ditanya, “Mengapa kamu menangis?” dia menjawab, “Aku tidak menangisi harta dunia kalian ini, tetapi aku menangis karena jauhnya perjalananku dan sedikitnya bekalku.  Aku akan berjalan di tangga dan tempat turunnya adalah surga atau neraka. Aku juga tidak tahu jalan yang akan aku lalui.”

Diriwayatkan dari Hisyam bin Urwah, dia berkata, “Aisyah dan Abu Hurairah meninggal dunia tahun 57 Hijriyah, dua tahun sebelum Mu’awiyah.” 

Dalam kitab Tadzkirah Al Huffazh dijelaskan bahwa Abu Hurairah adalah pemuka dalam Al Qur`an, Sunnah, dan fikih. 

Dalam Sunan An-Nasa`i dijelaskan bahwa Abu Hurairah pernah berdoa untuk dirinya, “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu agar diberi ilmu yang tidak lupa.” Nabi SAW lalu berkata, “Amin.”

Abu Hurairah memiliki tempat perbekalan yang selalu dibawanya kemanapun dia pergi.

Diriwayatkan Abu Hurairah, dia berkata, “Aku pernah mendatangi Rasulullah SAW dengan membawa beberapa kurma. Aku berkata, ‘Doakanlah kurma itu untukku ya Rasul, supaya berkah!’ Beliau pun menggenggamnya lalu mendoakannya, kemudian bersabda, ‘Ambillah dan jadikanlah sebagai bekal. Jika kamu ingin mengambilnya maka masukkan tanganmu dan ambillah, serta janganlah kamu mencecerkannya!’ Setelah itu aku membawa satu wasaq224 kurma itu untuk berjuang di jalan Allah, dan dengan kurma itu kami makan dan memberi makan. Bekal itu aku gantung di pinggangku dan tidak pernah kulepas dari pinggangku. Namun ketika Utsman terbunuh, kantong kurma tersebut terputus.

At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib.

Hadits yang telah diriwayatkan oleh Abu Hurairah berjumlah 5344.

sumber: siyar alam an-nubala